Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Viral

Keluarga Korban Tambang Emas Banyumas Berharap Pemerintah Beri Bantuan Ekonomi: Bukan Cuma Mi Instan

Keluarga korban tambang emas ilegal Banyumas berharap, pemerintah bisa membantu meringankan perekonomian keluarga korban.

Penulis: Alga | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATENG.COM/Permata Putra Sejati - KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN
Keluarga korban penambang emas yang dinyatakan hilang di Banyumas berharap bantuan dari pemerintah bukan cuma mie instan 

TRIBUNJATIM.COM - Para keluarga korban tambang emas ilegal di Banyumas, Jawa Tengah, berharap pemerintah beri bantuan biaya sekolah.

Pasalnya selama ini bantuan dari pemerintah untuk keluarga korban asal Desa Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, cuma mie instan.

Mereka berharap, pemerintah bisa membantu meringankan perekonomian keluarga korban.

Pasalnya delapan korban yang dinyatakan hilang merupakan tulang punggung keluarga.

Baca juga: Terbongkar Cara Usman Selamat dari Lubang Maut Tambang Emas Banyumas, Sudah Tahu Risiko, Air Gede

Melansir Kompas.com, hal itu seperti disampaikan oleh ayah dari korban Marmumin (32), Rabbani (60).

Rabbani mengatakan, anaknya memutuskan menjadi penambang ilegal demi menyambung hidup.

Ditambah lagi, Marmumin memiliki dua anak perempuan berusia dua dan enam tahun yang harus dicukupi kebutuhannya.

"Anak saya kerjanya serabutan, dagang pun hasilnya dikit, enggak cukup buat makan. Makanya ikut jadi penambang emas."

"Kan dia harus membangun rumah yang layak serta menafkahi anak dan istrinya," ujar Rabbani saat ditemui Kompas.com di rumahnya yang baru direnovasi, pada Rabu (2/8/2023).

Saat kabar anaknya menjadi korban tambang emas Banyumas dan dinyatakan hilang, kata Rabbani, mimpi untuk memiliki rumah layak dan anak-anak bisa sekolah pun sirna.

"Harapannya pemerintah membantu kami agar mimpi dan cita-cita anaknya tercapai. Sekolah bisa terus lanjut. Karena (anak) yang tua mau masuk PAUD," harapnya.

Keluarga lainnya, Afif Saifuddin (36), mengatakan hal serupa.

Ia mengaku bahwa pemerintah hanya memberi bantuan mi instan.

Afif mengaku kecewa dan tak mau berharap lebih.

Menurutnya, delapan pekerja tambang ini hanya orang-orang yang ingin mengubah nasib menjadi lebih baik.

Mereka bermimpi melepaskan diri dari jerat kemiskinan dengan menjadi penambang emas.

"Harapan saya sih sebagai adik, Mulyadi (korban) itu bisa ditemukan."

"Kalau kemarin saudara kami bisa kembali (pulang kampung), tapi sekarang dalam keadaan seperti ini, terjebak di dalam."

"Kami coba pasrah dalam keadaan seperti ini," ujar adik dari Mulyadi ini.

Afif mengatakan, sejauh ini bantuan dari pemerintah hanya berupa mi instan.

"Kalau dari pihak pemerintah yang kami inginkan ada bantuan apa gitu, jangan cuma mi instan."

"Kami keluarga ingin bisa melanjutkan pembangunan rumah dan dapat akses pendidikan layak untuk anaknya yang masih kecil, sehingga cita-cita mereka tercapai," tegasnya.

Baca juga: Penyesalan Korban Selamat dari Lubang Maut Tambang Emas Banyumas, Sebut Tangan Tak Sampai: Adu Nasib

Diberitakan sebelumnya, sebanyak delapan orang pekerja terjebak di lubang galian tambang emas ilegal di Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (25/7/2023) malam.

Delapan penambang emas ini adalah Marmumin (32), Mulyadi (40), Muhidin (44), Ajat (29), Mad Kholis (32), Cecep Supriyana (29), Rama Abd Rohman (38), dan Jumadi (33).

Hingga kini mereka belum ditemukan dan telah dinyatakan hilang.

Sementara korban selamat bernama Usman Sugalih (41) menyaksikan detik-detik delapan penambang tak bisa keluar dari lubang galian sedalam 70 meter.

Usman Sugalih mengaku bahwa satu di antara korban adalah keponakannya.

Ia kini mengungkap penyesalaannya terkait tragedi maut tambang emas yang merenggut nyawa delapan orang.

Terbongkar Cara Usman Selamat dari Lubang Maut Tambang Emas Banyumas, Sudah Tahu Risiko
Terbongkar cara Usman selamat dari lubang maut tambang emas Banyumas (TRIBUNJATENG.COM/Permata Putra Sejati)

"Kami pun ingin sebetulnya menolong rekan dan keluarga kami di dalam sana, cuma situasi yang tidak memungkinkan, kami kembali lagi ke atas."

"Setelah itu kami siapkan alat untuk membantu, cuma apalah daya, tangan tak sampai, air itu gede banget," ujarnya kepada wartawan, Rabu (2/8/2023), dikutip dari TribunnewsBogor.com.

Selama proses pencarian, ia pun sangat berharap para korban dapat ditemukan, akan tetapi nasib berkata lain.

Jangankan ditemukan dalam kondisi selamat, jasad korban tak ada satu pun yang berhasil dievakuasi, karena tingginya volume air di dalam tanah.

"Namanya usaha, mengadukan nasib, mudah-mudahan ada rezeki kita ke sana."

"Harapannya dibawa pulang ke Kiarasari apapun kondisinya, cuma mungkin kondisinya sangat sulit, kembali lagi ke takdir Allah," ucapnya.

Dengan telah dihentikannya proses pencarian, ia dan para keluarga korban lainnya mengaku sudah menerima semua kenyataan pahit ini dengan lapang dada.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Tim SAR gabungan, Pemerintah Banyumas, dan Pemerintah Kabupaten Bogor.

Mereka telah berupaya untuk melakukan pencarian kepada para korban meskipun hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan keluarga.

"Kami mengikuti prosedur aja, keluarga sudah mengikhlaskan," pungkas Usman.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved