Breaking News:

Berita Surabaya

Pemkot Surabaya Sudah Tangani Nenek Sebatang Kara Tinggal Tidur di Lemari Sempit

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, M Fikser, menuturkan, viralnya video di media sosial yang menayangkan seorang nenek

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Januar
Kompas.com
Nenek yang tidur di lemari di Surabaya 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Febrianto Ramadani

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, M Fikser, menuturkan, viralnya video di media sosial yang menayangkan seorang nenek sebatang kara sebagai penjual warung kopi, dan tidur di lemari sempit telah menjadi perhatian bagi Pemerintah Kota Surabaya.

Dirinya juga menambahkan, Dinas Sosial Kota Surabaya sudah mengevakuasi dan menangani nenek tersebut untuk diperiksa kondisi kesehatannya. Diketahui identitasnya bernama Hamiyeh.

"Jadi ceritanya viral di media sosial yang menyebut nenek itu sebatang kara, padahal tidak, dia punya keluarga. Kamis kemarin kami bawa nenek itu ke Liponsos, kami periksa dan dirawat. Ternyata hari Sabtu keluarganya datang mengambil. Kami beritahu keluarganya karena menjadi perhatian. Kami ada surat pernyataan bahwa nenek itu akan dirawat dengan baik," ujarnya, Senin (15/5/2021).

Lebih lanjut Fikser memaparkan, warung yang ditempati Hamiyeh merupakan usaha keluarganya. Dalam kesehariannya ia menjaga warung itu. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, nenek Hamiyeh tidak tidur di lemari yang sempit. 

Baca juga: Polisi Bakal Perketat Pengamanan Saat Nataru, Antisipasi Teror dan Transmisi Covid-19 jadi Prioritas

"Keluarganya juga menjemputnya pulang. Tapi karena di media sudah viral seperti itu, tanpa menelusuri kebenarannya apakah benar tidak punya keluarga, sehingga menjadi perhatian publik," ungkap Fikser.

"Nenek itu setelah dibawa hari kamis kami periksa kesehatannya alhamdulillah sehat. Sabtu dijemput sama keluarganya, sudah ada pernyataan dari untuk dirawat dengan baik tidak kembali lagi tempat usaha itu. Hamiyeh mengaku dari Sampang, memang dari sana. Tapi keluarganya sudah berpenduduk Surabaya," jelasnya.

Nenek Hamiyeh, kata Fikser, dibawa ke Liponsos Keputih karena tidak memiliki identitas penduduk. Ketika ditanya perempuan tersebut mengaku dari Sampang. Saat ini nenek Hamiyeh sudah bersama keluarga sepupu.

"Mereka menjaga nenek tersebut dan kami pantau perkembangannya. Selama di Liponsos kami rawat kesehatannya. Jadi ada surat pernyataan agar nenek tersebut dirawat dengan baik dan tidak boleh kembali ke tempat usaha itu," bebernya.

"Jadi sebenarnya kepedulian sosial kepada masyarakat sangat luar biasa di media sosial. Tapi sebelum disebar ke publik harusnya digali betul apakah nenek itu benar benar sebatang kara. Tidak bisa berdasarkan pengakuan, perlu ada pengamatan lebih dalam sehingga informasi yang beredar akurat," tuntasnya.

Kumpulan berita Surabaya terkini

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved