Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas: Gagasan Moderasi Beragama Perlu Disampaikan secara Kreatif

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas: Gagasan moderasi beragama serta toleransi perlu disampaikan secara kreatif dan adaptif.

Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat menjadi narasumber dalam kegiatan Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) Angkatan 9, dengan topik Toleransi dan Moderasi dalam Memperkuat Negara Bangsa, Kamis (7/10/2021). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kampanye gerakan moderasi beragama dan toleransi perlu terus digaungkan dengan cara-cara kreatif dan adaptif. Seperti dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. 

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat menjadi narasumber dalam kegiatan Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) Angkatan 9, dengan topik Toleransi dan Moderasi dalam Memperkuat Negara Bangsa, Kamis (7/10/2021). 

"Di era digital ini, bagaimana menyampaikan gagasan tentang moderasi beragama, tentang toleransi. Tentu tidak ada pilihan lain, selain juga harus beradaptasi dengan situasi," kata Gus Menteri dalam kegiatan yang berlangsung daring tersebut. 

Menurutnya, sudah menjadi keniscayaan beragam gagasan dan ajakan terkait toleransi disampaikan dengan cara-cara adaptif. Cara yang selama ini digunakan harus diperkuat dengan cara-cara kreatif menyesuaikan perkembangan zaman. 

Sebab, situasi menuntut cara kreatif masuk ke ruang-ruang digital. Hal itu disebut penting, sebab gagasan tentang moderasi beragama memang harus terus disampaikan.

Dalam penjelasannya, moderasi beragama penting untuk perilaku umat beragama agar berada di jalur tengah. 

Sebab, di tengah masyarakat tak jarang terdapat beberapa kelompok yang memiliki cara pandang dan perilaku dalam beragama.

Yaitu, satu sisi terdapat yang ekstrem yang tidak dapat menerima perbedaan. Padahal keyakinan terhadap agama memang harus kuat, namun tak perlu menyalahkan yang berbeda. 

Baca juga: Ipuk Ajak GP Ansor Bersama-sama Tangani Pandemi Covid-19 di Banyuwangi: Tak Bisa Hanya Pemerintah

Sementara di sisi lain, juga tak jarang terdapat yang apatis terhadap pentingnya agama dalam kehidupan. 

Dengan pemahaman moderasi beragama diharapkan dapat menjadi solusi atau jalan tengah bagaimana perilaku beragama.

Di mana mereka yang meragukan agama perlu mengubah pola pikir dengan memahami bahwa agama sangatlah penting dan menjadi pembimbing dalam kehidupan. 

Begitu juga yang memiliki pandangan ekstrem, perlu mengubah pola pikir yang kaku. Meyakini agama yang dianut sebagai paling benar tentu perlu sebagai seorang pemeluk agama. 

"Tapi, di saat yang sama, tentu kita tidak boleh mengatakan bahwa keyakinan yang diikuti orang lain yang berbeda, itu salah," terangnya menambahkan. 

"Hal-hal begini saya kira tidak bisa disampaikan hanya dengan cara-cara konvensional, harus beradaptasi," terangnya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 100 peserta dari berbagai daerah. Mulai Aceh hingga Papua dengan beragam latar belakang. Mereka rata-rata merupakan generasi muda. 

"Intinya, di dalam dunia yang bergerak cepat ini, dengan segala macam perubahan kita juga dituntut melakukan adaptasi, termasuk menyampaikan gagasan-gagasan tentang toleransi dan moderasi beragama," ungkap Ketua GP Ansor ini.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved