Breaking News:

Kisah Santi Marisa, Warga yang Ramai Jadi Perbincangan Ditanggapi Pemkot Surabaya

Pemkot merespons kabar keluarga Santi Marisa, yang beberapa hari lalu kisahnya ramai jadi perbincangan

TribunJatim.com/ Nuraini Faiq
Santi Marisa warga Pacarkeling Surabaya 

Reporter : Yusron Naufal Putra | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pemkot Surabaya merespons kabar keluarga Santi Marisa, yang beberapa hari lalu kisahnya ramai jadi perbincangan.

Petugas Pemkot menelusuri dan mendatangi rumah Santi yang berada di Jalan Gresikan, Pacar Kembang, Tambaksari.

Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara mengatakan, hasilnya, keluarga Santi Marisa tinggal di rumah warisan orang tuanya dan bukan kontrak.

"Kondisi rumahnya layak huni," kata Febri, dalam keterangan tertulis yang diterima TribunJatim.com

Di dalam rumah tersebut, Santi tinggal bersama suami dan dua anaknya. Santi merupakan ibu rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan sehari Rp 100 ribu.

Baca juga: Kampus Merdeka Belajar diinisiatori Lembaga Zakat, Kemendikbud: Peluang Baru

Menurut Febri, keluarga Santi sudah mendapatkan bantuan berupa Bantuan Sosial Tunai atau BST. Bahkan, BST itu sudah didapatkannya sejak awal hingga saat ini.

Kemudian juga menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS). 

“Saudara Santi Marisa memang tidak masuk dalam MBR, tapi suaminya yang bernama Ahmad Toha yang merupakan kepala rumah tangga sudah terdaftar dalam MBR, sehingga mendapatkan BST itu," terang Febri.

"Kalau sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat berupa BST, pasti tidak akan mendapatkan bantuan dari Pemkot, karena tidak boleh double,” sambungnya.

Sementara itu, Ribut Selamet, Ketua RT 03 Kelurahan Ploso, Kecamatan Tambaksari mengatakan, warganya tersebut memang sudah mendapatkan bantuan BST. 

“Kami di RT juga ada catatan di buku RT tentang siapa saja warga yang mendapatkan bantuan dari pemerintah, dan keluarga tersebut mendapatkan BST mulai awal hingga sekarang,” ucap Ribut Selamet.

Sebelumnya diberitakan, tangis Santi Marisa (33) pecah di ruang Fraksi PDIP DPRD Kota Surabaya, Senin (15/2/2021). Ibu dua anak itu tak bisa menahan sedih atas kondisi yang menimpa dirinya bersama keluarga.
Dampak pandemi corona benar-benar menghimpit keluarga pekerja serabutan ini pada situasi sangat sulit. Betapa tidak, untuk sekadar makan, keluarga Santi harus menggadaikan apa saja yang dia miliki.

"HP saya gadaikan Rp 350.000. KK dan KTP juga," ucap Santi menahan tangis.
Santi harus melakukannya lantaran tidak ada lagi yang bisa buat makan sehari-hari. Suaminya, biasa bekerja serabutan jadi kuli proyek. Selama pandemi tidak ada lagi pekerjaan.

--

Penulis: Yusron Naufal Putra
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved