Cerita Pilu Warga Lumajang Yang Rumahnya Hancur Kena Longsor
Mariyadi (65) warga Desa Sawaran Kulon, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur hanya bisa terduduk lemas.
Penulis: Tony Hermawan | Editor: Yoni Iskandar
Reporter : Tony Hermawan | Editor : Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Mariyadi (65) warga Desa Sawaran Kulon, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur hanya bisa terduduk lemas.
Setelah 30 tahun lebih menempati rumah itu bersama istri sekitika hancur lenyap hanya kurang dari satu jam setelah dilanda tanah longsor.
"Sudah hancur semua gak bisa ditempati lagi," ujarnya.
Mariyadi hanya bisa menahan kesedihan. Sesekali, ia terlihat terpaksa tak bisa menahan cucuran air mata saat kerabatnya datang di tempat pengungsian dan mengucap kata prihatin.
"Rumah itu banyak cerita kenangan, saya besarkan 3 anak ya di situ," ujarnya.
Kini Mariyadi sudah tak punya harta benda selain pakaian yang dikenakannya.
Baca juga: Banjir di Lumajang Mulai Surut, Warga Kembali ke Rumah dan Selamatkan Harta Benda
Baca juga: Teddy Terancam Bayar Balik Warisan Lina yang Digondol, Rizky Febian Punya Bukti Kuat: Kelarin Dulu
Baca juga: Lion Air Group Sediakan Layanan Rapid Antigen di Surabaya, Mulai Besok 1 Maret, Harganya Rp 95 Ribu
Seketika itu, ia sama sekali tak ingat menyelamatkan harta benda. Saat itu yang terpintas di pikirkannya hanya cara menyelamatkan istri.
"Istri saya itu jalannya susah karena kakinya. Akhirnya saya minta tolong warga buat paksa nuntun jalan ke dataran atas," katanya.
Namun, untung saat itu, ia masih sempat meranggai telepon genggam yang diletakkan di meja kamarnya.
Setelah dua jam berselang setelah longsor melululantahkan seluruh rumah warga, akhirnya ia bisa menelepon anak-anaknya yang sedang merantau di kota orang.
"Waktu saya mau lari itu istri bilang jangan lupa bawa handphone, untung saya turuti saya akhirnya bisa telfon anak saya satu-satu," ujarnya.
Untuk diketahui, dari 37 warga yang tinggal di desa itu, Mariyadi lah saksi pertama yang mengetahui detik-detik datangnya tanah longsor.
Saat itu, ia yang sedang tidur terbangun mendengar suara gemuruh. Merasa ada yang aneh, ia keluar rumah lewat pintu belakang. Ia terkejut kandangnya rusak dihantam batu besar dan lumpur.
Untung, kata Mariyadi, sebelum terjadi longsor ia diberi tanda-tanda alam itu. Kemungkinan jika tidak, semua warga bisa tewas tertimbun.
"Saya bersyukur gak apa-apa harta semua habis itu semua bisa dicari lagi yang semua selamat," pungkasnya kepada TribunJatim.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-lumajang-mariyadi-ditemui-kerabatnya-di-posko-pengungsian-balai-desa-sawaran-kulon.jpg)