Berita Lumajang

Dampak Ratusan Sapi Perah Senduro Lumajang Terjangkit PMK, Produksi Susu Sehari Turun 6 Ton

Sebanyak 725 sapi perah di Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, Lumajang terjangkit wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Wabah tersebut kini mulai m

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/TONY Hermawan
Seorang pekerja mengecek mobil angkutan susu segar. Semenjak wabah PMK menyerang sapi perah, jumlah susu segar yang berhasil ditampung menurun drastis. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Tony Hermawan

TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Sebanyak 725 sapi perah di Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, Lumajang terjangkit wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Wabah tersebut kini mulai memukul ekonomi masyarakat. 

Menurut informasi yang berhasil dihimpun, ratusan sapi perah mulai terserang PMK sejak awal Mei lalu. Kondisi ini membuat banyak peternak kalut. Wabah ini mengakibatkan sapi perah tidak bisa menghasilkan susu segar.

Yang paling parah, peternak juga dibayangi risiko menanggung kerugian puluhan juta. Sebab, sudah ada laporan 6 ekor sapi mati mendadak saat PMK menyerang.

Bukan hanya itu, sebanyak 23 ekor sapi terpaksa disembelih peternak karena gejala PMK sudah terlalu parah.

Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Makmur  merupakan badan usaha mitra peternak sapi perah di Kandang Tepus. KUD Tani Makmur menjadi salah satu suplier pabrik susu asal negara Swiss.

KUD ini dalam sehari setidaknya bisa mengirim bahan baku segar sebanyak 31 ton ke pabrik tersebut.

Baca juga: 76 Ekor Sapi di Kota Probolinggo Jalani Karantina Selama 14 Hari Usai Terjangkit PMK

Subari Sekretaris KUD Tani Makmur mengatakan, populasi sapi perah di Desa Kandang Tepus sekitar 5.543 ekor.

Semenjak PMK menyerang, susu segar yang berhasil ditampung dari sapi perah jumlahnya menurun drastis.

Sebelumnya, dalam sehari bisa mendapat susu segar sebanyak 31 ton, sekarang paling tinggi hanya 25 ton.

"Jadi memang ada penurunan sekitar 20 persenan," ungkap Subari.

Baca juga: Lahap Santap Kikil, Bupati Lamongan Edukasi Warganya Tak Takut Makan Daging Sapi Meski PMK Meluas

Kondisi itu disebabkan, karena sapi yang menderita PMK rata-rata sulit diberi makanan. Penyebabnya karena terdapat luka lepuh di bagian bibir.

Lantaran tidak mendapat asupan makanan, mengakibatkan sapi tidak bisa menghasilkan susu. Sekali pun keluar susu, susu yang dihasilkan mengandung virus. Sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.

"Anggaran pembelian obat bulan Mei ini sangat besar. Kami sudah habis sekitar Rp75 juta untuk membeli obat antibiotik untuk mengobati sapi yang terinfeksi PMK," ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Lumajang Anang Akhmad Syaifuddin mengatakan, wabah PMK bukan masalah remeh. Ia meyakini, jika terlalu lama dibiarkan bisa menimbulkan efek domino terhadap ekonomi semacam dampak corona. 

Baca juga: Lumajang Akan Digelontor Vaksin PMK Pekan Depan, Peternak Bisa Ajukan Pendaftaran di Nomor Ini

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved