Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Arti Kata

Arti Kata Pengemis yang Ternyata Berasal dari Tradisi Raja Keraton Surakarta, Ketahui Sejarahnya

Simak arti kata pengemis yang ternyata berasal dari salah satu tradisi Raja di Keraton Surakarta dan sudah masuk KBBI. Ketahui pula sejarahnya di sini

Editor: Elma Gloria Stevani
Kompas.com/ERICSSEN
Ilustrasi pengemis. Pengemis merupakan suatu kata yang sudah terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). 

Menurut Ganjar, kata kemis berasal dari bahasa Arab khamis, yang berarti hari ke-5 dalam jangka waktu satu minggu.

Kata itu kemudian diserap ke dalam bahasa Jawa menjadi "Kemis".

"Jika ada yang mengatakan bahwa kata pengemis berasal dari kata wong kemis atau wong ngemis, dapat ditelusuri dari tradisi kemisan di masa Sri Susuhunan Paku Buwono X (yang memerintah di Kesunanan Surakarta pada tahun 1893–1939," jelasnya.

Sejarah kata pengemis

ROMBONGAN—Inilah salah satu tangkapan layar video rombongan <a href='https://jatim.tribunnews.com/tag/pengemis' title='pengemis'>pengemis</a> diturunkan di salah satu ruas jalan di Kota Madiun, Jawa Timur yang viral di media sosial.

ROMBONGAN—Inilah salah satu tangkapan layar video rombongan pengemis diturunkan di salah satu ruas jalan di Kota Madiun, Jawa Timur yang viral di media sosial. (KOMPAS.com/Tangkapan Layar)

Ganjar menjelaskan, pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X, setiap hari Kamis, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu sering menemui rakyatnya di luar istana.

"Beliau biasa membagikan udhik-udhik atau sedekah berupa uang koin kepada masyarakat," kata Ganjar.

Dilansir dari penelitian Berpangku pada Raja: Pengemis dalam Narasi Sedekah Paku Buwono X Tahun 1893-1939 oleh Resianita Carlina, tradisi kamisan merupakan sebuah upacara adat yang diselenggarakan rutin setiap hari Kamis.

Upacara itu dimaksudkan untuk menyambut hari Jumat, hari yang dimuliakan dan dalam pengertian masa kerajaan Mataram Islam disebut sebagai harinya raja.

Pada hari itu, Paku Buwono X akan keluar dari Keraton untuk melihat kondisi rakyatnya.

Momen itu digunakan juga untuk mendekatkan diri kepada rakyatnya, salah satunya dengan membagikan udhik-udhik atau sedekah.

Awalnya, mereka yang menerima udhik-udhik menganggap bahwa pemberian sang Raja sebagai berkah yang tak ternilai.

Namun, dalam perkembangannya orang-orang yang menerima udhik-udhik itu disebut wong kemisan.

"Lambat laun, istilah tersebut berubah menjadi wong ngemis atau ‘orang yang meminta (minta),," jelas Ganjar.

Muncul pada 1890-an

Ganjar menambahkan, kata pengemis itu diperkirakan muncul pada 1890-an.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved