Breaking News:

Pasar Masuk Fase Normalisasi di Tahun 2022, Obligasi Dinilai Lebih Siap Hadapi Perubahan

Pasar masuk fase normalisasi pada tahun 2022 mendatang, obligasi dinilai lebih siap menghadapi perubahan.

Penulis: Aqwamit Torik | Editor: Dwi Prastika
securitas.co.id
Ilustrasi saham - Pasar masuk fase normalisasi pada tahun 2022, obligasi dinilai lebih siap hadapi perubahan. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aqwamit Torik

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Dimas Ardhinugraha melihat, kondisi pasar bisa menjadi dasar bagi investor dalam mengambil keputusan. Sebab di tahun 2022, pasar sudah masuk dalam fase normalisasi.

Fase tersebut bukan hanya terjadi pada pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global, tetapi juga pada kebijakan moneter dan fiskal.

Menurutnya, bank sentral dunia diperkirakan akan melakukan penyesuaikan arah kebijakan, di mana suku bunga diperkirakan akan meningkat secara gradual, sambil tetap memperhatikan kondisi terkait pandemi Covid-19 (virus Corona).

"Walau demikian, proses normalisasi akan terjadi secara gradual, di mana kebijakan fiskal dan moneter di 2022 baik di kawasan negara maju maupun negara berkembang, tetap akan pada level akomodatif relatif terhadap rerata jangka panjang," ungkap Dimas Ardhinugraha berdasarkan rilis yang diterima TribunJatim.com, Kamis (23/12/2021).

Selain itu, momentum pembukaan kembali diperkirakan meningkat ketika vaksinasi Covid-19 diakselerasi, dan cakupan vaksinasi mencapai sekitar 70 persen dari populasi yang dapat menopang pemulihan ekonomi lebih kuat di 2022.

Keunggulan Indonesia dibandingkan banyak negara di kawasan lain adalah demografi Indonesia yang didominasi warga usia muda, hal itu mempercepat aktivitas ekonomi kembali normal.

Dimas Ardhinugraha melihat, pasar obligasi kini lebih siap dalam menghadapi tren perubahan sentimen global.

Faktor kepemilikan asing yang jauh lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya, dinamika pasokan obligasi yang lebih baik dan valuasi pasar obligasi Indonesia yang masih menarik, diharapkan dapat meredam dampak kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat di 2022.

Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia.

"Investor pun bisa memanfaatkan reksa dana pendapatan tetap untuk diversifikasi aset," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved