Ribuan Hektare Lahan di TNMB di Kabupaten Jember Kritis

Sekitar 2.700 hektare lahan di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) kritis. Ribuan hektare lahan kritis itu berada di area penyangga TNMB di Jember

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Yoni Iskandar
Pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri dari wilayah barat, Kabupaten Jember. - Banyuwangibagus.com 

Reporter : Sri Wahyunik | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Sekitar 2.700 hektare lahan di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) kritis. Ribuan hektare lahan kritis itu berada di area penyangga TNMB di Kabupaten Jember.

Hal ini disampaikan oleh Dr Luh Putu Suciati, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember, yang melakukan penelitian di kawasan tersebut tahun 2017.

Menurut Suciati, tutupan lahan di kawasan TNMB berkurang. Hal itu membuat area tersebut kritis. Area lahan kritis itu membahayakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Mayang.

Hal itu pula yang menyebabkan debit air DAS Mayang tinggi saat hujan, karena ditambah air dari kawasan hulu yakni hutan TNMB tidak memiliki resapan. Sehingga air langsung turun dan jatuh ke Sungai Mayang.

“DAS Mayang itu wilayah hulunya di Meru Betiri. Dari sekian banyak lahan TNMB, luas lahan kritisnya sekitar 2.700 Ha dan yang sering terjadi adalah pembalakan liar oleh pihak-pihak luar sehingga itulah yang mengakibatkan terjadinya banjir,” ujar Suciati, Rabu (10/2/2021).

Ingat Imlek Ingat Gus Dur, Gus Dur Ngaji Ditinggal Naik Selinder ke Mojoagung

Nafsu Bu Guru Tak Terbendung, Nekat Rekam Aksi Mesumnya saat Ngajar, Murid-murid sampai Trauma

Bukan Ayu Ting Ting, Adit yang Duluan Batalkan Nikah, Ucapan Terakhir Buat WO Lemas: Sangat Sayang

Dia mengatakan, berkurangnya tutupan lahan tersebut mengancam sejumlah desa penyangga hutan TNMB di Jember seperti Desa Wonoasri, Curahnongko, dan Andongrejo, yang semuanya di Kecamatan Tempurejo. Sebab ketiga desa tersebut termasuk berada di area DAS Mayang.

Ketiga desa itu adalah kawasan rawan bencana banjir di Jember. Bahkan sejak Januari hingga Februari ini, banjir telah beberapa kali melanda Desa Curahnongko dan Wonoasri.

Luh Putu Suciati menambahkan, sebenarnya pemerintah telah membuat tanggul sungai untuk mengamankan tiga desa tersebut. Selain itu masyarakat di tiga desa penyangga tersebut telah membuat desa Tangguh Bencana, sehingga masyarakatnya telah siap dengan bencana dan banjir.

“Karena curah hujan yang tinggi, mengakibatkan tutupan lahan di atas tidak bisa mengimbangi curah hujan yang cukup tinggi, jadi memang Wonoasri tiap tahun selalu banjir,” ungkapnya,

Ia menjelaskan secara tipologi wilayah, Desa Wonoasri seperti mangkok. Jika curah hujan tinggi, air akan menggenang di desa tersebut sampai sungai bisa menampung dan mengalirkannya ke muara.

Suciati menyarankan, hal yang mestinya dilakukan adalah memperbaiki drainase, yaitu drainase yang mengalir ke muara.

“Hulunya ada di Gunung Meru sana. Gunung Meru sudah mulai gundul, masyarakat banyak yang menebang pohon mereka banyak menanam tanaman pangan seperti padi dan jagung, itukan kurang kuat akarnya,” katanya kepada TribunJatim.com.

Gunung Meru merupakan gugusan pegunungan di dalam kawasan TNMB.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Taman Nasional Meru Betiri Maman Surahman mengakui jika tutupan lahan di hutan area penyangga berkurang. Itu membuat hutan tidak bisa menahan laju air dan tidak bisa menekan banjir.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved