Berita Nganjuk

Ada 1.838 Penderita HIV/AIDS di Nganjuk, Dinkes dan KPAD Gencarkan Mobile VCT

Ada sekitar 1.838 orang penderita HIV/AIDS di Nganjuk hingga bulan Mei 2022, Dinkes gencarkan pencegahan lewat mobile VCT.

Penulis: Achmad Amru Muiz | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com
Pemeriksaan HIV/AIDS dengan sasaran kelompok masyarakat yang berisiko di Nganjuk, Kamis (22/9/2022). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Achmad Amru Muiz

TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk bersama Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Nganjuk, menggencarkan upaya pencegahan penyebaran penyakit HIV/AIDS, dengan menjalankan mobile VCT (Voluntary Counseling and Testing).

Kepala Bidang P2PL Dinkes Kabupaten Nganjuk, Ikhrom Wijayadi menjelaskan, kegiatan VCT kali ini dilakukan di Desa Banaran, Kecamatan Kertosono, Nganjuk.

Mobile VCT dalam kegiatan tersebut berupaya mencari atau menemukan penderita HIV/AIDS yang dilakukan secara keliling dan menyasar kelompok berisiko.

"Kali ini kami lakukan mobile VCT untuk masyarakat yang tergabung dalam komunitas LSL di Kertosono. Untuk mendeteksi apakah di antara anggota Komunitas LSL tersebut ada yang terkena HIV/AIDS atau tidak," kata Ikhrom Wijayadi, Kamis (22/9/2022).

Dari Hasil pemeriksaan yang dilakukan melalui mobile VCT, dari 23 orang diperoleh hasil seluruhnya berstatus nonreaktif (NR). Terlebih beberapa di antaranya juga sudah pernah beberapa kali mengikuti pemeriksaan.

"Hal ini cukukp baik, di mana setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan hasil bahwa 23 orang komunitas LSL Kertosono tidak terkena HIV/AIDS alias nonreaktif (NR)," ucap Ikhrom Wijayadi.

Sebelumnya, Plt Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi meminta pencegahan penyebaran penyakit HIV/AIDS semakin ditingkatkan. Ini dikarenakan di Kabupaten Nganjuk saat ini penderita HIV/AIDS mencapai kisaran 1.838 orang data bulan Mei 2022.

Kondisi tersebut cukup memprihatinkan, apalagi sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS.

"Kami senantiasa mengajak semua lapiran masyarakat ikut mewaspadai penyakit HIV/AIDS ini. Dikarenakan penyakit HIV/AIDS berbahaya hingga menimbulkan kematian dan belum ada obatnya," kata Marhaen Djumadi.

Baca juga: Hampir Seribu Orang di Kabupaten Madiun Terinfeksi HIV AIDS, 500 Pasien Lainnya Masih Berkeliaran

Memang, diakui Marhaen Djumadi, bila dibandingkan dengan penyakit Covid-19 dirasakan penyakit HIV/AIDS lebih berbahaya. Ini dikarenakan Covid-19 bisa sembuh dengan imun yang baik. Tetapi berbeda dengan penyakit HIV/AIDS yang tidak bisa sembuh.

"Maka dari itu, melihat bahanya penyakit HIV/AIDS tersebut, masyarakat harus sadar dan bersama-sama mewaspadai penyakit HIV/AIDS dan melakukan upaya pencegahan sesuai petunjuk kesehatan," tutur Marhaen Djumadi.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Kumpulan berita seputar Nganjuk

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved