Tradisi dan Budaya di Jatim
Manten Kucing Tulungagung, Tradisi Unik Minta Hujan yang Sarat Nilai Budaya
Dari kisah kemarau panjang, Manten Kucing kini jadi identitas budaya Tulungagung. Tradisi memandikan kucing di Telaga Coban ini bukan sekadar ritual.
Penulis: Septadera Candra Purnama | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Manten Kucing adalah ritual khas Desa Pelem, Tulungagung, untuk memohon hujan dengan memandikan sepasang kucing di Telaga Coban, berawal dari kisah kemarau panjang pada 1926–1928.
- Ritual ini diawali kirab kucing, prosesi ngedus (memandikan) di telaga, hingga pagelaran seni seperti Tiban. Istilah “manten” bukan berarti menikahkan kucing, melainkan arak-arakan kucing menuju telaga.
- Selain sakral, tradisi ini juga dikemas sebagai festival budaya dan aset wisata, tanpa meninggalkan nilai moralnya.
TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memiliki tradisi unik yang telah diwariskan turun-temurun, yakni Manten Kucing.
Ritual ini dikenal sebagai upacara adat untuk memohon turunnya hujan saat musim kemarau panjang
Selain itu, tradisi ini sekaligus menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat.
Diketahui, Manten Kucing merupakan tradisi meminta hujan dengan cara memandikan sepasang kucing jantan dan betina di Telaga Coban.
Meski terdengar unik, ritual ini sarat makna dan nilai budaya.
Sejarah Manten Kucing: Berawal dari Kemarau Panjang
Konon, tradisi ini bermula dari peristiwa kemarau panjang yang melanda Desa Pelem sekitar tahun 1928.
Sawah dan sumber air mengering, membuat warga kesulitan mendapat air.
Dikutip dari surabaya.kompas.com, pemimpin desa bernama Eyang Sangkrah melakukan berbagai upaya spiritual.
Ketika berbagai ritual tak kunjung mendatangkan hujan, ia membawa seekor kucing Condromowo (berbulu tiga warna) ke Telaga Coban.
Tak lama setelah kucing tersebut bermain air dan dimandikan, hujan deras pun turun mengguyur desa.
Peristiwa tersebut kemudian diyakini warga sebagai pertanda spiritual.
Sejak saat itu, ritual memandikan kucing di Telaga Coban dilakukan setiap kali kemarau panjang melanda.
Sementara itu versi lain menyebutkan, pada masa Demang Sutomejo tahun 1926, Desa Palem kembali mengalami kekeringan.
Diceritakan, Demang Sutomejo mendapat wangsit untuk memandikan dua ekor kucing Condromowo di Telaga Coban.
Manten Kucing
Tradisi Manten Kucing
Tradisi Tulungagung
ritual minta hujan
Desa Pelem
Kecamatan Campurdarat
Tulungagung
TribunJatim.com
Tribun Jatim
tradisi manten kucing di Tulungagung
Telaga Coban
| Topeng Jatiduwur Jombang, Warisan Majapahit untuk Hiburan sekaligus Pemenuhan Nazar dan Ruwatan |
|
|---|
| Badut Sinampurno Pacitan, Tradisi Ruwatan Unik Penolak Bala dan Penyucian Diri |
|
|---|
| Tradisi Riyaya Unduh-Unduh Mojowarno Jombang, Harmoni Syukur Panen dan Toleransi Lintas Agama |
|
|---|
| Mengenal Tari Banjar Kemuning, Tarian Khas Sidoarjo yang Gambarkan Ketegaran Istri Nelayan |
|
|---|
| Kisah di Balik Tari Boran, Tarian Khas Lamongan yang Angkat Perjuangan Penjual Nasi Tradisional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tradisi-Manten-Kucing-Tulungagung-sebagai-Ritual-Minta-Hujan.jpg)