Berita Lumajang

Ahli Gunung Api Tanggapi Dugaan Kamar Kajang dan Kampung Renteng Lumajang Tenggelam Lava Semeru

Dugaan human eror di balik tenggelamnya pemukiman di Dusun Kamar Kajang dan Kampung Renteng Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro jadi isu santer

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Tony Hermawan
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi saat menjelaskan karakteristik letusan Gunung Semeru. 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Tony Hermawan

TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Dugaan human eror di balik tenggelamnya pemukiman di Dusun Kamar Kajang dan Kampung Renteng Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumjang semakin menjadi isu santer.

Isu ini beberapa hari lalu bergulir menjadi bahan diskusi Pemkab Lumajang, masyarakat dan jajaran kepolisian. Bahkan, ahli gunung api dan geofisika dilibatkan dalam diskusi tersebut.

Dalam diskusi tersebut secara garis besar mengurai karakteristik Gunung Semeru diurai saat mengalami letusan lava dari masa ke masa. Tidak terkecuali saat Semeru erupsi awal Desember 2021 lalu.

Sebab, diskusi ini bertujuan mencari fakta-fakta atas dugaan human eror.

Nah, dalam diskusi ini terungkap bahwa Semeru saat erupsi akhir tahun lalu setidaknya memuntahkan 6 juta kubik material lava.

Baca juga: Pertimbangkan Keamanan Para Pendaki, Upacara Bendera Merah Putih di Gunung Semeru Ditiadakan

Jarak luncur material lava saat itu ke pemukiman mencapai 16 kilometer dengan kecepatan 200 kilometer per jam. Ini mirip dengan kecepatan mesin Moto GP saat beradu kecepatan di lintasan balap.

Liswanto Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pantau Gunung Semeru mengatakan, banyaknya volume material lava disertai luncuran yang sangat cepat membuat banyak wilayah menjadi terdampak.

Batu-batuan besar yang sebelumnya sudah ada di sungai aliran lahar tidak bisa menjadi penghalang lava turun ke pemukiman. Sehingga, dia berasumsi penyebab pemukiman Dusun Kamar Kajang dan Kampung Renteng tenggelam akibat human eror kurang tepat.

"Bisa dibayangkan kecepatan lava waktu itu dengan mempertimbangkan morfologi tanahnya. Jembatan Gladak Perak yang didesain bisa dilewati sampai 50 tahun akhirnya ambruk," katanya.

Sementara itu, Dr. Dwa Desa Warnana akademisi geofisika dari Institut Teknologi Sepuluh November menerangkan, penyebab lava mengubur pemukiman penduduk Dusun Kamar Kajang dan Kampung Renteng karena sebelumnya lava melewati sungai yang cukup sempit. Nah, secara ilmu fisika, saat melewati jalur yang sempit kecepatan lava menjadi meningkat.

Sehingga, saat keluar dari jalur yang sempit, material lava terjadi penyebaran aliran.

"Setelah keluar dari sungai di bawah Gladak Perak, lava itu menyebar karena menemukan ruang yang lebih luas, sehingga alirannya menutupi sungai," kata Dwa.

Dwa menambahkan, penyebab Dusun Kamar Kajang dan Kampung Renteng terendam lahar karena saat itu ada dua macam aliran yang meluncur ke sungai.
Aliran pertama membawa material berat berupa pasir dan batu-batu besar. Sedangkan, aliran kedua membawa material air.

Setelah aliran pertama memenuhi sungai, aliran kedua berupa air menjadi pemicu lava meluber ke pemukiman. Sebab, sifat air selalu mengalir ke tempat yang rendah.

Dwa menyarankan agar pemerintah menelaah ulang dugaan human eror. Salah satunya, yaitu menggali tanggul yang dianggap sebagai penghambat aliran lahar. Jika dilakukan penggalian tanggulnya masih utuh, maka kemungkinan adanya tanggul tersebut memang menjadi pemicu aliran lava berbelok ke pemukiman.

Selain itu, Dwa juga menyarankan pemerintah memeriksa kembali dokumen Amdal milik perusahaan yang melakukan aktivitas tambang di sekitar Dusun Kamar Kajang dan Kampung Renteng.

Hal ini untuk membuktikan mekanisme kerja yang dilakukan perusahaan sudah sesuai dengan yang direkomendasikan untuk meminimalisir adanya kerusakan lingkungan.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved