Berita Madiun

Harga Cabai Rawit Masih 'Terasa Pedas', Pemkab Madiun Ngaku Siapkan Strategi Khusus

Harga cabai rawit di Madiun masih terus naik. Pemkab Madiun bakal siapkan strategi khusus. Benarkah bakal efektif?

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Januar
TribunJatim.com/Sofyan Arif Candra
Ilustrasi harga cabai rawit di Madiun yang masih terus tinggi 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Pemerintah Kabupaten Madiun menyiapkan pasar murah untuk menekan harga cabai rawit yang masih tinggi di pasaran.

Per Rabu (22/6/2022) harga cabai rawit di Pasar Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun tembus Rp 100 ribu perkilogram.

Kabid Perdagangan Disperdagkop Kabupaten Madiun, Toni Eko Prasetyo mengatakan skema pasar murah tersebut sudah direncanakan, dan tinggal menunggu surat keputusan (SK) Bupati Madiun.

"Memang sudah direncanakan tapi masih menunggu SK dari Bupati," kata Toni, Rabu (22/6/2022).

Toni memperkirakan pasar murah tersebut bisa dilaksanakan pada bulan Juli 2022 mendatang.

Baca juga: Terus Melambung, Harga Cabai Rawit di Kota Blitar Tembus Rp 95.000/Kilogram, Stok di Petani Menipis

"Kenaikan harga cabai ini disebabkan suplai yang berkurang karena panen yang gagal akibat curah hujan yang tinggi," lanjutnya.

Kebutuhan cabai rawit Kabupaten Madiun sendiri selama ini masih banyak disuplai dari Kabupaten Nganjuk dan Kediri yang mana keduanya juga mengalami penurunan hasil panen cabai.

Diberitakan sebelumnya, harga cabai di Kabupaten Madiun tak kunjung turun. Dari pantauan TribunJatim.com di Pasar Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, harga cabai rawit masih di angka Rp 95 ribu hingga Rp 100 ribu perkilogram.

Menurut seorang pedagang, Taminem, harga cabai rawit sempat turun ke angka Rp 81 ribu perkilogram.

Namun dua hari yang lalu naik ke angka Rp 95 ribu hingga Rp 100 per kilogram.

"Pelanggan jadi mengurangi jumlah pembelian. Yang biasanya satu kilogram jadi seperempat kilogram," kata Taminem, Rabu (22/6/2022).

Mahalnya harga cabai rawit tersebut membuat ia enggan untuk menyetok terlalu banyak lantaran khawatir tidak habis dan akan busuk.

"Kalau stoknya sih ada saja walaupun tidak banyak. Tapi tidak tahu kenapa kok mahal sekali," lanjutnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved