Tradisi dan Budaya di Jatim
Tari Kuntulan Banyuwangi, Harmoni Dakwah dalam Gerak Rancak dan Irama Hadrah Khas Osing
Mengenal Tari Kuntulan, kesenian ikonik Banyuwangi yang memadukan syair Islami dan budaya Osing sebagai media dakwah estetik sejak masa Blambangan.
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Kuntulan lahir dari proses syiar Islam di Blambangan oleh Maulana Ishak. Kesenian ini berfungsi sebagai media dakwah melalui puji-pujian Islami dan syair berbahasa Osing.
- Identik dengan busana tertutup dan gerakan dinamis seperti langkah berputar. Musik pengiringnya menggunakan rebana serta jedhor.
- Kuntulan menjadi daya tarik wisata melalui ajang besar seperti Festival Kuntulan Caruk. Kesenian ini berhasil beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitas religiusnya sebagai warisan budaya.
TRIBUNJATIM.COM - Tari Kuntulan menjadi salah satu kesenian tradisional khas Banyuwangi yang terus berkembang hingga saat ini.
Kesenian ini memadukan unsur budaya lokal dengan nuansa Islami yang kental. Kuntulan dikenal sebagai tarian yang diiringi musik hadrah dengan lantunan lagu-lagu bernuansa religi.
Kesenian ini kerap ditampilkan dalam berbagai peringatan hari besar keagamaan. Selain sebagai hiburan, Tari Kuntulan juga memiliki fungsi dakwah.
Melalui syair-syair Islami yang dilantunkan, kesenian ini menjadi media penyebaran nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Dikutip dari berbagai sumber, Kuntulan biasanya dibawakan oleh penari perempuan dengan jumlah terbatas, mengenakan busana tertutup lengkap dengan kerudung, sarung tangan, dan kaus kaki.
Seiring perkembangan zaman, Kuntulan tidak hanya tampil dalam acara lokal, tetapi juga menjadi bagian dari festival budaya yang menarik perhatian wisatawan.
Asal Usul Kuntulan
Sejarah Kuntulan tidak lepas dari proses penyebaran Islam di wilayah Blambangan. Kesenian ini diyakini telah ada sejak masa dakwah Islam di daerah tersebut.
Dilansir dari sumber kebudayaan, Kuntulan dikembangkan oleh Maulana Ishak saat menyebarkan ajaran Islam di Kerajaan Blambangan.
Namun, penyebaran kesenian ini sempat terhenti setelah beliau diusir oleh penguasa setempat. Kuntulan kemudian kembali berkembang pada masa kekuasaan Kesultanan Mataram pada abad ke-17.
Dikutip dari sumber tersebut, perkembangan Kuntulan seiring dengan semakin diterimanya Islam oleh masyarakat Blambangan.
Dengan demikian, Kuntulan tidak hanya menjadi kesenian, tetapi juga bagian dari sejarah penyebaran agama di Banyuwangi.
Baca juga: Mengenal Tari Terbang Bandung, Kesenian Unik Pasuruan yang Padukan Drama, Tari dan Musik Religi
Gerakan dan Musik Pengiring
Tari Kuntulan memiliki ciri khas pada gerakan dan musik pengiringnya. Gerakan dalam tarian ini relatif sederhana, namun tetap dinamis dan menarik.
Tari Kuntulan Banyuwangi
Irama Hadrah Khas Osing
tarian tradisional khas Banyuwangi
Festival Budaya Banyuwangi
Festival Kuntulan Caruk
Festival Gandrung Sewu Banyuwangi
Festival Gandrung Sewu
Jawa Timur
Kabupaten Banyuwangi
Suku Osing
suku osing banyuwangi
Tribun Jatim
Tradisi Banyuwangi
budaya Banyuwangi
TribunJatim.com
meaningful
Banyuwangi
Maulana Ishak
Blambangan
| Tradisi Keboan Aliyan di Banyuwangi, Ritual Tolak Bala Mirip Kerbau dan Syukuran Hasil Bumi |
|
|---|
| Tradisi Balap Gethek, Cara Unik Warga Karangdoro Banyuwangi Menjaga Kebersihan Sungai |
|
|---|
| Tradisi Distrikan Ranu Grati, Ritual Larung Sesaji ke Tengah Danau di Pasuruan Agar Rezeki Berlimpah |
|
|---|
| Tradisi Syukuran Warga Krian Sidoarjo Hadirkan Tumpeng Tempe Raksasa sebagai Ikon |
|
|---|
| Tradisi Ngarak Jolen Lumajang, Filosofi Ojo Lali dalam Ritual Berebut Berkah Hasil Bumi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tari-Kuntulan.jpg)