Berita Viral
Warga Mengeluh 10 Tahun Daerahnya Tak Dialiri Listrik Meski di Kota, Minta Pemerintah Tak Digubris
Warga secara swadaya sampai membentuk kelompok-kelompok kecil demi membeli kabel listrik ratusan meter.
Penulis: Alga | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM - Belum terpenuhinya berbagai kebutuhan dasar dikeluhkan warga RT 11, Kelurahan Bagan Pete, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi.
Kebutuhan dasar tersebut seperti aliran listrik, jalan yang belum diaspal, dan penerangan lampu jalan.
Masyarakat sekitar bahkan sudah merasakan keluhan ini selama hampir 10 tahun terakhir.
Baca juga: Binsar Terlanjur Terbang dari Medan Berharap Ketemu Idola, Cristiano Ronaldo Tidak Ada di Kupang
Salah satu warga setempat, Akmal, mengatakan bahwa permasalahan ini telah menjadi keluhan panjang yang belum ada solusinya sampai saat ini.
"Listrik, jalan, tempat pembuangan sampah, kami warga RT 11 sudah 10 tahun belum mendapatkan listrik dan fasilitas jalan," katanya, Jumat (21/2/2025).
Menurut dia, meskipun warga telah beberapa kali mengajukan permohonan untuk mendapatkan aliran listrik dan tiang listrik, hingga kini belum ada tanggapan.
Untuk mengatasi masalah ini, warga secara swadaya membentuk kelompok-kelompok kecil untuk membeli kabel listrik ratusan meter.
Hal ini agar bisa mengalirkan listrik ke rumah-rumah mereka.
Namun meski demikian, kualitas aliran listrik yang diterima warga sangat lemah.
Dengan lampu-lampu yang redup dan tidak cukup menerangi rumah-rumah mereka.
"Karena jauh dari gardu listrik, listrik yang diterima sangat lemah, lampu-lampu redup dan tidak bisa menerangi dengan baik," ungkap Akmal, dilansir dari Kompas.com.
Persoalan jalan juga tak jauh berbeda.
Selama 10 tahun terakhir, hanya sebagian kecil jalan yang tersentuh oleh pemerintah.
Banyak jalan di wilayah tersebut yang masih belum diaspal dan dalam kondisi memprihatinkan.

Ketua RT 11, Heriyatul, juga menambahkan bahwa masalah penerangan lampu jalan sudah diajukan selama tiga tahun terakhir.
Mereka sudah mengajukan proposal sebanyak tiga kali.
Namun hingga kini belum ada realisasi dari pihak pemerintah maupun PLN.
"Belum juga ada realisasi baik dari pemerintah maupun PLN."
"Kami mohon agar pemerintah bisa membantu warga RT 11 dalam hal kebutuhan dasar seperti listrik, jalan yang layak, dan tempat sampah," ujar Heriyatul.
Dirinya berharap, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jambi, Maulana-Diza, dapat segera memberikan perhatian dan bantuan kepada warga RT 11, Kelurahan Bagan Pete, untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Baca juga: Janji Dedi Mulyadi Tak Pakai Mobil Dinas usai Jadi Gubernur, Banyak Hapus Anggaran Tak Perlu
Kisah serupa juga dialami Yadi (39) yang memilih bertahan dan tetap tinggal di Kampung Zombie, Cililitan, Kramatjati, Jakarta Timur.
Alasan ekonomi menjadi faktor utama mengapa Yadi akhirnya memilih tetap tinggal di sana.
Padahal sudah sejak dulu RT 06/07 di Cililitan ini dikenal sebagai wilayah rawan banjir.
"Faktor biaya, kalau saya pindah, butuh biaya kontrak, kita kan butuh biaya, buat hidup sebulan butuh biaya," ungkap Yadi saat ditemui di rumahnya pada Senin (25/11/2024).
Sebagai pengemudi ojek online (ojol), Yadi merasakan kesulitan ekonomi yang cukup berat, terutama saat penghasilannya tak menentu.
Ia harus menghidupi tiga anak, istri, dan kedua orang tuanya.
"Saya ojol sekarang saja kembang kempis buat sekarang-sekarang, buat makan sudah alhamdulillah," katanya.
Meski begitu, Yadi sempat tertarik dengan program rumah DP 0 persen yang digagas oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Namun harapan tersebut segera kandas karena ada batasan gaji yang tidak bisa dipenuhi.
"Suami-istri minimal ada penghasilan kalau digabungin Rp7.000.000, sudah lah," ungkapnya.
"Saya sudah enggak banyak ngomong kita sudah dengar gitu, buat apa kan kita tanya-tanya lagi, kita langsung mundur," imbuh Yadi.
Tidak hanya itu, Yadi juga sempat mencari alternatif rumah susun dengan harga terjangkau.
Tetapi istrinya menolak karena merasa berat meninggalkan kampung halaman yang sudah dianggap sebagai rumah mereka.
"Kalau saya ngajuin rumah susun berarti harus adaptasi lagi kan sama lingkungan baru, istri yang agak berat ini salah satu kampungnya," tuturnya.

Yadi juga berharap jika tempat tinggalnya harus digusur oleh pemerintah karena berada di bantaran kali, ia bisa dibantu dalam mencari tempat tinggal yang layak.
"Kalau perbantuan modal tempat tinggal, ya itu dia mungkin mencari tempat yang layak kalau saya pribadi," harapnya, melansir Kompas.com.
Sejak dulu, Kampung Zombie di RT 06 RW 07 Cililitan memang langganan banjir.
Namun Yadi bersama istri, ketiga anak, kedua orang tua, dan adiknya, tak punya pilihan selain tetap bertahan di wilayah tersebut.
Yadi pun kerap kali basah-basahan ketika mengantarkan anaknya ke sekolah.
Pasalnya, ia dan sang anak harus melalui jalan yang digenangi banjir untuk sampai ke sekolah.
"Ya, waktu mengantarkan anak ke sekolah dan pas banjir ya (anak) dipanggul, terus saya mau nyebur ke air," kata Yadi.

Demi sang anak, Yadi rela masuk ke genangan banjir, kendati khawatir ada reptil yang mungkin mencelakai dirinya.
Bukan tanpa alasan, pernah suatu ketika, ular muncul di depan rumah Yadi ketika banjir menggenang.
"Trauma yang ular itu kan, waktu itu pernah pagi-pagi naik tuh (ular) ke depan rumah."
"Karena saya nyebur dan saya sudah memanggul (anak), makanya saya melihat dulu ada tidak (ular)," tambah Yadi.
Yadi bercerita, ia kerap menemui ular sanca berukuran besar hingga biawak masuk ke rumah-rumah Kampung Zombie yang tak berpenghuni.
"2023 musim hujan kemarin sampai selesai kurang lebih itu (melihat) 20-an ekor ular sanca besar," ucap Yadi.
Atas alasan inilah, Yadi tidak mengizinkan anaknya bermain di luar rumah ketika banjir menggenang dan air berwarna keruh.
"Kalau pada saat air di bawah, bening, ya masih kita izin main."
"Tapi kalau udah kayak gini, (air) keruh dan naik, enggak izinin main, ngeri kan di pinggir-pinggiran (ada reptil)," ujar Yadi.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com
Kelurahan Bagan Pete
Kecamatan Alam Barajo
Kota Jambi
Heriyatul
Maulana-Diza
TribunJatim.com
Tribun Jatim
Warga Terdampak Debu Tambang Cuma Diberi Ganti Rugi Sembako Rp200 Ribu, DPRD Tegur Perusahaan |
![]() |
---|
Presiden Prabowo Kasihan Immanuel Ebenezer Diborgol Pakai Baju Oranye: Mungkin Dia Khilaf |
![]() |
---|
Menu MBG Nasi Tutug Oncom untuk Siswa Viral, Camat Jelaskan Sudah Diperiksa Ahli Gizi |
![]() |
---|
Kronologi Mbah Endang Didenda Rp115 Juta Atas Hak Siar Pertandingan Bola, 2 Pria Datang Foto Kafenya |
![]() |
---|
Pertemuan Dwi Hartono dan Ken Otak Pembunuhan Kacab Bank BUMN, Bahas Bantu Palsu Rekening |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.