Berita Lamongan
Cuaca Ekstrem dan Ombak Besar, Ribuan Nelayan di Lamongan Pilih Sandarkan Perahunya: Risiko Tinggi
Cuaca ekstrem musim penghujan di barengi ombak tinggi membuat nelayan di Lamongan tidak berani melaut dan memilih menyandarkan perahunya.
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Sudarma Adi
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Hanif Manshuri
TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Cuaca ekstrem musim penghujan dibarengi ombak tinggi membuat nelayan di Lamongan tidak berani melaut dan memilih menyandarkan perahunya.
Total dari 32.000 nelayan, hanya 40 persen melaut, sisanya menyandarkan perahunya sembari menunggu cuaca bersahabat.
Ombak besar dan angin laut berisiko tinggi terhadap keselamatan para nelayan. Para nelayan lebih memilih menyandarkan perahunya sembari beraktifitas memperbaiki beberapa bagian perahu yang rusak.
Karena tidak melaut, ada yang mengisinya dengan sekedar mencuci badan perahu. Menyulam (memperbaiki) jala dan jaring.
"Kalaupun ada yang nekat melaut hanya sebagian kecil, itupun hanya perahu berukuran besar," kata Ketua Forum Rajungan Nelayan Lamongan, Mukhlisin Umar kepada Tribun Jatim Network, Senin (18/3/2024).
Baca juga: Aksi Nekat Pria Lamongan Jarah Uang Kotak Amal di Makam Syekh Maulana Ishaq Jelang Buka Puasa
Saat ini ada ribuan perahu bersandar di Sedayu, Brondong, Paciran, Weru dan Blimbing.
Meski tidak melaut, persedian untuk kebutuhan sehari – hari masih mencukupi. Saat cuaca baik, nelayan banyak yang menyisihkan hasilnya untuk persediaan saat cuaca ekstrem.
"Kami nelayan sudah mengatur keuangan selama cuaca mendukung atau hasil tangkapan banyak,” katanya.
Menurut Mukhlisin, hanya sekitar 40 persennya yang berani melaut. Mereka takut karena ombak cukup tinggi.
Nelayan dihantui ketakutan jika memaksakan untuk melaut melawan ombak. " Bahkan ini ada nelayan yang bertahan seperti di Pulau Masalembu, Rakas dan Dekek tidak berani pulang karena ombak besar," katanya.
Baca juga: Lamongan Tiap Hari Diguyur Hujan sejak Awal Ramadan 2024, Banyak Pohon Tumbang di Jalan
Namun Mukhlisin tidak menyebut pasti berapa jumlah nelayan yang bertahan di tiga pulau tersebut.
Biasanya, awal musim penghujan seperti ini banyak mendapat hasil karena tangkapan jenis ikan tongkol cukup banyak.
Harga melambung itu karena tidak banyak tangkapan akibat nelayan tidak banyak yang melaut.
”Kita berharap cuaca normal. Sekarang ini kami tidak bisa memaksakan diri melaut karena resiko tinggi,”ungkap Mukhlisin.
Mukhlisin mengaku intens berkomunikasi dengan sesama nelayan. Baik nelayan Blimbing, Brondong, Sedayulawas, Paciran maupun nelayan Weru.
| Tekan Sebaran PMK, 13 Pasar Hewan Tingkat Desa Ditutup, Bupati Lamongan: Susul 2 Pasar Hewan Besar |
|
|---|
| Segini Santunan KPU Lamongan pada 5 Petugas Adhoc Meninggal dan Kecelakaan Saat Tugas Pilkada 2024 |
|
|---|
| Kecelakaan di Lamongan, Truk Trailer Tabrak Median Jalan, Sopir Diduga Kurang Konsentrasi |
|
|---|
| Dua Pasar Hewan di Lamongan Masih Ditutup, PD Pasar Tunggu Hasil Evaluasi selama 14 Hari |
|
|---|
| Cinta Ditolak Bogem Berbicara, Pelajar di Lamongan Tega Habisi Teman Wanita di Warkop, Fakta Terkuak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Perahu-para-nelayan-disandarkan-tidak-melaut-karena-cuaca-ekstrem-Senin-1832024.jpg)