Rela Menahan Lapar dan Tak Bisa Prpanjang STNK Demi Membantu Petani Tomat dan Ubi Bondowoso

Seperti yang dilakukan Endang Rahma Sofaatin (34) warga Jalan Mastrip, Dusun Karanggilih, Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso, Kabupaten Bondowoso.

Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Yoni Iskandar
danendra/Surya
Endang Rahma Sofaatin (34) tengah mengecek kondisi ubi Cilembu yang ia beli dari para petani, Jumat (12/3). 

Reporter : Danendra kusuma | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Tak perlu harus menunggu kaya raya dulu baru berbagi. Hal baik itu bisa dimulai dengan langkah kecil yang tentunya sesuai kemampuan masing-masing.

Seperti yang dilakukan Endang Rahma Sofaatin (34) warga Jalan Mastrip, Dusun Karanggilih, Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso, Kabupaten Bondowoso.

Dia tak bergelimang harta, tetapi semangatnya dalam bersedekah atau berbagi patut diacungi jempol.

Sedari awal pandemi Covid-19 melanda, Maret 2020 hingga sekarang, Rahma menyedekahkan rezekinya untuk membantu para petani tomat dan ubi Cilembu saat harga dua komoditas itu anjlok. Di samping itu juga sepi pembeli dan tengkulak.

Ubi dan tomat yang dia beli juga dibagikan kepada masyarakat sekitar, panti asuhan, pesantren dan panti jompo di Bondowoso.

Dana untuk membeli tomat dan ubi Cilembu bersumber dari tabungan hasil usaha pembuatan mebel rumahan Rahma bareng suaminya.

Di awal pandemi Covid-19, usaha mebel rumahan miliknya mandek selama dua bulan. Berjalannya waktu, saat ini mulai ada pembeli walaupun bisa dihitung dengan jari.

Rahma tak tahu pasti penghasilan tiap bulan yang didapat dari usaha mebel. Baginya, yang terpenting modal bisa kembali, mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari dan tabungan kegiatan bersedekah terisi.

Sementara pekerjaan lain Rahma, yakni mengelola Sekolah Alam Ar Rahmah Bondowoso jengan KB, TK, dan SD. Ia menjabat sebagai Direktur di sekolah yang konsentrasinya pada anak-anak broken home.

Sekolah itu baru berdiri 2 tahun. Walhasil izin opersionalnya belum keluar.

Otomotis, dirinya masih harus membiayai secara mandiri.

Belum lagi memamg banyak siswa yang tidak mampu.

"Untuk sekolah bisa dikatakan tidak ada pemasukan ke kami. Seluruh keuangan sekolah kami pasrahkan kepada kepala sekolah untuk mengelolanya. Itupun hanya cukup untuk gaji bulanan guru, kadang sering kurang. Sehingga kami bersedekah dari sisa uang atau tabungan usaha mebel," kata Ummik Rahma sapaan akrabnya kepada Surya, Jumat (12/3).

Ia menceritakan kisah getir yang dialami ketika berjuang dalam membantu petani ubi Cilembu. Beberapa bulan lalu, para petani ibu membutuhkan bantuan Rahma agar membeli hasil panen ubinya.

Baca juga: 26 Ton Ubi Cilembu Dibagikan Secara Gratis Oleh Warga Bondowoso Jatim

Baca juga: DBL Segera Kaji Kota Lanjutan Musim 2021

Baca juga: Gus Baha : Jangan Membuat Sulit Umat Dalam Menjalankan Syariat Islam

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved