Tradisi dan Budaya di Jatim

Badut Sinampurno Pacitan, Tradisi Ruwatan Unik Penolak Bala dan Penyucian Diri

Badut Sinampurno, tradisi ruwatan khas Pacitan, memadukan seni dan ritual sakral sebagai simbol penolak bala dan harmoni masyarakat.

Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Dok. WBTB Jatim
BADUT SINAMPURNO PACITAN - Badut Sinampurno adalah tradisi ruwatan adat yang berasal dari Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tradisi ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk menolak bala dan gangguan makhluk halus. 

Ringkasan Berita:
  • Badut Sinampurno merupakan tradisi ruwatan turun-temurun dari Desa Ploso, Pacitan, yang dipercaya sebagai ritual penolak bala dan penyucian diri.
  • Prosesi menggabungkan seni pertunjukan, gamelan, mantra, serta sesaji seperti tumpeng dan ingkung sebagai simbol doa keselamatan dan keberkahan.
  • Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2020, tradisi ini terus dilestarikan melalui festival, edukasi budaya, dan keterlibatan generasi muda.

 

TRIBUNJATIM.COM – Tradisi Badut Sinampurno menjadi salah satu warisan budaya khas Kabupaten Pacitan yang sarat nilai spiritual dan kearifan lokal. 

Tidak sekadar pertunjukan, tradisi ini dipercaya sebagai sarana ruwatan atau ritual penolak bala yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Badut Sinampurno merupakan perpaduan antara seni pertunjukan, ritual adat, dan doa-doa spiritual yang bertujuan memohon keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.

Sebagai gambaran umum, tradisi ini biasa digelar dalam berbagai momen penting seperti bersih desa, pernikahan, khitanan, hingga saat terjadi wabah penyakit. 

Prosesi ruwatan ini melibatkan tokoh adat, iringan gamelan, hingga penggunaan sesaji sebagai simbol harapan akan keberkahan.

Sejarah dan Asal-usul Badut Sinampurno

Dilansir dari berbagai sumber budaya, Badut Sinampurno telah ada sejak awal abad ke-20, bahkan diperkirakan telah diwariskan lebih dari sepuluh generasi.

Tradisi ini tumbuh dan berkembang di Desa Ploso, yang dikenal sebagai pusat pelestarian budaya tersebut.

Dikutip dari sumber sejarah lokal, sosok yang dikenal sebagai perintis tradisi ini adalah Mbah Jayaniman. 

Ia menjadi tokoh penting yang mewariskan simbol utama berupa kupluk atau penutup kepala khas yang diyakini memiliki kekuatan spiritual.

Seiring waktu, tradisi ini diteruskan oleh generasi berikutnya seperti Mbah Kanjeng Kendang hingga Saidi. 

Rantai pewarisan ini menunjukkan bahwa Badut Sinampurno tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari garis budaya yang dijaga secara turun-temurun.

Usia tradisi ini bahkan diperkirakan mencapai lebih dari satu abad. 

Hal ini menjadikannya sebagai salah satu warisan budaya yang memiliki nilai historis tinggi di Pacitan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved