Berita Pasuruan

Cara Aktivis Pasuruan Kritisi Putusan DPRD Usul Pj Bupati, Aksi Teatrikal Badut Berdasi Suapi Bebek

Lujeng Sudarto, Direktur Pusat Studi dan Advokasi (PUSAKA) memiliki cara unik dalam kritisi keputusan tujuh fraksi di gedung DPRD Kabupaten Pasuruan.

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Sudarma Adi
TRIBUNJATIM.COM/GALIH LINTARTIKA
Aksi kritik teaterikal monolog yang dilakukan Lujeng Sudarto seorang diri di depan Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan atas kebijakan pengusulan satu nama oleh tujuh fraksi. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Galih Lintartika 

 

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Lujeng Sudarto, Direktur Pusat Studi dan Advokasi (PUSAKA) memiliki cara unik dalam mengkritisi keputusan tujuh fraksi di gedung DPRD Kabupaten Pasuruan yang sepakat mengusulkan satu nama untuk Pj Bupati Pasuruan.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, tujuh fraksi di gedung dewan sepakat mengusulkan Nur Kholis, Kepala ESDM Provinsi Jawa Timur sebagai Pj Bupati Pasuruan yang masa jabatannya habis september mendatang.

Lujeng, sapaan akrabnya, mengawali sikap protesnya di gedung DPRD dengan cosplay menjadi badut berdasi. Dia mengenakan topeng badut lucu lengkap dengan hidung menonjol warna merah.

Dia juga mengenakan jas, lengkap dengan dasinya. Dia berjalan di depan gedung dewan dengan diiringi lagu dari Kotak berjudul pelan-pelan saja. Lujeng tampak menikmati monolog teaterikal itu. Dia mendalami peranannya.

Tak lama berselang, ada suara keras dan rebana yang ditabuh. Lujeng berlari ke belakang. Tak lama ia keluar dari balik poster dan sudah menerima tamu yang dianggap sebagai cukong pembawa uang.

Baca juga: Minta Maaf Langsung, Personel Kotak dan Manajemen Kunjungi Pasien RSUD Bangil Pasuruan

Lujeng lantas memamerkan uang yang ada di dalam tasnya itu. Selanjutnya, ia berekspresi dengan bebek yang disimpan dalam kurungan warna - warni. Ada hijau, kuning, merah dan biru. Lujeng berinteraksi dengan bebek itu.

Setelah itu, Lujeng menyodorkan beberapa amplop ke dalam kandang bebek itu. Dia terus memerintahkan bebek dari luar kandang. Lujeng juga meminta bebek - bebek itu untuk mengikuti apa yang menjadi kemauannya.

Kepada Tribun Jatim Network, Lujeng mengatakan, apa yang dilakukannya ini adalah sebuah sikap kritik politik dalam bentuk teaterikal monolog. Ia mengkritik kebijakan penunjukkan Pj Bupati Pasuruan yang hanya satu orang.

“Munculnya Pj yang direkomendasikan hanya satu orang itu aneh. Anggota dewan itu memiliki hak konstitusi untuk mengusulkan 3 orang nama, tapi kenapa hanya satu nama. padahal ada 50 orang dan tujuh fraksi di sini,” katanya.

Baca juga: RSUD Bangil Pasuruan Klaim Sudah Antisipasi hingga Simpulkan Hiburan Musik Kotak Tak Ganggu Pasien

Lujeng menilai kebijakan ini meninggalkan kesan transaksional. Menurutnya, tidak ada makan siang gratis. Seharusnya, sebelum mengusulkan nama itu, DPRD harus menguji pikiran calon Pj.

“Jika seperti ini, ada kesannya yang diuji adalah isi dompet calon Pj. Jika tuduhan itu benar, maka jangan marah jika saya sebut anggota DPRD sedang melakukan makelaran. Hingga akhirnya kami buat kritik,” terangnya.

Oleh karenanya, kata Lujeng, dirinya sengaja membuat simbol kurungan atau kandang bebek warna - warni lengkap dengan bebeknya. Ini simbol bahwa sikap politik anggota DPRD Pasuruan ini “membebek”.

“Gedung dewan ini tempat para wakil rakyat bukan tempat kandang bebek. Partai politik itu mengkader politisi yang pro rakyat bukan tempat peternakan politik sehingga menghasilkan kader yang membebek tidak memiliki pemikiran otonom yang kritis,” ungkapnya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved