Konflik AS–Iran Ancam Ekonomi Jatim, Kadin: Harga Kedelai dan Energi Bisa Melonjak

Kadin Jatim mengingatkan bahwa dampak konflik geopolitik global tersebut dapat menjalar melalui kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar

Tayang:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Sri Handi Lestari
CEPAT DAN TERUKUR  - Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto. Dia mengungkapkan dengan adanya perang di Timur Tengah berpotensi untuk memberi dampak pada ekonomi Jatim sehingga perlu dilakukan langkah yang cepat dan terukur agar tidak memberi dampak yang mendalam. 

Ringkasan Berita:
  • Konflik AS–Iran berpotensi menaikkan harga minyak, ongkos logistik, dan menekan nilai tukar rupiah.
  • Industri tempe dan tahu di Jatim terancam karena ketergantungan impor kedelai AS.
  • Kadin Jatim dorong langkah cepat: buffer stock kedelai, diversifikasi impor, dan penguatan daya saing ekspor.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sri Handi Lestarie

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang meluas ke kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi memberi tekanan serius terhadap perekonomian Jawa Timur (Jatim).

Kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, hingga lonjakan biaya logistik internasional menjadi risiko nyata yang perlu diantisipasi.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim mengingatkan bahwa dampak konflik geopolitik global tersebut dapat menjalar melalui kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, hingga melonjaknya biaya logistik internasional.

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa sebagai salah satu motor ekonomi nasional, Jatim perlu merespons dinamika global ini secara cepat dan terukur agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi daerah.

Baca juga: Timur Tengah Memanas: Kedubes AS di Riyadh Diserang Drone, Iran Ancam Tutup Selat Hormuz

Ancaman dari Selat Hormuz dan Harga Minyak Dunia

“Dampak utama konflik Timur Tengah terhadap Jatim setidaknya datang dari dua arah, yakni hubungan dagang langsung dengan kawasan tersebut serta efek berantai melalui kenaikan harga minyak dunia dan gangguan sistem perdagangan global,” kata Adik, Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, kawasan yang sangat sensitif terhadap konflik. Ketegangan yang meningkat berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan premi asuransi pelayaran internasional, yang pada akhirnya berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang, termasuk ke Indonesia.

Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Bahlil Peringatkan soal Stok Minyak RI, Bakal Bertahan sampai Lebaran?

Tekanan paling nyata, ada potensi muncul di sektor pangan berbasis impor, terutama kedelai. Indonesia hingga kini masih mengimpor sekitar 2,5–3 juta ton kedelai per tahun, dengan nilai impor dari Amerika Serikat yang mencapai lebih dari US$ 1 miliar.

"Jatim sebagai sentra industri tempe dan tahu nasional sangat bergantung pada pasokan tersebut," ujar Adik.

Kenaikan harga minyak dan ongkos pengiriman diperkirakan akan meningkatkan landed cost kedelai. Risiko semakin besar jika kondisi ini dibarengi pelemahan rupiah akibat sentimen risk-off global.

“Pelaku UMKM tempe dan tahu beroperasi dengan margin yang sangat tipis. Jika harga kedelai melonjak, opsi yang tersisa bisa berupa kenaikan harga jual, penyusutan ukuran produk, atau bahkan penghentian produksi sementara,” ungkap Adik.
Selain untuk pangan, kedelai juga menjadi bahan baku penting industri pakan ternak melalui bungkil kedelai. Kenaikan harga pakan dikhawatirkan menular ke harga ayam dan telur, yang berpotensi mendorong inflasi pangan di tingkat daerah.

Biaya Energi Ancam Daya Saing Ekspor

Dari sisi perdagangan luar negeri, Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri, Tommy Kaihatu, menyebutkan bahwa kinerja ekspor Jatim saat ini masih tergolong solid.

“Nilai ekspor Jatim mencapai sekitar USD 30 miliar dengan surplus perdagangan lebih dari USD 800 juta, dan sekitar 10 persen di antaranya ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah,” ujar Tommy.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa struktur ekspor Jatim yang didominasi produk manufaktur, agroindustri, dan industri pengolahan sangat sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan logistik.

“Eskalasi konflik berpotensi menaikkan biaya produksi industri padat energi, tarif pengiriman kontainer, serta asuransi ekspor. Jika kontrak ekspor bersifat fixed price, margin eksportir bisa tergerus. Di sisi lain, ketidakpastian global juga dapat menekan permintaan di pasar tujuan ekspor,” jelasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved