Cuaca Surabaya Sidoarjo Gresik Hampir 37 Derajat, Bukan 'Heatwave' Penyebabnya, ini Kata BMKG
Surabaya, Sidoarjo hingga Gresik mengalami suhu panas hingga hampir 37 derajat Celcius. Apa penyebabnya?
TRIBUNJATIM.COM - Sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo hingga Gresik mengalami suhu panas hingga hampir 37 derajat Celcius.
Rupanya, selain Jawa Timur, sejumlah daerah di Indonesia juga mengalami hal yang sama.
Di antaranya Semarang, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Hal itu dituliskan pada netizen di akun Twitternya.
"Panas bgt semarang," tulis akun Twitter @shepiaaa_.
"Jawa timur lagi tidak baik² saja, panas e ga iso disetel karo kipas angin opo AC, ngalah²i kobong e ati lur..," tulis akun Twitter @NovietaSuyoso.
"BANJARMASIN PANAS BGT. PENGEN MELELEH," tulis akun Twitter @alzaapie.
Baca juga: Suhu Panas Melanda Kawasan Jatim Akibat Fenomena Kulminasi, Begini Penjelasan Lengkapnya
Penyebab suhu panas di sejumlah daerah di Indonesia
Melansir Kompas.com, Kamis (28/10/2021), Kepala Sub koordinator Prediksi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) Ida Pramuwardani mengatakan di Indonesia sedang mengalami kondisi suhu panas harian.
"Yang terjadi di wilayah Indonesia adalah kondisi suhu panas harian yang umumnya disebabkan oleh kondisi cuaca cerah pada siang hari dan relatif lebih signifikan pada saat posisi semu Matahari berada di sekitar ekuatorial," ujar Ida.
Ia menjelaskan, pada akhir Oktober 2021, posisi semu Matahari sudah berada di Belahan Bumi Selatan (BBS) di sekitar 12° 52' LS.
"Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa di wilayah Indonesia selatan ekuator akan memasuki periode musim hujan," lanjut dia.
Baca juga: Suhu Terasa Dingin pada Pagi dan Malam Hari? Ini Penjelasan BMKG Juanda
Bukan terjadi gelombang panas atau heatwave
Lebih lanjut Ida mengatakan, secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi.
Menurut dia, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat.
Oleh karena itu, dengan perbedaan karakteristik dinamika atmosfer tersebut, maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave.
Suhu capai 37.1 derajat Celsius dan masih normal
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum terjadi pada Senin, 26 Oktober 2021.
"Saat itu tercatat suhu maksimum berkisar antara 30.0-37.1 derajat Celsius dengan suhu maksimun 37.1 derajat Celsius tercatat di Surabaya dan 35.4 derajat Celsius di Sentani Papua," kata Ida.
Sedangkan di Jawa Timur, suhu yang tercatat yakni 37.1 derajat Celsius, Semarang 34.4 sampai 34.6 derajat Celsius, Kalimantan 29 sampai 33 derajat Celsius dan Ciputat 35 derajat Celsius.
Angka ini diperoleh dari pengukuran stasiun perak II, maritim perak.
Meski begitu, Ida menyampaikan, besaran suhu yang tercatat masih tergolong normal.
"Kondisi suhu maksimum dengan kisaran tersebut masih berada kondisi normal, di mana perubahan suhu maksimum harian masih dapat terjadi dalam skala waktu harian bergantung pada kondisi cuaca atau tingkat perawanan di suatu wilayah," ucap dia.
Di sisi lain, Ida mengatakan, secara spesifik terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kondisi suhu yang panas di Indonesia.
Baca juga: Warga Malang Rasakan Cuaca Panas Terik Beberapa Hari Terakhir, Begini Penjelasan BMKG Karangploso
Berikut rinciannya:
- Posisi semu Matahari yang saat ini berada di BBS pada lintang 12° 52' LS, yang kemudian menjadi salah satu pemicu peningkatan suhu udara di Indonesia bagian selatan ekuator, misalnya Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.
- Suhu muka laut yang cukup hangat teramati di perairan Indonesia yang menyebabkan peningkatan kandungan uap di atmosfer, dan selanjutnya berdampak pada rasa berkeringat (udara permukaan terasa lembab) bagi masyarakat.
Untuk keberlangsungannya, Ida menjelaskan bahwa kondisi suhu panas ini tidak dapat dipastikan akan berlangsung sampai kapan.
Sebab, variasi suhu di Indonesia bukanlah bulanan tapi harian, berbeda dengan di daerah lintang tinggi.
"Tentu saja tiap wilayah di Indonesia memiliki kondisi variasi suhu yang berbeda," ujar Ida.
Namun secara teori, sinar Matahari yang maksimal memberikan dampak terhadap peningkatan hujan di Indonesia.
Secara spesifik untuk wilayah Indonesia bagian Selatan (Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara) akan mengalami suhu yang relatif panas saat matahari berada di selatan equator (Oktober-Febaruari).
Kemudian, suhu akan mengalami penurunan jika terjadi perawanan tinggi, khususnya jika terjadi hujan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ilustrasi-cuaca-panas-terik.jpg)