Breaking News:

Selain Cuaca, Serbuan Lalat Buah dan Penyakit Daun Kering Juga Sebabkan Mahalnya Cabai Rawit

Paguyuban Petani Cabai Indonesia Jawa Timur menyebut, selain faktor utama cuaca, mahalnya harga cabai rawit di Jatim juga disebabkan karena serangan

Istimewa/TribunJatim.com
Ilustrasi tanaman cabai 

Reporter: Fikri Firmansyah | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Paguyuban Petani Cabai Indonesia Jawa Timur menyebut, selain faktor utama cuaca, mahalnya harga cabai rawit di Jatim juga disebabkan karena serangan lalat buah dan penyakit daun keriting.

Hal tersebut dikatakan langsung
Ketua Paguyuban Petani Cabai Indonesia Jawa Timur, Suyono.

"Faktor utama penyebab naiknya harga cabai ini memang karena kondisi cuaca/iklim yang ekstrim di beberapa sentra produksi serta adanya curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan banyak lahan tanam didataran rendah tergenang air dan berakibat pada kerusakan cabai," ujar pria yang akrab disapa Yono itu, Jumat (5/3/21)

Akan tetapi, ada juga penyebab lainnya, diantaranya kata Yono, yaitu terserang penyakit seperti daun keriting, buah rontok, serangan lalat buah dan penyakit lainnyalainnya. 

Baca juga: Polisi Sebut Ardi Tak Ada Itikad Baik Kembalikan Uang Salah Transfer, Pelapor Masih Karyawan BCA

"Kondisi cabai yang terserang hama dan kena penyakit itu hampir merata di semua sentra produksi cabai di Jawa Timur," sambung dia.

Yono menjelaskan, berkaca dari berbagai problem yang dialami itulah yang mengakibatkan produksi cabai rawit di sentra produksi di Kabupaten Kediri berdasarkan luas tanam mengalami penurunan sekitar 10 persen sampai dengan 15 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya.

Yono menambahkan, meski faktor utama kenaikan harga cabai adalah cuaca, pihaknya optimistis saat mendekati puasa nanti, kondisi bisa berangsur normal.

"Saya memprediksi bahwa pada pertengahan Maret sampai dengan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2021, harga cabai rawit mampu berangsur normal Kembali dan stabil," terangnya.

Asumsinya tersebut berdasarkan panen yang diperkirakan dilakukan pada bulan Maret hingga akhir Mei pada sentral produksi cabai di wilayah Kediri dan Mojokerto.

"Kemudian juga beberapa kabupaten lain seperti Blitar, Tuban, Malang, dan Probolinggo," tandasnya.

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved