Ngaji Gus Baha
Gus Baha : Jangan Mudah Didikte Orang, Bisa Goblok Bareng-bareng
KH Ahmad Bahauddin Nur Salim atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Baha, sejak kecil sudah mendapat ilmu dan hafalan Al Quran dari ayahnya, KH Nur Sal
Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
Penulis : YonI Iskandar | Editor : Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - KH Ahmad Bahauddin Nur Salim atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Baha, sejak kecil sudah mendapat ilmu dan hafalan Al Quran dari ayahnya, KH Nur Salim Al-Hafidz.
Maka tidak heran apabila Gus Baha menjadi ahli tafsir Al Quran. Sehingga sangat diidolakan anak-anak muda atau yang biasa disebut kaum milenial.
Gus Baha merupakan putra dari seorang ulama pakar Al Qur’an dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA yang bernama KH Nursalim al-Hafizh dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah.
Gus Baha atau pemilik nama lengkap KH Ahmad Bahauddin Nursalim yang menjadi idola masyarakat, dan ceramahnya menjadi buruan para netizen terutama di YouTube mengingatkan agar kita tidak mudah didikte orang.
"Problem kita sekarang ini biasa didikte orang bodoh," ucapnya dalam acara Ngaji Bareng bertema "Meneguhkan Islam Rahmatan Lil Alamin".
Santri kesayangan KH Maimoen Zubair tersebut menjelaskan, tentang g seorang ulama yang di-bully oleh anak muda. Anak muda itu sengaja memanggil ulama tersebut untuk datang ke rumahnya. Setelah si ulama datang, ia menyuruh sang ulama kembali karena tak membutuhkannya.
Baca juga: Gus Baha : Tidak Semua Manusia Akan Diaudit Hisap Saat di Akhirat Nanti
Baca juga: Gus Baha Pernah Merasakan Diejek, Dibully : Perih Sungguh
Baca juga: Sarang Burung Walet, Harta Karun Tersembunyi Jatim Senilai Triliunan Rupiah
"Lalu, setelah ulama pulang dipanggilnya lagi ke rumah anak muda tersebut. Namun disuruhnya pulang lagi. Begitu terus sampai 3 kali," papar Gus Baha.
Dipermainkan seperti itu, imbuh Gus Baha, ulama tersebut tidak marah, ia tetap santai dan riang. Tatkala ditanya mengapa ia tak marah, ulama tersebut menjawab dirinya hanya senang mengikuti perintah Allah, yaitu memuliakan tetangga.
"Dengan tidak marah, sang ulama tidak membiarkan dirinya didikte oleh anak muda tersebut. Selain itu, dirinya juga tetap berbuat baik dengan orang yang berbuat buruk kepadanya. Si pemuda lalu menangis meminta maaf. Problem kita kekinian adalah wong pinter, wong bodo, podo-podo biso didikte oleh sekelilingnya," imbuhnya.
Menurut Gus Baha, soal agama, hendaknya kita menyambung orang yang memutuskan karena dengan demikian kita hanya didikte oleh Allah SWT, bukan didikte oleh hukum sosial.
"Selama ini, kebanyakan orang hanya berbuat baik kepada orang yang baik terhadap kita. Berbuat baik sama orang yang jahat dengan kamu itu baru luar biasa," tuturnya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah juga bersabda, "Kamu jangan jadi orang yang mudah diombang-ambingkan oleh orang di sekeliling kamu." Nabi sendiri dengan orang munafik sangat sabar meskipun ia tahu orang tersebut munafik. Nah, kita sebaiknya berlatih seperti itu sehingga tidak mudah didikte," kara Gus Baha.
"Kamu mengatakan jika orang baik ke saya, saya akan baik, jika orang buruk ke saya, saya juga akan membalas buruk, itu namanya Anda didikte. Berkomitmenlah kamu berbuat baik meskipun orang lain berbuat buruk," papar Gus Baha.
Menurut Kiai kelahiran Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah menjelaskan, bahwa logika sosialnya, apabila Indonesia memiliki 1000 kiai dan 1000 profesor yang ingin membenahi Indonesia. Nah, rata-rata, orang awam itu semaunya sendiri. Lalu, mereka mendikte kita dengan perilakunya yang tidak simpati dan menjengkelkan.
"Terus 1000 profesor dan 1000 kiai ini ikut jengkel, itu kita kira-kira cari solusi opo goblok bareng? Goblok bareng!" sambung pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA.
berita tentang Gus Baha