Berita Kabupaten Madiun

Melihat Masjid dan Makam Kuno Moh Ngasyk, Ulama Banten Penyebar Agama Islam di Madiun

Melihat Masjid dan Makam Kuno Moh Ngasyk, ulama dari Banten penyebar agama Islam di Madiun yang tidak banyak diketahui orang.

TribunJatim.com/Sofyan Arif Candra
Masjid dan Makam Kuno Moh Ngasyk di Desa Sukosari, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Kamis (14/4/2022). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Sejumlah pemerhati sejarah yang tergabung dalam Komunitas Pelestari Sejarah Madiun Raya (Kompas Madya) mencoba menggali sejarah islam di Kabupaten Madiun.

Terbaru, Kompas Madya mencoba melakukan eksplorasi ke masjid dan makam kuno Moh Ngasyk di Desa Sukosari, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

Ketua Kompas Madya, Septian Dwita Kharisma mengatakan, blusukan sejarah religi ini dilakukan kelompoknya setiap tahun, utamanya di bulan Ramadan.

"Tujuannya untuk membangun spiritualitas anggota dan membangun kesadaran sejarah di Madiun," kata Ian, sapaan akrab Septian Dwita Kharisma, Kamis (14/4/2022).

Kompas Madya sengaja memilih makam dan masjid kuno Mohammad Ngasyk karena lokasi ini kurang terekspos dan banyak masyarakat yang belum tahu.

"Kita ingin memperkenalkan bahwa di sini ada makam kuno. Beliau ulama dari Banten yang datang ke Madiun untuk menyebarkan agama Islam tahun 1707," lanjutnya.

Di Madiun, Ngasyk mendirikan pondok pesantren dan melakukan penyebaran agama Islam melalui berbagai cara.

Satu di antaranya dengan membangun relasi ke ulama-ulama yang ada di daerah setempat, mulai dari Banjarsari hingga Sewulan.

Sejumlah organisasi pemuda melakukan blusukan religi sejarah ke Masjid dan Makam Kuno Moh Ngasyk di Desa Sukosari, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Kamis (14/4/2022).
Sejumlah organisasi pemuda melakukan blusukan religi sejarah ke Masjid dan Makam Kuno Moh Ngasyk di Desa Sukosari, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Kamis (14/4/2022). (TribunJatim.com/Sofyan Arif Candra)

Dengan terjalinnya relasi antar penyebar agama Islam tersebut, membuat ulama-ulama Islam saat itu semakin mempunyai pengaruh dan kekuatan yang lebih besar di tengah masyarakat.

Namun begitu, Ian mengakui, literasi terkait penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Mohammad Ngasyk ini sangat minim.

"Memang sangat minim literasi, salah satu informasi yang kita dapatkan adalah wawancara dengan putro wayah (anak-cucu) dari beliau (Moh Ngasyk)," jelas Ian.

Untuk itu, ia berharap dengan adanya blusukan sejarah religi seperti yang dilakukan kelompoknya, bisa menggali narasi-narasi tentang kekayaan sejarah di Kabupaten Madiun, terutama sejarah ulama penyebar Islam.

"Harapan kami ke pemerintah, Masjid Moh Ngasyk bisa ditata, sehingga bisa dijadikan tempat wisata religi karena potensinya besar," ucapnya.

Kepada masyarakat, Ian berharap bisa ikut melindungi benda-benda bernilai sejarah yang ada di ada masjid tersebut.

Selain Kompas Madya, eksplorasi Masjid Moh Ngasyk tersebut juga melibatkan sejumlah organisasi lain mulai dari Madiun AE, Lesbumi NU, Mlakuwoto, Payukani (Paguyuban Kakang Nimas Kabupaten Madiun), Pelajar Islam Indonesia Kota Madiun, hingga Forum Pemuda Madiun.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved