Breaking News:

Lima Desa Tempati Urutan Teratas Kasus Stunting di Kota Batu, Simak Daftarnya di Sini

Dinas Kesehatan Kota Batu mencatat ada lima lokus kasus stunting di Kota Batu. Desa Giripurno menempati urutan teratas kasus stunting sebanyak 108

TRIBUNJATIM.COM/BENNI INDO
Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, Senin (1/2/2021). 

Reporter: Benni Indo | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, BATU - Dinas Kesehatan Kota Batu mencatat ada lima lokus kasus stunting di Kota Batu. Desa Giripurno menempati urutan teratas kasus stunting sebanyak 108 balita. Menyusul kemudian Desa Junrejo sebanyak 99 balita. Selanjutnya Kelurahan Sisir sebanyak 95 balita, Kelurahan Temas 92 balita dan Desa Gunungsari 87 balita. Rentang usia stunting terjadi pada balita dimulai dari 6 bulan  sampai 60 bulan.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengklaim prevalensi kasus stunting mengalami penurunan pada tahun 2020 lalu. Tahun 2020 kasus stunting berada di angka 14,8 dari total 9.412 balita yang ada. Sedangkan prevalensi kasus stunting pada tahun 2019 lalu 25,4 persen dari total 7.776 balita.

Pemkot Batu membentuk Tim Khusus penanganan stunting untuk melakukan intervensi gizi kepada ibu hamil dan balita hingga melakukan penataan lingkungan. Tim ini beranggotakan dinas terkait seperti Dinkes, DP3AP2KB, Dinas Sosial, Bidang Kesmas hingga Dinas PUPR. Selain itu melibatkan anggota PKK dan Dharma Wanita Kota Batu, ahli gizi, dokter anak, dan Pokja Penanggulangan Stunting Kota Batu.

Baca juga: Viral Jembatan Seharga Rp 200 Juta di Gresik, Kades Buka Suara: Ditambah Paku Bumi

Dewanti meminta agar fokus penanganan tidak hanya pada lima desa yang rawan stunting namun juga pada desa dan kelurahan yang memiliki potensi serupa.

“Saya memang meminta untuk percepatan penanganan stunting, karena hal ini menjadi prioritas presiden. Penanganan kesehatan, ekonomi, stunting tidak bisa diabaikan walaupun masa pandemi. 25% dari anak Kota Batu menjadi pertaruhan,” papar Dewanti.

Lebih lanjut, ia mengatakan perlu kolaborasi antar lini dalam upaya menekan kasus stunting. Sehingga tim yang dibentuk bisa menginventarisir permasalahan yang menjadi kendala dalam upaya penanganan.

Pemetaan masalah meliputi kesenjangan data serta keterbatasan anggaran. Terutama membongkar sekat egosentris yang selama ini mengakibatkan kurangnya sinergitas antara pihak dinas dengan organisasi terkait.

"Nantinya data terkait stunting yang sudah lengkap dan benar bisa diberikan kepada pihak DPRD agar bisa menjadi dasar untuk membuat program penanganan stunting," timpal dia.

Di sisi lain, Dewanti juga membahas alokasi anggaran yang bisa dipergunakan untuk penanganan stunting disamping dana APBD Kota Batu. Termasuk kemungkinan menggunakan dana cukai untuk penanganan perekonomian yang bisa berdampak pada terjadinya stunting. Selain itu juga bisa menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR), untuk membantu penanganan stunting di Kota Batu.

Halaman
12
Penulis: Benni Indo
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved