Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Pelawak Eko Londo Meninggal

Duka Cak Suro Kenang Sosok Pelawak Eko Londo yang Disiplin Waktu: Acara Jam 12, Datang Jam 9

Eko Untoro Kurniawan (66) alias Eko Londo, seniman pelawak Surabaya jebolan Grup Lawak Legendaris Srimulat dikenal disiplin waktu kala bekerja.

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM/LUHUR PAMBUDI
Cak Suro saat di rumah duka pelawak Eko Londo, Jumat (24/11/2023) dan foto Eko Londo semasa hidup (ist) 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA- Eko Untoro Kurniawan (66) alias Eko Londo, seniman pelawak Surabaya jebolan Grup Lawak Legendaris Srimulat dikenal disiplin waktu kala bekerja.

Menurut sahabat sesama seniman Heri Suryanto alias Cak Suro, kedisiplinan diri patut diacungi jempol dan wajib ditiru oleh para seniman atau entertainer muda, adalah soal waktu. 

Sahabatnya itu, tak ingin membuat klien yang bekerja sama dengannya merasa gamang dan kecewa gegara persoalan teknis sepele sebuah pekerjaan. Terlambat datang ke tempat acara atau shooting, misalnya. 

Oleh karena itu, ungkap Cak Suro, Eko Londo selalu datang lebih awal 2-3 jam sebelum acara.  

"Dan kedisiplinannya. Kita main jam 7, jam 5 atau paling lambat jam 6 sudah di lokasi.  Iya mentalitas kedisiplinannya luar biasa. Terakhir sama saya. Saya show habis zuhur hanya 12.00. Dia jam 9 sudah di rumah saya," katanya pada awak media di rumah duka, Jumat (24/11/2023). 

Berpulangnya Eko Londo menjadi salah satu pukulan telak dunia kesenian dan lawak Surabaya atau 'Jawatimuran'. 

Menurut Cak Suro, Eko Londo memiliki karakter lawakan yang terbilang unik. Selain dikaruniai wajah ala 'Blasteran', sahabatnya itu juga memiliki karakter komedi jawatimuran yang cepat, spontanitas dan selalu cekatan meladeni pola komedi improvisasi. 

"Contohnya. Dia pakai pakaian gaya Arab. Lalu kami tanya; mau ke mana. Dia jawab; lho aku habis ngimami di Masjid Al-falah. Yo lek kamu cuma doa kulhuallahuahad sing iso. Lek aku, innallaha maashobirin, hehehe," ungkapnya. 

Secara fisik, Eko Londo juga terbilang seniman yang enerjik. Usia yang demikian senja, tak membuatnya lembek. 

Cak Suro tak menampik, sosok sahabatnya itu, sebagai seorang yang memiliki pribadi pendiam, ketika berada di sebagai situasi lingkungan sosial kemasyarakatan. 

Namun, ketika mulai berakting di depan kamera. Eko Londo bakal mencurahkan segala tenaga dan pikirannya secara penuh, agar dapat menyajikan sebuah penampilan yang mengesankan. Dan tentunya tetap menghibur. 

"Nah Cak Eko, itu kalau di darat pendiam. Tapi kalau show action, luar biasa, full, benar benar beda dan cepat. Diajak ke mana ikut. Dia gak ada nolaknya," katanya. 

Sebenarnya, Cak Suro mengungkapkan, ia dengan Eko Londo memiliki sebuah produk kesenian berupa video vlog lawakan gaya 'Suroboyoan' yang diunggah dalam channel Youtube-nya, bernama 'Cak Suro' dengan 28,9 subscriber. 

Channel tersebut telah dirintis sejak masa Pandemi Covid-19 tahun 2020 silam. Channel tersebut juga terdapat video dirinya dengan Eko Londo memainkan peran dua orang yang memiliki karakter berbeda. 

Ia berperan sebagai sosok pemuda yang memiliki wawasan luas dan terbuka. Sedangkan, sosok Eko Londo sebagai orang tua yang kolot, konservatif nan udik. 

Kedua karakter tersebut tentunya saling berbenturan. Namun, di situ letak komedi dan yang bakal menjadi penghantar pesan sosial budaya dan kearifan ala warga Suroboyoan. 

"Sampai saya punya konsep, bahwa Kata Jancuk itu, di daerah lain, diartikan kasar. Tapi kalau di Surabaya, kan beda," ungkapnya. 

"Maka saya dan cak eko. Berusaha menetralkan arti kata jancuk. Bahwa jancuk itu, bisa artinya senang, heran, sedih, ngamuk, cinta dsb. Itu yang saya dan cak eko, terus bergelora," pungkasnya. 

Sementara itu, Herlina Puspita Sari (35) anak ketiga Eko Londo mengatakan, sosok ayahnya itu memang memiliki kedisiplinan diri tinggi soal waktu. 

Dan selama ini, selalu menerapkan prinsip, lebih baik dirinya yang menunggu, daripada orang lain yang kerepotan menunggu. 

Prinsip sederhana itu, yang selalu diajarkan sang ayah kepada semua anak-anaknya. Dan hingga kini menjadi bekal untuk mengantarkan anak-anaknya menuju kesuksesan. 

"Jadi beliau sudah disiplin. Saat ada job, shooting jam 12, tapi beliau sudah datang jam 7-8. Prinsipnya beliau lebih baik aku menunggu daripada yang kasih job aku menunggu. Itu yang diajarkan ke anak anak," ujar Herlina saat ditemui di rumah duka. 

Sekadar diketahui, Eko Londo, pelawak Surabaya jebolan Grup Lawak Legendaris Srimulat meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis selama sebulan karena luka yang dialaminya akibat kecelakaan lalu lintas, pada Kamis (26/10/2023). 

Eko Londo menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 06.00 WIB, Jumat (24/11/2023). Jenazah kemudian disemayamkan di rumah duka Jalan Kembang Kuning Kulon 2 No 21 A, Pakis, Sawahan, Surabaya, sekitar pukul 11.25 WIB. 

Jenazah Eko Londo disalatkan di Masjid Rahmat, sekitar pukul 15.00 WIB, atau setelah ibadah Salat Asar berjamaah. Kemudian, jenazah dikebumikan di TPU Kembang Kuning, Surabaya, sekitar pukul 16.00 WIB. 

Diberitakan sebelumnya, Eko Londo mengalami kecelakaan di Jalan dr Soetomo. Berdasarkan keterangan saksi, warga Kembang Kuning Kulon, Kecamatan Sawahan tersebut, tengah menaiki sepeda motornya yang berjenis matic bernopol L-6828-AXL, pada Kamis (26/10/2023). 

"Saksi melihat korban melaju dari arah timur ke barat, setibanya di Jalan dr Soetomo korban kehilangan kendali sepeda motornya," kata Kabid Darlog BPBD Surabaya, Buyung Hidayat , ketika dikonfirmasi melalui pesan.

Akibatnya, Eko Londo langsung terpental dari sepeda motor yang dikendarainya tersebut, hingga ke pedestrian.

Warga yang melihat hal itu langsung mendatanginya untuk memberikan pertolongan.

"Korban mendapatkan pengecekan dan penanangan di lokasi oleh rekan-rekan PMI (Palang Merah Indonesia). Korban menglami luka robek di muka atau pipi kanan dan lecet di bahu, kondisinya tidak sadar," jelasnya.

Kemudian, petugas membawa Eko Londo ke RSUD dr Soetomo agar segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Seorang sahabat bernama Heri Suryono alias Cak Suro menjelaskan, Eko Londo mengalami tak sadarkan diri pasca kecelakaan.

"Sampai sekarang koma di ICU (RSUD dr Soetomo)," kata Cak Suro, dikutip dari Kompas.com.

Akibat kecelakaan tersebut, kata Cak Suro, satu tulang yang ada di leher bagian belakang Eko Londo mengalami kerusakan.

