Ngaji Gus Baha
Gus Baha Menolak Diberi Voucer Umrah Saat Mengaji di Jatim, Kiai Kok Diatur-atur
K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha' yang lahir di Sarang 15 Maret 1970, Rembang,Jawa Tengah ini adalah salah satu ulama
Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
Gus Baha' secara terang-terangan mengkritik kiai yang sehari manggung sehari sebanyak tiga kali.Pastinya, dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik.
" Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam? Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan oranglain tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari," paparnya.
“Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya. Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab," tegasya.
Kata Gus baha' keilmuan, kealiman ini jangan habis jika tradisi pesantren tidka melakukan pengajian kitab kuning dan tidka membuka naskah-naskah kiai atau ulam-ulama milik NU sendiri.