Berita Lumajang
Kasus Dugaan Penganiayaan di Ponpes Lumajang, Kiai: Santri Buta karena Virus Kornea Bukan Tamparan
Soal kasus dugaan penganiayaan di pondok pesantren Lumajang, kiai sebut santri buta karena virus kornea bukan tamparan.
Penulis: Tony Hermawan | Editor: Dwi Prastika
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Tony Hermawan
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Sampai saat ini, dugaan kasus penganiayaan santri di pondok pesantren di Kecamatan Pasirian, Lumajang, hingga menyebabkan mata kiri santri buta, tengah diselidiki polisi.
Dalam waktu dekat, polisi akan melakukan gelar perkara untuk menentukan siapa yang bersalah.
Diakui, belakangan kasus ini menimbulkan polemik di masyarakat. Ada masyararakat yang
menginginkan kasus ini diusut secara terang, namun ada juga yang menganggap santri berinisial PM tidak sopan.
Kiai Ponpes Gubug Al-Munir, Misbahul Munir saat ditemui di kediamannya menuding laporan santrinya adalah fitnah. Sebab sejak awal pihak pondok pesantren bertanggung jawab menanggung biaya pengobatan.
Bahkan, salah satu dokter di Surabaya menyebut mata kiri PM buta karena terinfeksi virus kornea. Bukan karena tamparan.
"Waktu berobat di Surabaya, dokter bilang mata PM sakit karena kena virus kornea, bukan karena pukulan atau tamparan. Logikanya gini, kalau tamparan bisa bikin mata buta, petinju kalau tanding bisa buta. Tapi buktinya gak ada kasus gitu kan," beber Misbahul Munir.
Misbahul Munir kemudian menceritakan tindakan penamparan itu terjadi pada sekitar awal April 2021 lalu
Pemicunya, karena Misbahul Munir berulang kali memergoki PM absen mengikuti kegiatan wajib pondok.
Semula Misbahul Munir hanya memberi teguran biasa.
Namun, peringatan itu rupanya tak membuat PM luluh. Malahan PM kembali kepergok tidak mengikuti kegiatan pondok, karena alasan sakit.
Baca juga: Santri 19 Tahun di Lumajang Mengaku Dianiaya Pengurus Ponpes hingga Buta: Rasanya Cekot-cekot
Sampai akhirnya pada 3 April 2021 lalu, Misbahul Munir kembali mendapati PM tidak mengikuti salat Subuh bersama 10 orang santri lain. Padahal hari sebelumnya Misbahul Munir mengetahui fisik PM dalam keadaan sehat.
"Pagi bilang sakit, sore aktivitas seperti biasa. Lama-lama saya kan jengkel, apalagi PM ini sudah senior, harusnya kasih contoh ke adik-adiknya. Akhirnya PM sama 10 anak itu saya tampar, jelas tidak keras. Saya hanya memukul untuk memberi pelajaran hati mereka," katanya.
Selesai memberikan hukuman 11 santri, termasuk PM kembali beraktivitas seperti biasa. Pagi menjalankan ibadah berjamaah, siang melakukan kegiatan rutin di pondok.
Namun, selang tiga hari kemudian, teman PM menyampaikan pesan kepada Misbahul Munir bahwa PM mengeluhkan matanya nyeri dan ingin berobat di Rumah Sakit Pasirian.