"Pas dibawa ke rumah sakit itu sudah enggak sadar. Saya tanya, katanya, tulang yang paling tinggi di leher dan nempel ke kepala itu ada dua tulang, ada satu rusak parah," jelasnya.

Cak Suro mengungkapkan, setelah mendapatkan perawatan, kondisi kesehatan Eko Londo sendiri sudah semakin stabil. Namun, temannya tersebut hingga kini belum sadarkan diri.

"Sekarang sudah dikasih selang (alat bantu pernafasan). Terus sekarang nafasnya juga sudah normal, tapi belum sadar, masih koma," ujar dia.

Cak Suro pun berharap masyarakat agar ikut membantu mendoakan kesembuhan sahabatnya tersebut. Sebab, Eko Londo merupakan pelawak yang memiliki ciri khas Surabaya yang kuat.

"Saya minta doa supaya Cak Eko Londo diberi kesadaran lagi, diberi kesembuhan. Ketika Cak Eko Londo ada masalah dengan kesehatan seperti ini, saya merasa kebingungan sekali," ucapnya.

Biodata Eko Londo

Eko Londo lahir di Surabaya pada Agustus 1957 silam. Pria berusia 66 tahun ini dikenal sebagai pelawan yang tergabung dalam grup Srimulat.

Pria berdarah Belanda ini sejak kecil tergila-gila pada Srimulat. Bahkan, ketika ada pentas Srimulat, ia akan merengek minta diantar melihat.

Ternyata rasa cinta itu berlanjut hingga ia dewasa.

Tahun 1980-an, Eko pun memberanikan diri melamar menjadi anggota Srimulat

Saat itu Srimulat sudah mulai disebut-sebut sebagai grup lawak paling tenar, tetapi masih terbatas pentas di Surabaya dan Jawa Timur saja dan belum melebarkan sayapnya ke Solo, Semarang, maupun Jakarta.

Pada saat itu Teguh (pendiri Srimulat) menolaknya dengan halus karena pada saat itu pelawak Srimulat terkenal dengan wajahnya yang kurang ganteng semua.

Hal ini disebabkan meskipun asli Surabaya, Eko memang mempunyai darah Belanda. Ibunya, Andreana Helena Kohen, adalah nonik Belanda, putri seorang tentara kolonial yang bertugas di Surabaya.

Eko sudah pernah ikut main ludruk bersama Jalal (pelawak) dan juga dengan Cak Tohir yang membentuk Ludruk Gelora 10 November.

Tapi karena sangat inginnya ia bergabung dengan Srimulat, ia tak kekurangan akal. Ia terus main ludruk dari satu pentas ke pentas lain.

Selain itu kelucuannya ia juga muncul di panggung, mulai acara Agustusan di kampung-kampung hingga ke restoran mewah maupun hotel atas inisiatif pengusaha maupun pejabat.

Di situlah nama Eko mulai dikenal. Dia pun sedikit memberi embel-embel namanya dengan sebutan Eko Handai Taulan Hawai Five O John Aloha.

Julukan itu muncul begitu saja. Khusus yang Aloha, karena ia sering diminta pentas di Restoran Aloha.

Namun lagi-lagi pria yang kini suka pakai udheng itu belum puas, meski sudah mulai dikenal. Ia tetap ingin gabung dengan Srimulat.

Dia pun terus belajar dan mendekati para anggota Srimulat, sampai pada akhirnya pada 1984 ia diterima.

Begitu bergabung, ayah enam anak dan kakek empat cucu tersebut mendapat permintaan pentas yang terus mengalir bak air bah.

Nyaris tak ada hari tanpa ada orang atau instansi yang memakai jasanya. Karena mulai kebanjiran order, Srimulat pun menggagas ekspansi gedung ke Solo, Semarang, dan Jakarta.

Sebelum 1989 Eko lebih banyak melawak lewat TVRI.

Karena nama julukannya terlalu panjang, maka orang TVRI pun memberinya julukan baru: Eko Tralala

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved