Breaking News:

Berita Surabaya

Perjuangan Didik dan Titin Peroleh Momongan, Sempat Lewati 3 Kali Operasi Saat Program Bayi Tabung

Perjuangan Didik dan Titin memperoleh momongan, sempat lewati 3 kali operasi saat program bayi tabung, setelah 11 tahun belum dikaruniai anak.

Penulis: Melia Luthfi Husnika | Editor: Dwi Prastika
TribunJatim.com/Melia Luthfi Husnika
Didik Santoso dan Titin, pasangan program bayi tabung RSIA Kendangsari Surabaya bersama Prof Dr dr Budi Santoso, Sp OG(K), Kamis (25/11/2021). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Melia Luthfi Husnika

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Didik Santoso (43) bersama sang istri, Titin (35) menempuh perjalanan panjang untuk memperoleh momongan keduanya. Mereka harus melewati berbagai hambatan selama menjalankan program bayi tabung

Didik dan Titin memutuskan datang ke Surabaya untuk memeriksakan kesehatan setelah 11 tahun belum dikaruniai momongan. Tahun 2020 lalu, mereka berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan bersama tim dokter RSIA Kendangsari Surabaya

Pada pemeriksaan awal, diketahui bahwa terjadi masalah adanya perekatan usus, rahim dan beberapa organ lain. Kondisi ini menjadi penghambat proses reproduksi secara alami. 

"Pada awal pemeriksaan saya lakukan laparoskopi untuk memeriksa hambatan apa di alat reproduksi bagian dalam. Diketahui adanya perekatan. Akhirnya kami lakukan operasi untuk menanganinya," ungkap dokter spesialis kandungan RSIA Kendangsari Surabaya, Prof Dr dr Budi Santoso, Sp OG(K), Kamis (25/11/2021). 

Prof Budi menuturkan, setelah operasi pertama, pasien tidak bisa langsung melakukan program bayi tabung. Harus menunggu dua bulan setelahnya. Saat proses bayi tabung mulai dijalankan, terjadi beberapa hambatan lain.

"Setelah penyuntikan hormon dan pengambilan ovum, kemudian didapatkan 3 embrio dan 2 berhasil ditanam ke rahim menjadi bayi kembar. Nah di usia kehamilan trimester awal satu bayinya meninggal. Jadi hanya satu yang survive di rahim," jelas Prof Budi. 

Permasalahan medis lain tak berakhir di sini saja. Menurut penuturan Prof Budi, ketika kehamilan pasien mencapai usia 21 minggu, ditemukan masalah lain. Pasien mengaku mual muntah dan kembung. 

Baca juga: Mengenal Terapi Suntik Botox hingga Dilatasi Mandiri untuk Pasien Vaginismus

"Setelah diperiksa ternyata ada illius obstruktif, ususnya buntu. Kembali harus dilakukan operasi. Beratnya, operasi ini dilakukan dalam kondisi ibu sedang hamil. Syukurnya operasi berjalan lancar dan kehamilan baik-baik saja," ujar Prof Budi menjelaskan. 

Beberapa waktu setelahnya, Titin harus masuk rumah sakit lagi karena faktor lain. Namun semuanya masih terkendali. Ketika usia kehamilan berada di 33-34 minggu, masalah kembali muncul. Tiba-tiba air ketuban pecah dan habis, sehingga harus segera dioperasi. 

"Langsung kami lakukan tindakan operasi caesar. Kembali lagi ada masalah. Terjadi perekatan ari-ari (plasenta) dengan bagian bawah rahim, sehingga pendarahan hebat. Selama 4 jam kami lakukan operasi, ibu dan bayi berhasil selamat," ujar Prof Budi mengungkapkan. 

Bayi yang lahir adalah perempuan dengan berat hanya 1.750 gram dan tergolong cukup kecil. Bayi masih dalam proses perawatan, namun menunjukkan perkembangan positif. 

"Saat ini masih dirawat di NICU. Kami masih rawat sampai bayi bisa minum ASI sendiri dan ibunya bisa merawat bayi kecil. Perjuangan mereka membuktikan tidak ada yang tidak mungkin jika kita sungguh-sungguh dan berusaha," pungkas Prof Budi.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved