Sejarah di Jatim

Asal Usul Langgar Gantung Blitar, Warisan Sejarah Islam Laskar Diponegoro yang Terlupakan

Musala An Nur atau lebih dikenal dengan sebutan Langgar Gantung menjadi salah satu saksi jejak penyebaran Islam di wilayah Kota Blitar. 

Penulis: Samsul Hadi | Editor: Arie Noer Rachmawati
Tribun Jatim Network/Samsul Hadi
LANGGAR GANTUNG - Musala An Nur atau lebih dikenal dengan sebutan Langgar Gantung menjadi salah satu saksi jejak penyebaran Islam di wilayah Kota Blitar. Lokasinya berada di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Selasa (24/2/2026). Kondisi bangunan Langgar Gantung hampir 90 persen masih bangunan asli ketika kali pertama didirikan.  
Ringkasan Berita:

 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Samsul Hadi

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Musala An Nur atau lebih dikenal dengan sebutan Langgar Gantung di Jl Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Blitar menjadi salah satu saksi jejak penyebaran Islam di wilayah Kota Blitar

Langgar Gantung didirikan oleh salah satu pasukan atau Laskar Diponegoro, yaitu Mbah Irodikoro atau Abdus Sjakur di era Perang Jawa pada sekitar 1825-1830.

Tapi sayang, keberadaan Langgar Gantung yang kaya dengan sejarah perjuangan melawan penjajah dan siar Islam itu sepi dari perhatian pemerintah.

Padahal, sampai sekarang, Langgar Gantung masih difungsikan sebagai tempat ibadah masyarakat. 

Ketua Takmir Langgar Gantung, Isman Hadi mengatakan, hingga saat ini, Langgar Gantung masih aktif difungsikan untuk tempat ibadah masyarakat Kelurahan Plosokerep

Di momen Ramadan seperti sekarang ini, Langgar Gantung juga dipakai untuk salat tarawih dan tadarus Alquran oleh masyarakat. 

"Kalau kegiatan selama Ramadan di sini, yaitu, salat jemaah tetap, lalu salat tarawih, dan tadarus," kata Isman, Selasa (24/2/2026). 

Baca juga: Tradisi Tabuh Bedug usai Tarawih di Masjid Nurul Qolbi Ponorogo, Warisan Ramadan yang Dirawat

Sejarah Langgar Gantung, Didirikan Laskar Diponegoro

Isman menjelaskan, Langgar Gantung didirikan oleh pasukan atau Laskar Pangeran Diponegoro, Mbah Irodikoro, yang pada waktu berdomisli di Kelurahan Plosokerep pada sekitar 1825-1830.

Di masa-masa itu, sejumlah pasukan Diponegoro, termasuk Mbah Irodikoro dari Kerajaan Mataram Islam menjadi pelarian sekaligus berjuang secara bergerilya melawan penjajah Belanda dan bersembunyi di wilayah Plosokerep.

"Ada lima orang Laskar Diponegoro yang sempat bersembunyi dan bergerilya di Plosokerep, yaitu, Singodongso, Irodongso, Irodikoro, Irokerto, dan Iromerto," kata Isman yang merupakan cucu menantu dari keturunan Mbah Irodikoro

Dikatakannya, kelima orang Laskar Diponegoro, itu selain berjuang secara gerilya juga mengembangkan pendidikan agama Islam di wilayah Plosokerep. 

Kemudian, Irodikoro bersama laskar lainnya mendirikan musala sebagai tempat ibadah dan pendidikan agama Islam di Plosokerep. 

"Akhirnya berdiri Musala An Nur atau dikenal dengan sebutan Langgar Gantung ini," ujarnya.

Baca juga: Asal-usul Masjid Muhammad Cheng Hoo Pasuruan, Ikon Religi Bernuansa Tionghoa di Jalur Trans Jawa

Musala An Nur atau Langgar Gantung di Kelurahan Plosokerep Kota Blitar
LANGGAR GANTUNG - Kondisi Musala An Nur atau dikenal Langgar Gantung di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Selasa (24/2/2026). Langgar Gantung ini didirikan oleh Laskar Diponegoro pada sekitar 1825-1830.

Bangunan 90 Persen Masih Asli

Kondisi bangunan Langgar Gantung hampir 90 persen masih bangunan asli ketika kali pertama didirikan. 

Konstruksi bangunan Langgar Gantung terbuat dari bahan kayu dan bambu. 

Desain bangunan Langgar Gantung sebenarnya mirip rumah panggung.

Pondasi bangunan tidak ditanam ke dalam tanah, tapi diletakan di atas umpak. 

Model bangunan seperti itu yang kemudian membuat Musala An Nur lebih dikenal dengan sebutan Langgar Gantung.

"Sebenarnya, bangunannya bukan digantung, tapi model bangunan rumah panggung. Pondasinya tidak ditanam di dalam tanah, tapi di atas umpak. Model ini dinamakan gantung," kata Isman. 

Menurutnya, model bangunan musala dibuat seperti rumah panggung karena dulu di lokasi masih berupa hutan belantara, belum banyak rumah penduduk. 

Model bangunan rumah panggung ini untuk menghindari adanya ular maupun hinatang buas lainnya di lokasi.

Dikatakannya, sampai sekarang, kondisi bangunan Langgar Gantung masih banyak yang asli seperti ketika awal berdiri. 

Bagian pilar, gawang, pintu, dan jendela musala masih kayu asli sejak awal bangunan berdiri. 

Dinding musala berbahan anyaman bambu juga masih asli bangunan lama, belum pernah diganti. 

Hanya kayu pada bagian lantai musala sudah ada beberapa yang diganti karena lapuk.

Tangga masuk ke serambi musala juga tambahan bangunan baru. Termasuk tempat wudhu juga merupakan bangunan baru. 

"Musala ini pernah renovasi sekali untuk mengganti reng, usuk, dan genteng. Plafon juga sempat diganti dari bahan asbes, tapi akhirnya kami ganti lagi dengan model asli dari anyaman bambu," ujarnya. 

Baca juga: Kabupaten Blitar dalam Lintasan Sejarah, Pusat Peradaban Sejak Abad ke-10

Langgar Gantung Blitar jejak penyebaran Islam
LANGGAR GANTUNG - Musala An Nur atau lebih dikenal dengan sebutan Langgar Gantung menjadi salah satu saksi jejak penyebaran Islam di wilayah Kota Blitar. Lokasinya berada di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Selasa (24/2/2026).

Sepi Perhatian Pemerintah

Isman mengatakan, selama ini, perawatan Langgar Gantung dilakukan secara swadaya oleh keturunan keluarga Mbah Irodikoro

Sampai sekarang, belum ada perhatian dari Pemkot Blitar untuk membantu perawatan dan pengembangan Langgar Gantung menjadi destinasi wisata sejarah dan religi di Kota Blitar.

"Sampai sekarang belum ada perhatian dari Pemkot. Untuk perawatan, kami sendiri yang mengupayakan," katanya. 

Dikatakannya, Disbudpar Kota Blitar pernah mengecek kondisi Langgar Gantung.

Ketika itu, Disbudpar meminta pengelola membuat proposal untuk mengajukan bantuan biaya perawatan musala ke pemerintah. 

Tapi, kata Isman, kenyataannya sampai sekarang belum pernah ada bantuan biaya perawan untuk Musala An Nur dari Pemkot Blitar

"Katanya musala ini ditetapkan sebagai cagar budaya, tapi tidak ada bantuan perawatan. Saya sempat berpikir, jangan-jangan hanya dicatat sebagai cagar budaya, tapi perawatan dilakukan oleh keluarga sendiri," ujarnya.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved