Sejarah di Jatim

Sejarah Lumpur Lapindo Sidoarjo, dari Semburan hingga Reklamasi Mangrove

Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo sejak 2006 masih aktif, menenggelamkan rumah dan lahan, kini dimanfaatkan untuk reklamasi mangrove.

Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Samsul Arifin
Istimewa/TribunJatim.com
SEJARAH LUMPUR LAPINDO - ilustrasi kondisi lumpur Lapindo di Sidoarjo, jawa Timur yang kini dimanfaatkan sebagai reklamasi mangrove. 

Ringkasan Berita:
  • Lumpur Lapindo muncul pertama kali pada 29 Mei 2006 di Sidoarjo karena semburan lumpur panas dari sumur Banjar Panji-1.
  • Bencana ini menenggelamkan ribuan rumah, lahan pertanian, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
  • Upaya menghentikan semburan gagal, kontroversi penyebabnya antara human error dan gempa bumi yang masih berlangsung.
  • Saat ini lumpur lapindo masih aktif, dimanfaatkan untuk reklamasi lahan serta penanaman mangrove.

TRIBUNJATIM.COM - Lumpur Lapindo atau banjir lumpur panas Sidoarjo adalah salah satu bencana alam-terkait manusia yang masih menjadi perhatian publik hingga kini. 

Semburan lumpur pertama muncul pada 29 Mei 2006 dari lokasi pengeboran Sumur Banjar Panji-1 di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. 

Titik semburan hanya berjarak sekitar 150 meter dari sumur gas yang dikelola PT Lapindo Brantas.

Menurut data dari sda.pu.go.id, semburan lumpur awalnya memiliki tinggi sekitar 40 meter dengan volume mencapai 100.000 hingga 120.000 meter kubik per hari. 

Lumpur panas ini memiliki kandungan padatan hingga 35 persen dengan suhu mencapai 100 derajat Celcius. 

Sifatnya kental, bersifat non Newtonian, dan kaya kandungan kimia seperti semen, sehingga sulit bergerak dan menimbulkan deformasi geologi di sekitarnya.

Fenomena ini disebut sebagai gunung lumpur (mud volcano) yang banyak ditemukan di Jawa Timur, termasuk Porong, Karanganyar, Semolowaru, Pulungan, dan Sedati. 

Ahli geologi menyebut semburan Lumpur Lapindo terkait aktivitas vulkanisme dan patahan Sesar Watukosek, sehingga sulit diprediksi kapan akan berhenti, bahkan bisa berlangsung puluhan tahun ke depan.

Baca juga: Asal Usul Langgar Gantung Blitar, Warisan Sejarah Islam Laskar Diponegoro yang Terlupakan

Kronologi Kejadian Lumpur Lapindo

Dikutip dari Kompas.com, sebelum semburan terjadi, Lapindo Brantas melakukan pengeboran sumur Banjar Panji-1 pada awal Maret 2006 dengan kontraktor PT Medici Citra Nusantara. 

Saat pengeboran mencapai kedalaman 9.297 kaki, terjadi pecahnya formasi tanah, sehingga lumpur panas dari formasi Pucangan naik ke permukaan melalui rekahan alami di sekitar lokasi sumur.

Semburan pertama terjadi pukul 22.00 WIB pada 29 Mei 2006. Tinggi awal lumpur mencapai 40 meter, dan volume terus meningkat drastis. 

Dua hari sebelumnya, gempa bumi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 menjadi salah satu faktor yang memicu remobilisasi tekanan bawah tanah.

Meski sebagian besar ahli menyatakan penyebab utamanya adalah kegagalan teknis pengeboran.

Dalam beberapa minggu pertama, tinggi semburan bahkan menutup lahan permukiman, pertanian, dan industri di tiga kecamatan yakni, Porong, Tanggulangin, dan Jabon. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved