Ngaji Gus Baha
Gus Baha' : Para Kiai-kiai Top Masih Direpotkan Dengan Hukum Rokok
Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang.
Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
Penulis : Yoni iskandar | Editor : Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang .
Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling.
Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.
Pengajian Gus Baha' sekarang semakin digandrungi banyak orang, Penulis sendiri sering mengikuti pengajian beliau, baik secara langsung maupun melalui live streaming maupun Youtube.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha' yang lahir di Sarang 15 Maret 1970 , Rembang, Jawa Tengah ini adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang pengajiannya sering viral dan menjadi trending di Youtube.
Gus Baha’ memang salah seorang kiai yang nyentrik dan punya ciri khas dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama. Kejernihan dan kedalamannya dalam memahami agama menjadikan Gus Baha’ mampu menyederhanakan persoalan agama yang rumit dengan logika-logika sederhana, yang tentu saja mudah dipahami masyarakat tanpa mengurangi inti ajaran agama tersebut.
Gus Baha punya kalimat khas dna mudha dipahami orang awam.
Kiai satu ini sering kali menggoncang cara berpikir mainstrem masyarakat dalam memahami agama. Setiap kali membahas persoalan agama, utamanya hukum-hukum dalam peribadatan dan muamalat, tidak hanya menyodorkan barang jadi tapi juga proses dan logika terjadinya sebuah hukum.
Hal ini lantaran Gus Baha' mempunyai keilmuan yang komplit, mulai dari ilmu Alquran, Hadis, nahwu, shorf, balaghoh, mantiq dan khazanah bacaan kitab kuning yang amat luas.
• Gus Baha Menolak Diberi Voucer Umrah Saat Mengaji di Jatim, Kiai Kok Diatur-atur
• Pria Kaget Lihat Kelakuan Cewek Kenalannya di Kamar, Sudah Terlanjur Check In di Hotel, Lapor Polisi
• Sedang Naik Daun, Penjual Nasi Goreng Viral di Tulungagung Selalu Ditunggu Umpatannya oleh Pembeli
Ibarat pertanian, Gus Baha’ mengajarkan jama’ah untuk memahami bagaimana cara menanam padi hingga memasakknya menjadi nasi yang siap santap.
Gus Baha selalu bisa menyesuaikan diri dengan forum dan orang-orang yang sedang dihadapi. Seperti saat pengajian Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi, Gus Baha’ bercerita saat ditanya Kiai Kampung perihal hukum rokok.
"Kata orang yang mengharamkan rokok, kalau mengganggap rokok itu air kencingnya setan, kencingnya kapan saja tidak tahu. Makanya kata yang menghahalalkan rokok, ada ada saja itu hadist maudhu'. Ada setan kok kencing segala," kata Gus baha disambut tawa para jamaah yang mengaji.
Menurut Gus Baha' para kiai-kiai itu sudah pada direporkan dengan hukum rokok.
"Karena dua kelompok besar. Yang meghalalkan juga kelompok kiai-kiai besar (top) Mbah Mahruz Ali itu juga merokok, orang orang alim top juga banyak yang merokok. Orang alim-alim top, wali papan atas yang tidak senang rokok juga banyak,. Kamu pilih yang mana?," papar Gus Baha'.