Tradisi dan Budaya di Jatim

Semarak Ramadan di Gresik, Laki-Laki Desa Gumeno Masak Kolak Ayam dalam Tradisi Sanggring

Malam ke-23 Ramadan di Gresik jadi hidup karena Tradisi Sanggring, laki-laki Desa Gumeno masak kolak ayam dan jadi ajang silaturahmi.

Tayang:
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Willy Abraham
SANGGRING KOLAK AYAM - Tradisi Sanggring Kolak Ayam di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, di Masjid Sunan Dalem, Gresik, masih terus dilestarikan, Sabtu (22/3/2025). Tradisi ini setiap tahun rutin digelar pada hari ke-22 atau malam 23 Bulan Suci Ramadan. 
Ringkasan Berita:
  • Tradisi Sanggring di Desa Gumeno, Gresik, digelar tiap malam ke-23 Ramadan dengan masak kolak ayam untuk berbuka puasa.
  • Kolak ayam hanya dimasak oleh laki-laki dalam keadaan suci, menggunakan tungku dan bahan tradisional.
  • Berasal dari kisah Sunan Dalem pada 1540 M, tradisi ini kini mendekati usia lima abad.
  • Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi dan pengingat perjuangan syiar Islam di Gresik.

 

TRIBUNJATIM.COM - Kabupaten Gresik dikenal sebagai kota wali yang kaya tradisi keagamaan. 

Salah satu yang paling khas adalah Tradisi Sanggring atau kolak ayam di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Jawa Timur.

Tradisi ini digelar setiap malam ke-23 bulan suci Ramadan dan menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti warga.

Tidak hanya masyarakat Gresik, pengunjung dari Lamongan, Mojokerto, Jombang hingga daerah lain turut hadir.

Sanggring telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor sertifikat 103618/MPK.E/KB/2019.

Tradisi ini berpusat di Masjid Jami’ Sunan Dalem Desa Gumeno

Ribuan porsi kolak ayam disiapkan untuk berbuka puasa bersama.

Pelaksanaannya tetap mempertahankan cara tradisional, yakni dimasak menggunakan tungku dan kayu bakar.

Baca juga: Tradisi Blanggur di Jatim, Penanda Waktu Berbuka Puasa Sebelum Ada Radio dan TV

Asal Usul Sanggring 

Nama Sanggring berasal dari dua kata, yakni “Sang” yang berarti raja atau penggedhe dan “Gring” yang berarti sakit.

Secara harfiah, Sanggring dimaknai sebagai raja yang sakit.

Sejarahnya tak lepas dari kisah Sunan Dalem, putra dari Sunan Giri. 

Saat membangun masjid di Desa Gumeno sekitar tahun 1540 M atau 22 Ramadan 946 Hijriah, Sunan Dalem dikisahkan jatuh sakit.

Berbagai upaya pengobatan dilakukan, namun tak membuahkan hasil. 

Hingga pada malam ke-23 Ramadan, Sunan Dalem mendapat petunjuk untuk membuat hidangan berbahan ayam kampung yang dimasak dengan santan, jinten, gula merah dan daun bawang.

Kolak ayam tersebut kemudian disantap dan kesehatannya berangsur pulih. 

Peristiwa inilah yang menjadi awal mula tradisi Sanggring.

Sejak saat itu, masyarakat Desa Gumeno melestarikan tradisi memasak kolak ayam setiap malam ke-23 Ramadan sebagai bentuk napak tilas dan penghormatan terhadap perjuangan dakwah Sunan Dalem.

Dimasak Khusus oleh Laki-Laki dalam Keadaan Suci

Keunikan tradisi Sanggring ini terletak pada proses pembuatannya. 

Kolak ayam hanya boleh dimasak oleh kalangan laki-laki.

Mereka yang memasak diwajibkan dalam keadaan suci dari hadas kecil atau telah berwudhu. 

Aturan ini dipercaya mengikuti tata cara yang telah dilakukan pada masa Sunan Dalem.

Proses memasak pun tetap menggunakan tungku kayu bakar dan bahan-bahannya terdiri dari ayam kampung, santan kelapa, gula merah, jinten, serta daun bawang.

Dikutip dari Kompas.com, untuk ribuan porsi kolak ayam, dibutuhkan ratusan ekor ayam, ratusan butir kelapa, serta puluhan kilogram jinten dan gula merah.

Semua dikerjakan secara gotong royong oleh warga laki-laki Desa Gumeno sejak pagi hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Baca juga: Tradisi Patrol Suku Osing Banyuwangi, Musik Bambu Penggugah Sahur Warisan Leluhur

Telah Berusia Hampir Lima Abad

Tradisi Sanggring diyakini telah berlangsung sejak 1540 M dan kini usianya mendekati lima abad.

Dilansir dari gresikkab.go.id, pemerintah daerah menyebut tradisi ini sebagai warisan budaya kearifan lokal yang harus terus dijaga. 

Bahkan menjelang usia lima abad, perayaan tradisi Sanggring digelar semakin meriah.

Ribuan porsi kolak ayam dibagikan gratis kepada masyarakat yang hadir. 

Antusiasme warga dari luar daerah juga terus meningkat setiap tahunnya.

Selain menjadi ajang berbuka puasa bersama, tradisi ini juga menjadi sarana silaturahmi dan pengingat perjuangan syiar Islam di Gresik.

Hingga kini, warga Desa Gumeno tetap melibatkan generasi muda dalam setiap pelaksanaan. 

Harapannya, tradisi Sanggring atau kolak ayam Gumeno akan terus lestari di tengah perkembangan Gresik sebagai kota industri.

Baca juga: Tradisi Rontek Gugah Sahur Pacitan Bangunkan Warga, Meriahkan Ramadan hingga Dongkrak Ekonomi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved