Breaking News:

Ngaji Gus Baha

Gus Baha Menolak Diberi Voucer Umrah Saat Mengaji di Jatim, Kiai Kok Diatur-atur

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha' yang lahir di Sarang 15 Maret 1970, Rembang,Jawa Tengah ini adalah salah satu ulama

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
yoni Iskandar/Tribunjatim
Gus Baha dan Gus Firjaun (Wakil Bupati Jember Terpilih) saat membuka silsilah Bani Shiddiq Jember, seusai mengisi acara di Haul KH Achmad Shiddiq Jember 

Penulis : Yoni iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ceramah dan kajian soal Islam yang disampaikan oleh Gus Baha' sekarang semakin banyak dicari orang.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha' yang lahir di Sarang 15 Maret 1970 , Rembang, Jawa Tengah ini adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang pengajiannya sering viral dan menjadi trending di Youtube.

Gus Baha' dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Untuk itu Gus Baha' ingin tetap melanjutkan tradisi Pesantren, yakni membedah kitab kuning dan tidak asal bicara di depan jamaah atau peserta pengajian .

Menurut Gus Baha' saat ini tradisi mengaji di pesantren mulai menghilang.

“NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama,” kata KH Ahmad Bahauddin Nursalim saat mengaji.

Gus Baha ingi mengaji ala pesantren dan tidak diatur-atur, apalgi hanya bertujuan menghadirkanpejabat.

“Saya gak mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet,” tutur Gus Baha' dalam sebua pengajian yang didengarkan penulis diberbagai kesempatan.

Bahkan Gus Baha mengkritik, gelaran pengajian yang menghabiskan puluhan juta, bahkan ratusan juta, sesuai dengan panitia namun tidka menuruti keinginan ulama atai kiainya.

“Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau. Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya. Banyak yang datang minta pengajian umum, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalau kiai diatur-atur, kan ribet," kata Gus Baha'.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved