Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Viral

Anak Kapten TNI Tinggal di Bunker Berpintu Besi Peninggalan Ayah, Hasil Merebut Penjajah Belanda

Seorang anak kapten TNI membagikan kisah hidupnya tinggal di bunker peninggalan ayahnya sejak masa peperangan sebelum Indonesia merdeka.

Penulis: Ignatia | Editor: Mujib Anwar
Kompas.com
Kondisi bunker peninggalan veteran Kapten TNI yang dulu hasil merebut penjajah Belanda, warga Surabaya ini nyaman tinggal di dalamnya. 

TRIBUNJATIM.COM - Cara hidup unik dijalani oleh seorang anak veteran Kapten TNI yang dulu pernah membela negara dan mengusir penjajah.

Merebut bunker berpintu besi yang ada di Surabaya, veteran kapten TNI ini mewarisi bunker kepada anak-anaknya.

Sang anak akhirnya merawat dan menghuni bunker tersebut untuk dijadikan rumah.

Kini, banyak orang yang merasa hidup Endang Supatmiati unik dan berbeda dari kebanyakan masyarakat sekitarnya.

Hal itu lantaran rumahnya yang merupakan bunker dan memiliki pintu yang terbuat dari besi.

Endang Supatmiati masih menempati bunker bekas perang di Jalan Rajawali, Krembangan, Surabaya.

Bunker tersebut merupakan tempat yang direbut orang tua perempuan 68 tahun tersebut dari tentara Belanda.

Berdasarkan pantauan Kompas.com yang dikutip TribunJatim.com, Kamis (16/8/2024), bungker perang itu terletak di kantor Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI) Surabaya.

Tepatnya, berada di tengah area perkampungan.

Endang mengaku sudah menempati bungker tersebut sejak lahir sekitar tahun 1956.

Baca juga: Dikira Bunker Ada di Bawah Gereja Lampung, Pihak Pengurus Bantah Pengakuan TikToker: Itu Septic Tank

Sebelumnya, dia tinggal bersama kedua orang tuanya yang dulunya merupakan veteran perang.

Ayahnya yang bernama Mustamin Tutut Wardoyo merupakan seorang Kapten TNI Angkatan Darat (AD) E.

Sedangkan ibunya, Sumiati, merupakan perawat di Rumah Sakit Pegirian, Surabaya.

"Orang tua, bapak sama ibu dulunya tinggal di sini (bunker). Terus ada saya anak nomor empat dan delapan saudara," kata Endang ketika ditemui di bunker Jalan Rajawali, Rabu (14/8/2024).

Bunker milik anak veteran Kapten TNI
Bunker milik anak veteran Kapten TNI (Kompas.com)

Terlihat dari luar, bunker tersebut memiliki pintu besi dengan ukuran lebar sekitar 1 meter dan tinggi 2 meter.

Selain itu, ada dua buah lubang berukuran 55 sentimeter di dinding.

Kemudian, ada tangga menurun ketika baru membuka pintu dalam bunker tersebut.

Hanya terlihat dua ruangan di dalamnya, satu untuk kamar tidur dan sisanya dapur dan tempat barang.

"Saya tinggal di sini sendiri, semua saudara sudah punya rumah, di sebelah ada bunker lagi ditempati sama sepupu. Tapi semua yang di komplek sini (KCVRI) keluarga veteran," jelasnya.

Baca juga: Anak Buah Gembong Narkoba Fredy Pratama Modifikasi Mobil Jadi Bunker Penyimpan Sabu Belasan Kilogram

Endang mengungkapkan, bunker tersebut sebelumnya ditempati oleh pihak Belanda, sekitar tahun 1945.

Akhirnya, tempat itu direbut oleh ayahnya yang merupakan tentara Indonesia.

"Ketemunya dulu bapak sempat tertembak musuh di matanya, diobati sama ibu. Terus bapak merebut komplek ini dari Belanda, dia menikah sama ibu dan tinggal di sini sampai punya anak," ujarnya.

Sebenarnya Endang sudah mempunyai rumah di daerah Benowo, Surabaya.

Namun, dia mengaku lebih sering tinggal di bunker tersebut karena merasa nyaman.

"Enak di sini (tinggal di bunker), kalau siang Surabaya kan panas, tapi di bunker ini lebih dingin, mungkin karena di bawah tanah. Terus kadang kalau ada tamu ya saya suruh tidur di sini," ucapnya.

Bunker yang ditinggali oleh seorang warga Surabaya
Bunker yang ditinggali oleh seorang warga Surabaya (Kompas.com)

Bangunan bunker memang aman untuk tempat berlindung.

Bunker lain yang kekuatannya dahsyat misalnya adalah yang satu ini.

Bangunan dan jendela tempat bunker berdiri dibuat dari bahan-bahan anti pecah.

Gempuran ribuan roket yang diluncurkan Hamas membuat warga Israel ketakutan dan cemas hingga mereka ramai-ramai menyelamatkan diri dengan bersembunyi di bunker.

Warga Israel sudah tak asing dengan tempat perlindungan bom.

Pasalnya, sejak tahun 1990-an bangunan yang berdiri di negara tersebut sudah lengkap dengan ruangan yang tahan dari hantaman bom.

Dilansir Tribun Jatim dari Kompas TV, bunker tersebut memiliki ruangan dengan pintu baja dan dinding beton yang tebal.

Ada beberapa jendela yang terbuat dari kaca anti pecah.

Bunker itu juga memiliki ruangan yang lengkap di dalamnya dilengkapi juga dengan tempat tidur hingga perabotan darurat.

Walaupun tempat ini tidak didesain untuk perlindungan untuk jangka panjang, namun bunker milik warga Israel  masih bisa menyelamatkan nyawa warganya dalam keadaan genting.

Bunker ini mampu menjadi tempat berlindung para warganya agar tetap aman dari roket yang ditembakkan Hamas dari Jalur Gaza ke arah Israel.

Penampakan Bunker tempat berlindung Warga Israel
Penampakan Bunker tempat berlindung Warga Israel (Kompas TV)

Tetapi meskipun aman dari gempuran rudal Hamas, namun warga Israel tetap berharap tak ada lagi perang di negara mereka.

Kesaksian seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jalur Gaza, Palestina, menjadi sorotan, belakangan ini.

WNI yang bernama Abdillah Onim tersebut menceritakan suasana perang Hamas kontra Israel yang dimulai sejak Sabtu (7/10/2023) pagi.

Biasa disapa Bang Onim, ia adalah seorang aktivis kemanusiaan yang sudah 12 tahun tinggal di Jalur Gaza, Palestina.

Abdillah Onim turut merasakan kesedihan yang tak hanya dirasakan oleh warga kedua belah pihak.

Baca juga: Respon Presiden Jokowi Soal Perang Hamas Palestina dengan Israel, Desak Segera Hentikan Perang

Cerita tersebut Bang Onim bagikan di depan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI), Universitas Islam Indonesia (UII).

Prodi HI UII menggelar IR UII in Conversation yang bertajuk 'Konflik Israel-Palestina 2023: Sebuah Tinjauan Komprehensif Mengenai Situasi Terkini'.

Acara ini diselenggarakan pada Selasa (10/10/2023), melalui media telekonferensi Zoom dan disiarkan di kanal YouTube yang diatur mode tidak publik.

Bagi Bang Onim dan keluarga, suara dentuman bom atau rudal menjadi situasi yang biasa di alur Gaza.

Akan tetapi perang Hamas versus Israel kali ini merupakan salah satu yang terparah sejak tahun 2008 silam.

"Hari pertama, tanggal 7 Oktober, saya setelah selesai salat subuh, sekitar jam 05.00 waktu setempat, saya ingin rebahan sebentar," katanya membuka kisah hari pertama Hamas menyerang Israel.

"Tapi belum 10 menit, sudah ada suara tembakan rudal dan itu tidak ada tanda-tanda," imbuhnya.

"Ini pertama kali dalam sejarah, pejuang Palestina di Gaza melakukan perlawanan besar-besaran di pusat jantung Israel," terangnya.

Bang Onim sendiri mengaku sudah tiga hari tidak keluar dan belum sempat mandi.

"Bagaimana caranya memikirkan mandi, sedangkan memikirkan nyawa saja saya berpikir, apakah harus meninggal sekarang," ucap Bang Onim lagi.

Banyaknya rudal yang menghujani Palestina membuat awan yang tadinya putih jadi seperti api, berwarna kuning.

"Udaranya jadi berubah, tidak kelihatan sama sekali karena banyak rudal, bom," terang dia.

Kata Bang Onim, setidaknya ada 10 orang WNI yang kini berada di Jalur Gaza dan semuanya merupakan aktivis kemanusiaan.

Bang Onim tetap menjaga komunikasi dengan WNI lain, meski tak bisa keluar rumah.

"Buka pintu saja itu sangat berbahaya, karena takut kerekam dari drone Israel," terangnya.

Berita viral lainnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved