Berita Surabaya

Masyarakat Surabaya Dilatih Memanfaatkan Sampah Organik Menjadi Sabun Mandi hingga Pembersih Lantai

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya melatih masyarakat memanfaatkan sampah organik menjadi sabun mandi hingga pembersih lantai.

Tribun Jatim Network/Bobby Constantine
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya melatih masyarakat memanfaatkan sampah organik melalui teknologi Eco Enzyme (EE), Sabtu (2/4/2022). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Constantine Koloway

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya melatih masyarakat memanfaatkan sampah organik di sekitarnya, agar bisa diolah menjadi bahan baku barang yang lebih bermanfaat.

Pengolahan sampah organik ini melalui Eco Enzyme (EE). Sebuah teknik dengan mengolah sampah rumah tangga dengan difermentasi menggunakan gula. 

Pelatihan olahan EE diprioritaskan bagi Kader Surabaya Hebat, Kampung Zero Waste, dan Program Kampung Iklim (Proklim).

Dengan menggunakan sistem ini, sampah bisa diubah menjadi cairan serbaguna. 

“EE ini biasa disebut sebagai cairan serbaguna. Hasil olahannya bisa berupa disinfektan, pembersih air, pembersih lantai, sabun mandi, sabun cuci baju, obat kumur, hingga penyembuh luka bakar,” kata Sub Koordinator Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Kota Surabaya, Dyan Prasetyaningtyas, Sabtu (2/4/2022).

Dengan diolah oleh masyarakat, sampah organik yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo berkurang. Ini penting, mengingat 70 persen sampah yang terbuang berasal dari limbah rumah tangga.

“Sampah organik ini menimbulkan bau tidak sedap dan menghasilkan gas metana yang meningkatkan pemanasan global. Maka, teknologi ini secara tidak langsung juga mencegah pemanasan global,” jelas dia.

Pelatihan dilakukan sejak pekan ini. Di antaranya, dilakukan di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Jambangan

Lurah Kebonsari Surabaya, Rerry Setianingtyaswati menjelaskan, pelatihan pembuatan EE berawal dari ide warga di wilayah RW 2 Kelurahan Kebonsari. Kemudian, pihaknya menggandeng komunitas lingkungan Eco Enzyme Nusantara.

“Harapannya, hasil sosialisasi bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk pengolahan sampah organik,” kata Rerry.

Anggota dari Eco Enzyme Nusantara, Yustina Sri Maryanti menjelaskan, Eco Enzyme bisa mengurangi produksi limbah sintetis dan sampah plastik. Biasanya, ini merupakan sisa kemasan produk rumah tangga. 

Tekniknya cukup mudah. Pertama, sampah organik dicampur dengan air dan gula merah atau molase.

Kemudian, disimpan dalam wadah plastik sebagai tempat fermentasi sampah organik.

"Setelah 3 bulan, maka EE sudah siap digunakan,” jelas Yanti sapaan lekatnya, yang juga warga RW 2 Kelurahan Kebonsari, Surabaya.

Yanti menerangkan, hampir semua kulit buah maupun potongan sayur segar sebagai bahan produk olahan. Bahan yang tak bisa digunakan hanyalah kulit durian, nangka, singkong, alpukat, dan salak.

“Penggunaan wadah plastik juga diutamakan, karena dalam proses fermentasinya akan menghasilkan gas. Lalu, untuk penggunaan air, sebaiknya adalah air sumur. Jika menggunakan air PAM, harus diendapkan dulu selama 24 jam,” terang dia.

Ketua RW 9 Kelurahan Manukan Kulon, Kota Surabaya, Gaguk Sukimintono, mengaku bersemangat.

"Kami berterima kasih kepada Bapak Wali Kota Eri Cahyadi. Ini adalah cara paling mudah dan murah untuk melakukan pengolahan sampah organik,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved