Sejarah di Jatim

Sejarah dan Asal-usul Kota Blitar, dari Legenda Majapahit hingga Kota Proklamator

Berawal dari legenda Majapahit hingga menjadi Kota Proklamator, inilah perjalanan panjang sejarah Kota Blitar yang penuh jejak perjuangan.

Tayang:
Tribun Jatim Network/Samsul Hadi
SEJARAH KOTA BLITAR - Dokumentasi gapura bertuliskan “Selamat Datang di Kota Blitar” yang menjadi penanda wilayah sekaligus simbol identitas Kota Proklamator yang sarat nilai sejarah dan patriotisme, Kamis (12/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kota Blitar resmi berdiri pada 1 April 1906 sebagai Gemeente Blitar, namun sejarahnya sudah ada sejak era Majapahit dan legenda pengusiran pasukan Tartar.
  • Wilayah ini mengalami masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang, termasuk peristiwa penting Pemberontakan PETA pada 14 Februari 1945.
  • Setelah kemerdekaan, Blitar berkembang sebagai kota kecil berbasis jasa dengan semboyan PATRIA.
  • Kota ini dijuluki Kota Proklamator karena menjadi tempat dimakamkannya Ir. Soekarno.

 

TRIBUNJATIM.COM – Kota Blitar dikenal sebagai salah satu daerah bersejarah di Jawa Timur yang memiliki perjalanan panjang sejak masa kerajaan hingga era kemerdekaan Indonesia.

Secara legal-formal, Hari Jadi Kota Blitar ditetapkan pada 1 April 1906.

Tanggal ini merujuk pada terbitnya Staatsblad van Nederlandsch Indie Nomor 150 Tahun 1906 yang menetapkan pembentukan Gemeente Blitar oleh pemerintah kolonial Belanda.

Namun jauh sebelum itu, wilayah yang kini menjadi Kota Blitar telah memiliki sejarah panjang yang berakar pada masa Kerajaan Majapahit dan legenda tentang bangsa Tartar.

Selain dikenal sebagai Kota Patria dan Kota Lahar, daerah ini juga lekat dengan julukan Kota Proklamator karena menjadi tempat peristirahatan terakhir Presiden pertama RI (Republik Indonesia), Ir. Soekarno.

Legenda Awal: Dari Hutan Selatan hingga Nama Balitar

Menurut sejumlah sumber sejarah, terutama buku Bale Latar yang dikutip dari blitarkota.go.id, wilayah ini telah ada sekitar abad ke-15.

Saat itu kawasan tersebut masih berupa hamparan hutan lebat yang belum banyak dihuni oleh manusia.

Tokoh bernama Nilasuwarna atau Gusti Sudomo, putra Adipati Wilatika Tuban, mendapat tugas dari Kerajaan Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan.

Pasukan Tartar disebut-sebut mengancam stabilitas Majapahit.

Nilasuwarna berhasil mengalahkan mereka dan sebagai imbalan, ia diberi wewenang mengelola wilayah bekas medan perang tersebut.

Dilansir dari Kompas.com, wilayah itu kemudian dinamakan Balitar, yang konon berasal dari kata Bali Tartar, sebagai penanda keberhasilan mengusir bangsa Tartar.

Nilasuwarna lalu bergelar Adipati Ariyo Blitar I. Dari sinilah cikal bakal Kadipaten Blitar bermula.

Baca juga: Jejak Sejarah Kabupaten Jombang, dari Gerbang Majapahit sampai Julukan Kota Santri

Perebutan Kekuasaan Kadipaten Blitar

Seiring waktu, kepemimpinan Ariyo Blitar I menghadapi pemberontakan dari Patih Ki Sengguruh Kinareja.

Dalam konflik tersebut, Ariyo Blitar I dikabarkan tewas dan kekuasaan beralih kepada Ki Sengguruh yang bergelar Adipati Ariyo Blitar II.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved