Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Gresik

Hilirisasi PT Freeport Indonesia Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Tren mewujudkan energi bersih mendorong berbagai pihak beralih ke moda transportasi listrik. Hilirisasi PT Freeport dukung ekosistem kendaraan listrik

Editor: Taufiqur Rohman
Istimewa
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas menunjukkan proyek Smelter Freeport di Gresik kepada sejumlah wartawan, termasuk Tribunnews.com, Jumat (13/1/2022). 

Pekerjaannya sangat masif, mulai pengerukan lahan (biayanya lebih Rp 1 triliun, termasuk menimbun material tanah setinggi tiga meter), pembangunan jalan, jembatan, gedung, dan pabrik.

Sejumlah gedung sedang dikerjakan simultan saat ini.

Sebanyak 17.434 tiang pancang diperlukan.

Sebagian besar sudah terpasang.

Gedung-gedung dibangun dengan kontruksi baja.

Saat Tribunnews dan sejumlah pemimpin media massa di sana bersama Tony Wenas, pekerja tampak sibuk di tengah cuaca panas menyengat 31 derajat Celcius.

Bangunan, fasilitas, dan infrastuktur --termasuk pembangkit listrik dan pemurnian air laut-- dibangun bersamaan.

Sederhananya bayangkan seperti ini: puluhan bangunan 'tiba-tiba' kelar seketika sebelum akhir Mei tahun depan, listrik menerangi gedung, jalan, dan kawasan Smelter Freeport.

Smelter Gresik itu akan tampak seperti kota baru yang terang benderang di malam hari.

Tentang Smelter

Proses pembangunan proyek Smelter Freeport di Gresik.
Proses pembangunan proyek Smelter Freeport di Gresik. (ISTIMEWA)

Smelter adalah istilah pertambangan.

Secara teknis, smelter merupakan fasilitas peleburan dan pemurnian konsentrat.

Sederhananya, smelter adalah tempat mengolah, memproses, bahan tambang sebelum menjadi barang siap jual seperti emas, perak, dan platinum.

Bahan tambang itu disebut konsentrat, bahan berbentuk pasir olahan dari batuan tambang (ore), yang mengandung tembaga, emas, perak, dan platinum.

Karena tempat mengolah, tentu ada mesinnya, ada proses input dan ada proses ouput --mesin pengolahan inilah yang investasinya mahal, mesin buatan Finlandia semi-otomatis.

Bahan tembaga yang mengadung tembaga, emas, perak, dan platinum dikirim dari Pelabuhan Timika, Papua.

Ini tempat penampungan hasil tambang mentah milik Freeport yang dibawa dari lokasi Tambang Grasberg, Distrik Tembagapura, Mimika.

Dari Timika diangkut dengan kapal, butuh waktu sekitar sepekan sebelum sampai di Gresik.

Jika proyek ini sudah beroperasi komersial akhir 2024, maka bahan tambang Freeport tidak akan lagi dikirim dan diolah di Jepang.

Proyek Smelter Gresik

Secara keseluruhan, kata Tony Wenas, proyek ini telah rampung 51,7 persen.

Biaya yang sudah diserap sekitar Rp 25 triliun dari total anggaran Rp 42 triliun.

Kelak, bila sudah berproduksi komersial, Smelter Gresik akan mengolah konsentrat 1,7 juta dmt per tahun --untuk melengkapi smelter Freeport sebelumnya, juga di Gresik, yang kemampuannya hanya 300 ribu.

Smelter lama pun akan ditingkatkan kapasitasnya dari 300 ribu menjadi 1,3 juta.

Dua smelter itu diproyeksikan bisa mengolah konsentrat 3 juta dmt per tahun.

Selain memproses emas, perak, dan platinum, 'sisa-sisa' bahan olahan akan menghasilkan asam sulfat (dibeli PT Petrokimia Gresik) serta terak tembaga dan gipsum (dibeli PT Semen Indonesia).

Emas Freeport, antara lain, dipasok ke PT Antam.

Smelter, kata Tony Wenas, juga akan memproses tembaga, salah satu bahan baku penting mobil listrik.

Menurut Tony, mobil listrik membutuhkan tembaga empat kali lebih banyak daripada mobil konvensional.

"Enam belas bulan dari sekarang, Smelter Gresik akan beroperasi," kata Tony Wenas.

Ini akan menandai babak baru PT Freeport Indonesia, perusahaan asing yang "dinasionalisasi" dengan kepemilikan saham mayoritas pemerintah, yang mengolah bahan bakunya 100 persen di dalam negeri, dan memberikan kontribusi ke negara berlipat-lipat.

Jokowi tentu akan senang mengakhiri masa jabatan keduanya sebagai presiden dan meninggalkan Freeport dan Smelter Gresik sebagai salah satu legasi kepemimpinannya

Ikuti berita seputar Gresik

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved