Berita Trenggalek

Sultan Hamengkubuwono X Beri Hadiah Pusaka untuk Trenggalek, Apresiasi Upaya Pelestarian Budaya

Apresiasi upaya melestarikan budaya Mataraman, Sri Sultan Hamengkubuwono X beri hadiah pusaka tombak Wos Wignyo Murti pada Trenggalek.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Aflahul Abidin
Pada malam puncak muhibah budaya di Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek, Kamis (1/9/2022) malam, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan hadiah berupa pusaka tombak Wos Wignyo Murti kepada Kabupaten Trenggalek. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Aflahul Abidin

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Pada malam puncak muhibah budaya di Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek, Kamis (1/9/2022) malam, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan hadiah berupa pusaka tombak Wos Wignyo Murti kepada Kabupaten Trenggalek.

Pusaka itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kegigihan Kabupaten Trenggalek untuk merajut budaya Mataraman, utamanya kebudayaan antara Yogyakarta dan Trenggalek.

Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan, ada benang merah yang menghubungkan DIY dan Trenggalek dari sisi sejarah dan budaya.

Benang merah itu, kata dia, yang telah abadi dalam khasanah sejarah, dan Mataram harus terus dilestarikan.

"Di mana Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Trenggalek akan tumbuh dan berkembang bersama dengan sejarah Mataraman," kata Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Menurutnya, warga Kabupaten Trenggalek patut berbangga dengan histori dan budayanya yang adiluhung.

Menurut Sultan, Trenggalek sejak zaman kuno merupakan daerah berstatus bebas pajak. Status itu diberikan kepada daerah yang dianggap berjasa kepada negara.

Baca juga: Muhibah Budaya DIY, Kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono X di Trenggalek Disambut Meriah Warga

Trenggalek juga disebut telah menjadi daerah merdeka dan mandiri sejak zaman Raja Sindok, kerajaan Mataram Kuno.

Sementara soal hubungan sejarah antara DIY dan Trenggalek, keterkaitan itu salah satunya bermula dari Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Perjanjian itu memecah Kerajaan Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Wilayah Kabupaten Trenggalek selain Kecamatan Panggul dan Munjungan masuk ke dalam wilayah kekuasaan Bupati Ponorogo.

Saat itu, Bupati Ponorogo berada di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta.

Sementara wilayah yang kini masuk dalam Kecamatan Panggul dan Munjungan masuk dalam wilayah kekuasaan Bupati Pacitan, yang berada di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta.

"Saya menyambut baik inisiatif dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek untuk turut nguri-uri budaya Mataram. Saya juga mendukung penuh terjalinnya kerja sama antara kedua daerah," sambungnya.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengaku tersanjung dengan kedatangan Sultan ke Trenggalek untuk memeriahkan Hari Jadi Trenggalek ke-828.

Pria yang akrab disapa Mas Ipin itu mengatakan, pihaknya bertekad merajut kembali historis sejarah Trenggalek dengan Keraton Yogyakarta. 

"Kedekatan sejarah, kultur, dan budaya Mataraman antara Trenggalek dan Yogyakarta diharapkan bisa memberikan kemanfaatan bagi kedua daerah, utamanya di sektor ekonomi," sambungnya.

Ia juga berterima kasih kepada Sultan yang bersedia datang langsung ke Trenggalek. Ia berterima kasih karena kabupaten telah mendapat muhibah budaya dari DIY dalam beberapa tahun terakhir.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Kumpulan berita seputar Trenggalek

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved