Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Ngaji Gus Baha

Gus Baha : Umat Muslim Harus Yakin Masuk Surga, Ini Kuncinya

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
yoni Iskandar/Tribunjatim
Gus Baha saat bersama Gus Firjoun Wakil Bupati Jember terpilih 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Gus Baha dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar Al-Qur'an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, KH Maimoen Zubair.

Gus Baha kali ini menjelaskan soal hidup bahagia di dunia dan akhirat. Gus baha menjelaskan optimisme tingkat tinggi. Dengan enteng dan riang Gus Baha mengatakan hal yang berkaitan dengan optimisme yang banyak terlupakan.

Misalnya, keyakinan atau optimis terhadap ibadah yang kita jalankan pasti akan diterima oleh Allah, Gus Baha’ dengan ringan dan yakin bahwa sebagai hamba kita harus mantap salat kita diterima oleh Allah, karena ibadah kita di hadapan Allah Dzat yang Maha segalanya itu bukan apa-apa, adalah persoalan remeh dan enteng bagi Allah Swt untuk menerima ibadah hamba-Nya apalagi jika sudah berusaha meniatkannya untuk meraih ridho-Nya semata. Berdasarkan ungkapan Gus Baha’ tersebut, jadi yang perlu dicemaskan adalah ibadah yang orientasinya duniawi, misalnya riya’ kepada manusia.

Gus Baha menjelaskan keyakinan umat muslim masuk surga. Dikelilingi ramainya kegelisahan spiritual yang disebabkan oleh ceramah-ceramah pesimisme tentang surga-neraka, Gus Baha dengan santui mengatakan bahwa orang mukmin pasti masuk surga. Dengan dasar yang klasik.

"Barang siapa mengucapkan tiada Tuhan selain Allah maka masuk surg. Kunci surga adalah mengucap tiada Tuhan selain Alla,' kata Gus Baha.

Semudah itu menurut Gus Baha orang Mukmin masuk Surga. Menurut Gus Bah, sesungguhnya amal dan ibadah kita tidak akan cukup untuk masuk surga, tapi fadhilah Allah itu luas.

Baca juga: Kisah Gus Baha Punya Tetangga Suka Tidur di Keranda Mayat

Baca juga: Isi Surat Wasiat Teroris ZA Beredar, Singgung Riba dan Pemerintah Thagut, sempat Kirim Grup WA

Baca juga: Marc Marquez Dijadwalkan Terbang Menuju Qatar Jelang MotoGP Doha, Sinyal Comeback?

"Jadi pada akhirnya kita hanya harus optimis kepada fadhilah dan rahmat Allah SWT yang luas," kata Gus Baha.

Gus Baha dalam setiap mengisi pengajian kitab, ia selalu ceria, gembira dan tak segan tertawa terbahak-bahak bersama muhibinnya (pecinta Gus Baha). Antara optimisme yang disampaikan dengan gestur pembawaanya yang seirama, sebab itulah ceramah Gus Baha’ merasuk dan hanyut mudah diterima.

Ciri seorang yang optimis menurut Gua Baha adalah ia selalu ceria, menampakkan kebahagiaan dan tertawa. Pada banyak kesempatan Gus Baha mengutip sebuah riwayat hadis dalam Ihya’ yang berbunyi "termasuk umat-umat pilihan Allah itu umat yang tertawa dengan keras saking yakinnya dengan luasnya Rahmat Allah.”

"Meskipun sedang bersedih hati dan remuk redam rasanya, kita harus selalu optimis dan memperlihatkan keceriaan kita. Tidak ceria/bahagia itu sebuah persoalan, jika kita tidak ceria itu seharusnya kita malu pada Allah karena seperti tidak ridho dengan ketentuan Allah," jelasnya murid kesayangan KH Maimoen Zubair ini.

Salah satu cara mengekspresikan keceriaan dalam kamus Gus Baha adalah dengan guyon. Oleh karena itu ceria dengan berkelakar atau guyon.

Menurut Gus Baha, guyon itu penting, seorang yang sedang memiliki masalah namun masih bisa guyonan itu mahal nilainya.

"Guyon bahkan bisa menjadi ibadah jika menggunakan ilmu, karena kebahagiaan sejati bisa diperoleh dengan ilmu. Dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 58 berbunyi: “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. Ayat ini menyeru agar manusia senantiasa ceria karena optimis terhadap rahmat Allah," papar Kiai kelahiran Narukan Jawa Tengah 29 September 1970 ini.

Rumus optimis menurut Gus Baha ternyata memang sangat berpengaruh dalam keseharian. Menampakkan keceriaan dan senyuman kepada sesama adalah aktivitas mentransfer energi positif dengan orang lain, selain itu terhadap diri sendiri kita bisa melatih syukur dan tawakal.

"Setelah kita bisa berbagi keceriaaan, kebahagiaan, guyonan dan optimisme dihadapan manusia karena percaya rahmat Tuhan itu luas, dibalik itu semua kita perlu selalu mengoreksi diri, memohon ampun, menangis seorang diri di sepertiga malam dihadapan Tuhan karena dosa-dosa yang kita perbuat dan takut dengan azabnya yang amat pedih," pesannya.

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved