Ahmad Fuadi Merasa Beruntung 4 Tahun Nyantri di Gontor: Ruh Keikhlasan dan Pondok Ibarat Ibu Kandung
Bernostalgia zaman nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jatim, kenangan indah Ahmad Fuadi akan almamaternya itu tiba-tiba menyeruak.
Penulis: Ficca Ayu Saraswaty | Editor: Ficca Ayu Saraswaty
“Santri diarahkan menjadi orang yang berbudi luhur, berbadan sehat dan kuat, serta berpengetahuan luas dan berpikiran bebas atau tidak terkotak-kotak, apalagi dijajah satu pemikiran,” ungkap pria kelahiran Bayur Maninjau.
Baca juga: Kisah Ramadan Pelajar Indonesia Puasa 16 Jam di Turki-Inggris, Tak Ada Azan hingga Masjid Dihidupkan
Mantra ‘Man Jadda Wajada’ Negeri 5 Menara
Setiap kali diundang untuk berbicara tentang novel Negeri 5 Menara (The Land of Five Towers) di berbagai negara dari Amerika Jerman hingga Australia, Ahmad Fuadi acap kali mengatakan jika novelnya seperti Harry Potter. Novel fenomenal Ahmad Fuadi kurang lebih mengadopsi kisah Harry Potter, tentang kehidupan di asrama.
“Jika Harry Potter naik Hogwarts Express untuk menuju ke Hogwarts School of Wizardry, Ahmad Fuadi naik bus ANS dan Lorena untuk ke Gontor. Kalau Harry Potter punya mantra Patronus, Negeri 5 Menara punya mantra Man Jadda Wajada,” ujar alumnus The George Washington University, 1999-2001.
Poin lain yang membuat Ahmad Fuadi merasa pesantren menarik adalah ketika santri diwajibkan bicara Bahasa Arab dan Bahasa Inggris 24 jam. Bahkan, kebiasaan itu bisa sampai terbawa ke alam mimpi.
Tak jarang ada santri yang bermimpi dengan dua bahasa, karena saking melekat hingga masuk ke alam bawah sadar. Pesantren juga mengaplikasikan penggunaan dua bahasa di pelajaran, tulisan-tulisan yang ditempel, hingga musik radio. Metode yang dipakai yaitu dengan mengajarkan syair atau kata-kata mutiara.
Baca juga: Film Pendek Omah Njero: Tempat Paling Sakral, Sendang Kapit Pancuran, hingga Ruang Semayam Para Ego
“Ada banyak kata mutiara keren di pelajaran Mahfudhat. Ustaz dengan penuh semangat meneriakkan Man Jadda Wajada, menerangkannya secara bahasa dan filosofis sehingga bisa membekas di hati para santri. Saat riset untuk novel Negeri 5 Menara ketemu lagi dengan kata itu dan ibarat sudah tertanam di memori, lalu berpikir kata ini cocok dijadikan semboyan novel saya,” jelas alumnus Royal Holloway, University of London, Inggris.
Ada tiga mantra yang digaungkan dan dijadikan tagline di novel trilogi Ahmad Fuadi. Man Jadda Wajada untuk Negeri 5 Menara, Man Shabara Zhafira untuk Ranah 3 Warna, dan Man Sara Ala Darbi Washala untuk Rantau 1 Muara.
Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Namun kesungguhan saja tidak cukup, lalu dilanjutkan dengan Man Shabara Zhafira, siapa bersabar akan beruntung. Terakhir, Man Sara Ala Darbi Washla, siapa yang berjalan di jalan-Nya akan sampai di tujuan.
Baca juga: Janji Teruskan Perjuangan Pakde, Mira Kirana ‘The Next Didi Kempot’ Ajak Anak Muda Cinta Budaya Jawa
Kiai Panutan, Pondok Ibarat Ibu Kandung, & Uniknya Hidup di Asrama
Menghabiskan waktu di pesantren membuat Ahmad Fuadi dikelilingi sosok-sosok inspiratif. Para kiainya adalah panutan yang punya ciri khas masing-masing dalam mengajar.
“Di Gontor Kiai tidak satu tapi bertiga. Kiai Syukri menanamkan rasa dan motivasi untuk berjuang, menciptakan versi terbaik diri kita. Kalau Kiai Syukri pidato kita bisa terbang dan seperti kesetrum. Dua Kiai lainnya mampu menyetuh jiwa, mengajarkan self awareness, hingga keteguhan hati. Bagi Fuadi, Gontor ibarat ibu kandungnya sendiri.
“Di lirik terakhir Hymne Oh Pondokku, ‘Pondok seperti ibu kandungku’, maknanya karena selama di pesantren kita tidak punya ibu, jadi pondok ibarat ibu kandung kita, bapak kita itu Kiai dan ustaz, dan selayaknya ibu kandung mendidik dengan kasih sayang. Santri di sana ibarat saudara kandung kita,” cerita Ahmad Fuadi.
Keunikan hidup di asrama menurut Ahmad Fuadi yakni ada pada persaudaran yang sangat kuat. Bertemu 3000 santri dan 24 jam hidup di tempat yang sama tentu membuat ikatan tali persaudaran sesama santri sangat kuat.
Baca juga: Berjaya di Panggung Balet, Michael Halim Peraih Solo Seal Punya Mimpi Besarkan Balet Kontemporer
Hikayat Menara di Ranah Fiksi