Berita Viral
Dampak Nyata 2 Kampung di Gresik yang Terapkan Daur Ulang Sampah dan Urban Framing
Dua kampung yang ada di Kabupaten Gresik memiliki perbedaan nasib dalam menjalankan hidup lestari dari daur ulang sampah.
Penulis: Ignatia | Editor: Ignatia Andra
TRIBUNJATIM.COM - Ada dua kampung dalam satu kelurahan di tengah kota, yang menerapkan sistem daur ulang sampah sekaligus urban farming.
Kampung Kreasi yang berada di Jalan Ir Ibrahim Zahir, dan Kampung Siba (Sidokumpul Barat) klasik yang terletak di Jalan Proklamasi.
Kedua kampung ini masuk dalam bagian Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan/Kabupaten Gresik.
Aktivitas warga kedua kampung saat ini bisa dikatakan sudah 'beda nasib', meskipun masih sama-sama konsen dalam menjalankan sistem daur ulang sampah.
Kampung Kreasi
Ketua RT2/RW7, Zuraida (44), mengatakan bahwa Kampung Kreasi yang dirintis sejak 2017 memang sempat berhasil dalam melakukan urban farming di tengah hiruk-pikuk Kota Gresik, melalui komoditas melon.
"Jadi, pada 2022 itu ada kerja sama dengan Pertamina, menanam melon di atas genteng. Awalnya berhasil, bagus, tapi terus berkurang hingga pertengahan 2023. Sempat dicoba lagi pada 2024, cuma enggak jadi. Kebanyakan turun hujan malah enggak jadi (panen tidak sesuai harapan)," ungkap Zuraida.
Selain itu, Kampung Kreasi juga sempat mendapat bantuan bibit ikan dari Polsek Gresik untuk dapat dibudidayakan. Namun seperti halnya yang terjadi pada melon, budidaya ikan sesuai harapan gagal diwujudkan dan membuat warga menjadi trauma.
"Tidak berkembang, karena hasil yang diperoleh dari panen tidak sebanding dengan biaya untuk makan ikan sehari-hari, jadi tidak diteruskan," ujarnya.
Ida menjelaskan, ada beberapa kendala yang harus dihadapi sehingga pihaknya memutuskan untuk lebih berkonsentrasi pada daur ulang sampah. Mulai dari faktor cuaca, pendanaan, hingga pemasaran akan hasil urban farming yang dilakukan.
"Kader juga berkurang karena ada kesibukan kerja. Sebab, mencari kader yang mau benar-benar rela meluangkan waktunya saat ini juga susah," kata Ida.
Atas dasar itu, kini Kampung Kreasi lebih berkonsentrasi pada sektor daur ulang sampah, meskipun tanaman masih menghias di beberapa titik dan juga halaman rumah warga.
Baca juga: Penganiayaan Balita di Ngronggo Kediri, Kakak Korban Kuak Sikap Janggal Adiknya: Lebih Banyak Tidur
Kampung Siba
Sementara di Kampung Siba yang dirintis sejak 2018 sebagai andalan zero waste, suasana urban farming masih terasa hingga kini meskipun daur ulang sampah tetap menjadi yang utama.
"Ide awalnya dari Ecoton. Pada 2018, saya pembina karang taruna. Awalnya kami bermain ecobrick (pengolahan sampah plastik) untuk lebih peduli lingkungan," kata Ketua RT2/RW5, Saifudin Efendi (50) di lokasi Kampung Siba.
Namun Ipung, sapaan akrab Saifudin Efendi, menjelaskan bahwa upaya yang dirintis untuk menjadikan kampungnya bersih, asri, dan nyaman, sempat terkendala akibat Pandemi Covid-19.
"Pada 2020, ada Covid, kami break enggak ada aktivitas sama sekali, karena aktivitas saat itu kan dibatasi. Baru 2021 akhir, ada sosialisasi lagi. Awalnya biaya mandiri, sementara Pertamina masuk pada 2022, dalam mendukung program zero waste," ujarnya.
Kemudian, pada tanggal 27 November 2022, Kampung Siba di-launching oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman sebagai kampung zero waste.
Saat itu, Ipung mengklaim bahwa warga sudah mampu mengolah 48 persen sampah organik yang ada di Kampung Siba.
"Pengolahan sampah organik kan mudah, jadi biopori, bisa jadi kompos. Setelah di-launching itu kita ada pengembangan-pengembangan, dengan menjadi Kampung Siba klasik. Kemudian, ada Gresik Kawasan Merdeka Sampah pada akhir 2023, dan di tempat kami jadi pilot project," ungkap Ipung.
Selain itu, pada 2023, Kampung Siba juga termasuk dalam kampung Proklim tingkat nasional. Sementara terkait ketahanan pangan, di Kampung Siba terdapat berbagai macam tanaman hingga budidaya ikan yang memanfaatkan lahan sempit.
"Budidaya Ikan sejak 2024. Awalnya ikut program Proklim budidaya ikan, terus kita lirik ada lahan sempit milik kelurahan (pemerintah) yang kemudian kami manfaatkan," katanya.
Ada sebanyak dua kolam yang dibuat di Kampung Siba, berukuran 2x1 meter dengan kedalaman 70 sentimeter. Ada yang berisi ikan nila, ada pula yang diisi ikan tombro.
"Panen kalau ikan sudah besar dan ada warga yang mau, ya diambil gitu aja. Sebab yang beri makan ikan-ikan itu juga warga, dari sisa makanan, sisa nasi, sisa roti. Mengingat beli makanan ikan juga tidak murah," ujar Ipung.
Selain budidaya ikan, pekarangan rumah warga di Kampung Siba juga dihiasi dengan beragam tanaman. Mulai dari tanaman untuk pengobatan seperti bawang dayak dan bunga telang, juga beberapa varian sayuran dan labu.
"Kita ingin pertanian kota yang modern, agrikultur. Dari Pertamina sudah dapat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), sudah kerja sama, baterai dan panel sudah terpasang, tinggal penyaluran kabel ke rumah-rumah warga. Sebab, nanti menggunakan sistem pertanian hidroponik, dengan kami juga ingin buat pupuk sendiri," pungkasnya.
Kendati demikian, Ipung menyadari masih butuh inovasi dan juga beberapa langkah terobosan guna mewujudkan ketahanan pangan di Kampung Siba, terlebih untuk dapat mensejahterakan warganya.
Kabupaten Gresik
Gresik
sampah daur ulang
Urban Framing
Kampung Siba (Sidokumpul Barat)
Kampung Kreasi
Multiangle
meaningful
berita viral
TribunJatim.com
| Healing dari Sibuknya Kuliah di Surabaya, Ahmad Hamdani Ubah Pipa Jadi Ladang Uang |
|
|---|
| Pilu Sri Jadi Korban Bully Hingga Putus Sekolah, Kini Tinggal di Rumah yang Memprihatinkan |
|
|---|
| Ketahuan Ngopi dan Jalan-jalan, Supriadi Napi Korupsi Rp233 M Dipindah ke Lapas Nusakambangan |
|
|---|
| Puskesmas Buka Suara soal Pasien Sesak Napas Diberi Obat Mata, Terima Komplain Dengan Senang Hati |
|
|---|
| Warga Harus Bayar Rp50 Ribu untuk Lewati Jembatan Air, Sandal Tertinggal Kena Rp100 Ribu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Penampakan-sudut-kampung-di-Gresik-yang-terlihat-berbeda-antara-dua-kampung-yang-ramah-lingkungan.jpg)