Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Viral

Tak Laku di Tanah Air, Nur Hasan Jual Briket Tembus Eropa, Kirim Berton-ton Untung Puluhan Juta

Tak laku di tanah air, produk briket buatan pria Lumajang malah tembus pasar eropa dan kini dikirim berton-ton ke Turki.

Penulis: Ignatia | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com
Pria Lumajang penjual briket yang kini tembus sampai pasar Eropa karena tak laku di tanah air 

TRIBUNJATIM.COM - Tak menyerah hanya karena produk buatannya tak laku di Indonesia atau pasar lokal, pria Lumajang raih kesuksesannya.

Berkat usahanya yang tak menyerah setelah memproduksi briket, Nur Hasan menuai kesuksesan.

Nur Hasan menjual briket namun ternyata tidak laku di pasar lokal.

Pria Lumajang ini berinisiatif untuk menjual produk buatannya ke benua Eropa.

Siapa yang menyangka, pria ini malah mendapatkan keberuntungan.

Berkat tangan kreatifnya, Nur Hasan (40) warga Desa Gucialit, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur memproduksi briket hingga diminati pasar benua Eropa.

Hasan menerangkan produk briket bikinannya menjadi pemasok rutin seorang pengusaha di negara Turki.

Pria ramah ini mengaku awal mula produk briketnya bisa menembus pasar mancanegara bermula ketika dirinya memasarkan produk kerajinannya di media sosial Facebook pada tahun 2023 silam.

"Awalnya saya produksi kerajinan dari batok kelapa kemudian dan laku ke Turki. Lalu pemesan juga menanyakan apakah juga membuat briket, lalu saya menerima pesanan tersebut," ujar Hasan di tempat produksi briket miliknya, Senin (20/1/2024).

Hasan pun membuat briket dengan otodidak.

Ia mengaku mencari tahu cara membuat briket dari YouTube.

Ia pun menginprovisasi proses pembuatan briket dan akhirnya bisa membuat briket dengan kualitas mumpuni.

Baca juga: Berkat Arang Briket, Mahasiswa Teknik Sipil Untag Surabaya Lolos Tahap Nasional Ajang Pertamuda 2023

"Bahannya sangat mudah didapat dari limbah batok kelapa. Di Lumajang kan banyak kelapa. Tapi kalau lagi butuh banyak saya ngambil juga di Bondowoso dan Situbondo," paparnya.

Menurut Hasan, proses pembuatan briket terbilang gampang-gampang susah.

Produksi briket dimulai dari membakar batok kelapa yang sudah berbentuk cacahan atau kepingan kecil.

Lalu batok kelapa tersebut dibakar hingga menjadi arang.

Proses dilanjutkan dengan menggiling arang batok kelapa menjadi serbuk.

Baca juga: Pemkab Lumajang Minta Bantuan Pemprov Jatim Bangun Akses Jalan Menuju Pura Watu Klosot Lumajang 

Serbuk tersebut kemudian dicampur dengan bahan tambahan.

Diantaranya tepung tapioka dan sodium.

Bahan tambahan tersebut dicampur denga arang kelapa hingga menjadi adonan.

Adonan yang sudah kejadi kemudian dicetak menggunakan mesin dan ditata di papan untuk kemudian dioven atau dijemur jika cuaca sedang bagus.

Setiap 6 bulan, Hasan mengirim sebanyak 18 ton kepada pemesannya yang berasal dari Turki.

"Orang Turkinya sudah ke tempat saya dan melihat langsung briket ini. Per 1 kilogram briket produksi saya ini harganya Rp 15 ribu. Di Turki sana briket saya buat alatnya Shisha (rokok ala Arab)," katanya.

Baca juga: Harga Cabai Rawit di Lumajang Tembus Rp 110 Ribu per Kg, Pemkab Sebut Bagus untuk Petani 

Setiap kali produksi untuk pengiriman ke Turki, Hasan mengaku bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp 50 juta.

"Modalnya Rp 30 jutaan untuk tiap kali produksi briket ini untuk besaran produksi 18 ton," katanya.

Hasan memperkerjakan 13 orang pegawai yang merupaka warga sekitar untuk menunjang produksi briket miliknya.

Baca juga: Kisah Kolektor Jersey yang Kini Sukses Merintis Brand Lokal Berkualitas Internasional

Ia juga dibantu oleh sang istri Dayang Andriana dalam mengelola bisnis produksi briket tersebut.

"Keunggulannya briket ini gak ada asap. Panas lebih stabil daripada arang biasa," ungkapnya.

Kendati diminati pasar luar negeri, Hasan mengaku produk miliknya justru tak terlalu diminati pasar lokal.

"Kalau lokalan saja pesan itu hanya kiloan gak sampai ber ton-ton kayak di Turki," papar pria asal Gucialit tersebut.

Baca juga: Hasil Panen Kubis Lapas Malang Tembus Pasar Ekspor Taiwan , Ditanam dan Dirawat Warga Binaan

Selama membangun usaha, Hasan mengingat dirinya bersama sang istri bahu-membahu merintis usaha briket

Ia merasakan bantuan atau dukungan dari pemerintah dalam mendukung usahanya sangat jarang. 

"Ya dilakukan sendiri, kalau dari pemerintah ngajuin umkm susah," keluhnya. (Erwin Wicaksono/TribunJatim.com)

Ferry Suwadi, Joko Suranto, dan Nurjanah yang rela bangun jalan desa menggunakan uang pribadi.
Ferry Suwadi, Joko Suranto, dan Nurjanah yang rela bangun jalan desa menggunakan uang pribadi. (Kompas.com)

Pengusaha lain yang sosoknya ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu adalah Ferry.

Ferry sendiri sudah tak tinggal di Dusun Segelan, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Namun sosonya viral karena ia rela mengeluarkan uang hingga Rp 10 miliar untuk membangun jalan dan masjid di sana.

Dalam wawancara di podcast Kasisolusi pada 3 Januari 2025, Ferry rela mengeluarkan dana tersebut karena selalu melalui jalan tersebut tiap pulang kampung.

Dirinya mengaku pulang setiap bulan untuk menjenguk orangtuanya.

Namun karena akses yang jelek, ia pun rela mengeluarkan uang untuk mengecor jalan.

Sebelum membangun jalan, Ferry juga membangun masjid di kampungnya.

"Pertama bangun di kampung, 2014, bangun masjid dulu. Terus selesai 2017, waktu mau peresmian masjiD, istri minta jalan di depan masjid dicor dulu biar rapi. Setelah jalan selesai, warga ada yang nyeletuk setelah ini, ke selatan dicor sekalian ya. Saya tantang, warga di situ, saya mau ngecor asalkan jalannya dilebarin sampai 10 meter," ucap Ferry, melansir dari TribunJateng.

Warga pun sepakat jika tanahnya dipakai untuk pelebaran jalan.

Ferry sendiri merupakan juragan bakso sukses di Batam dan sudah memiliki 8 cabang dengan nama Bakso Gunung.

Ia juga memiliki 5 cabang produksi bahan baku bakso.

Ferry merintis usaha bakso dari tahun 1992.

Namun Bakso Gunung mulai dirintis di tahun 2009.

"Saya pakai bakso Gunung karena saya berasal dari Gunung Kawi gitu," paparnya.

Baca juga: Ferry Juragan Bakso Bangun Jalan 5 Km hingga Masjid Desa Pakai Uang Sendiri, Tak Mau Disorot Kamera

Kini Ferry sudah ber-KTP Batam dan tinggal di Batam.

Di balik kesuksesannya, Ferry ternyata hanya mengenyam pendidikan sampai SMP saja.

Ia mulai merantau di usia 16 tahun.

"Umur 16 tahun saya merantau ke Jawa Barat, jualan bakso pikul. Di sana sekitar 6 bulan, saya pernah ikut abang di Surabaya, bengkel. Tapi nggak menjanjikan. Saya ke Bali jualan bakso lagi. Di sana 2 tahun saya mengumpulkan uang Rp 900 ribu untuk merantau ke Batam," ucapnya.

Ferry pun memilih ke Batam setelah mendapat rekomendasi dari pelanggannya.

Ia lalu mengajak temannya merantau ke Batam dan membuka bakso bersama temannya.

"Saya bawa uang Rp 900 ribu, teman saya bawa Rp 350 ribu untuk jual pertama, tapi itu nggak kepakai semua. Masih ada sisa Rp 500 ribu," ucap Ferry.

Baca juga: Sosok Ferry Pedagang Bakso Bangun Jalan Desanya Pakai Uang Pribadi, Gercep saat Dengar Kabar Pilu

Awalnya ia berjualan bakso dengan berkeliling Kota Batam.

Sampai akhirnya ia memiliki banyak gerobak.

Ferry sempat terkena malaria saat merintis usaha.

Saat itu temannya juga sempat kecelakaan dan mengalami patah tulang.

Sampai akhirnya Ferry membagikan 11 gerobak menjadi dua dengannya.

"Saya udah menikah, jadinya kita belah jadi dua. Saya bawa 6 gerobak, teman saya bawa 5 gerobak," ucap Ferry.

Meskipun sudah menjadi juragan bakso, Ferry masih turun bekerja.

"Sampai saat ini saya masih kerja. Renovasi ruko saya masih terjun," 

Meskipun viral di media sosial dengan klaim pengeluaran dana sebesar Rp10 miliar, Ferry menegaskan bahwa ia tidak pernah mengumumkan total biaya yang dikeluarkannya.

"Kalau seperti yang ada di medsos kemarin saya keluarkan dana Rp10 miliar, itukan pendapat warga. Kalau ditanya ke saya, saya sudah berjanji biarlah itu menjadi amal ibadah saya dan saya tidak akan membuka informasi itu ke siapapun," jelas Ferry saat ditemui di salah satu cabang Bakso Gunung di Ruko Kara Junction, Senin (6/1/2025) sore, melansir dari Kompas.com.

Ferry menjelaskan bahwa ide untuk membangun jalan ini bermula setelah ia menyelesaikan pembangunan Masjid Al-Ikhlas pada tahun 2018.

Istrinya menyarankan agar akses jalan juga diperbaiki agar warga merasa nyaman saat pergi ke masjid.

Permintaan warga untuk memperbaiki jalan utama di dusun tersebut pun menguatkan niatnya.

"Saya juga meminta warga agar mengiklaskan lahan mereka sedikit terpakai. Karena lebar jalan utama akan dibuat 10 meter, lengkap dengan drainase dan taman untuk memperindah jalan. Beruntung warga yang lahan rumahnya terkena juga mau, sehingga proyek ini bisa dimulai," tambahnya.

Baca juga: Wali Murid Kesal Sekolah Minta Sumbangan Rp 200 Ribu Per Siswa untuk Bangun Jalan: Kenang-Kenangan

Ferry mengungkapkan keprihatinannya terhadap para petani yang sering mengalami kesulitan saat melewati jalan tanah yang licin dan dipenuhi pecahan batu.

Ia merasa senang melihat semangat gotong royong warga dalam proses pembangunan jalan, sebuah tradisi yang masih dipertahankan sejak ia meninggalkan desa pada tahun 1992 untuk merantau ke Batam.

Selain membangun jalan, Ferry juga telah berkontribusi pada pembangunan fasilitas lain di kampung halamannya, seperti lapangan sepakbola, TPQ, dan masjid.

"Sekarang saya lihat warga desa saya sangat senang sekali, Alhamdulillah hal ini turut membuat saya juga sangat senang. Doakan saja saya bisa melanjutkan pembangunan jalan ini hingga 5 kilometer," harapnya.

Baca juga: Penjual Bakso Perbaiki Jalan Desa Pakai Uang Pribadi, 7 Tahun Selesai Tanpa Bantuan Pemerintah

Ferry memulai usaha berjualan bakso di Batam sejak tahun 1992.

Ia mengingat bagaimana Batam masih dalam tahap pembangunan saat itu, dan ia hanya berjualan bakso keliling dengan cara dipikul.

Kini, ia telah berhasil mengembangkan brand Bakso Gunung yang terinspirasi dari desa asalnya.

Proses pembangunan jalan di desanya dilakukan tanpa campur tangan pemerintah setempat.

Meskipun beberapa kali dihubungi oleh Camat, Lurah, dan perwakilan Bupati, Ferry menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah kebahagiaan warga desanya.

"Yang penting warga desa saya senang saja dulu mas," tutupnya.

Berita viral lainnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved