Aksi Hari Kartini di Bojonegoro, Mahasiswa dan Aktivis Perempuan Gelar Aksi Damai
Mahasiswa dan aktivis perempuan di Bojonegoro menggelar aksi damai memperingati Hari Kartini, Selasa (21/4/2026), di depan kantor DPRD Bojonegoro.
Penulis: Misbahul Munir | Editor: Samsul Arifin
Ringkasan Berita:
- Aksi Hari Kartini di Bojonegoro menyoroti isu pernikahan anak, kekerasan, dan kesetaraan gender.
- Data menunjukkan kasus dispensasi kawin di Bojonegoro masih mencapai ratusan tiap tahun meski menurun.
- DPRD Bojonegoro telah mengesahkan Perda kesetaraan gender dan menyiapkan regulasi perlindungan perempuan dan anak.
Laporan Wartawan Trubunjatim Network Misbahul Munir
TRUBUNJATIM.COM, BOJONEGORO - Sejumlah mahasiswa dan aktivis perempuan di Bojonegoro menggelar aksi damai memperingati Hari Kartini, Selasa (21/4/2026), di depan kantor DPRD Bojonegoro.
Sejumlah mahasiswa dan aktivis perempuan di Bojonegoro menggelar aksi damai peringatan Hari Kartini yang jatuh pada selasa (21/4/2026) di depan kantor DPRD setempat di jalan veteran.
Mereka datang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan spanduk, menyoroti isu krusial tentang maraknya kasus pernikahan anak, pemberdayaan perempuan dan perlindungan bagi kelompok rentan.
Aksi damai ini diinisiasi oleh Komisi Perempuan Indonesia (KPI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), serta mahasiswa GMNI Bojonegoro.
Mereka menuntut kesetaraan dan perlindungan bagi perempuan.
Perwakilan massa aksi, Yana, mengungkapkan bahwa peringatan Hari Kartini bukan sekedar seremoni belaka, seperti penggunaan kebaya tanpa memahami esensi perjuangannya.
Baca juga: Wajah Baru Museum Rajekwesi Bojonegoro, Dari Lautan Purba Hingga Pusaka Emas Majapahit
Soroti Pernikahan Anak dan Kekerasan
Jauh dari pada itu, menurutnya ada nilai tauladan dari sosok Kartini sebagai representasi nyata perjuangan perempuan dalam membuka akses pendidikan dan memperjuangkan kesetaraan hak.
“Peringatan Kartini saat ini masih banyak hanya sebatas seremonial. Berpakaian kebaya dan lainnya. Tetapi esensi penting dari peringatan ini adalah bagaimana perempuan mampu berdaya, mempunyai hak yang sama, tanpa ada diskriminasi,” ujarnya.
Baca juga: Refleksi Hari Kartini, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita Ungkap Tantangan Perempuan Jadi Pemimpin
Yana dan kawan-kawan juga menyoroti angka perkawinan anak di Bojonegoro masih tergolong tinggi. Kendati menunjukkan trend penurunan dalam tiga tahun terakhir.
Berdasarkan data pengadilan agama (PA) Bojonegoro dalam tiga tahun terakhir tercatat, angka pernikahan anak atau dispensasi pernikahan (diska) Pada 2023 mencapai 448 perkara, turun menjadi 394 perkara pada 2024, dan kembali menurun menjadi 325 perkara pada 2025.
Selain itu, Yana juga menyoroti masih maraknya kasus kekerasan seksual, perundungan, hingga fenomena sosial perempuan yang merendahkan perempuan lainnya.
Aksi Simbolik dan Respons DPRD
"Selain itu, kasus tindak kekerasan, bully, dan perempuan hina perempuan masih banyak terjadi di sekitar kita, kondisi ini menjadi potret miris dan tidak dibiarkan terus berlangsung di masyarakat kita," tambahnya.
Tidak hanya menyampaikan aspirasi melalui orasi, para peserta aksi juga membagikan bunga kepada pengguna jalan. Aksi simbolik tersebut menjadi bentuk ajakan kepada masyarakat untuk terus memperjuangkan kesetaraan dan menghargai peran perempuan.
Aksi damai itu mendapat respons positif dari Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Selly Atyasasmi. Politisi muda dari partai Gerindra ini bahkan turut bergabung bersama massa dan menyampaikan orasi sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan tersebut.
| Harga Plastik Meroket, Perajin Anyaman di Blitar Berharap Bisa Panen Rezeki |
|
|---|
| Pemkab Lumajang Lindungi Ribuan Buruh Tambang Pasir dengan BPJS Ketenagakerjaan |
|
|---|
| Pengemudi Mobil Arogan di Mojokerto Jadi Tersangka, Korban: Sudah Memaafkan, Tapi Hukum Lanjut |
|
|---|
| Oknum Jaksa di Surabaya Dilaporkan Staf Honorernya Atas Kasus Dugaan Pelecehan |
|
|---|
| Kontrak Bakal Habis, Luka Modric Ajukan Syarat saat AC Milan Tak Mau Melepas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/mahasiswa-dan-aktivis-perempuan-di-bojonegoro.jpg)