Tradisi dan Budaya di Jatim
Mengenal Tradisi Rebo Wekasan Gresik: Sejarah, Prosesi, dan Makna Ritual Rabu Terakhir Bulan Safar
Berawal dari penemuan sumber air pada masa Sunan Giri, tradisi Rebo Wekasan di Gresik kini menjadi ritual doa, syukur, dan festival budaya masyarakat.
Penulis: Septadera Candra Purnama | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Rebo Wekasan adalah tradisi masyarakat Desa Suci, Gresik, yang digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar sebagai doa bersama, ungkapan syukur, dan permohonan perlindungan dari musibah.
- Tradisi ini berawal dari kisah pencarian sumber air oleh Syeikh Jamaluddin Malik atas perintah Sunan Giri, yang kemudian dilestarikan oleh masyarakat.
- Perayaannya meliputi doa bersama, mandi di telaga, silaturahmi warga, serta pembagian kuliner khas Lontong Bumbu Ladan sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Gresik, Jawa Timur, memiliki tradisi unik yang digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah, yaitu Rebo Wekasan.
Tradisi ini dilaksanakan masyarakat Desa Suci, Kecamatan Manyar, sebagai bentuk doa bersama, rasa syukur, sekaligus upaya memohon perlindungan dari berbagai musibah.
Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang memadukan nilai budaya Jawa dengan ajaran Islam.
Berbagai rangkaian kegiatan digelar dalam perayaan ini, mulai dari doa bersama, mandi di telaga, hingga tradisi kuliner khas yang menyambut para pengunjung.
Asal-Usul Tradisi Rebo Wekasan
Tradisi Rebo Wekasan memiliki kaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di wilayah Gresik.
Dilansir dari disparekrafbudpora.gresikkab.go.id, tradisi ini bermula ketika Sunan Giri memerintahkan salah satu santrinya untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah perbukitan yang berada di sekitar wilayah Giri.
Daerah yang dipilih saat itu adalah wilayah Desa Pelaman, sebuah kawasan bukit kapur yang dikenal tandus dan gersang.
Dalam upaya membantu masyarakat setempat, Sunan Giri menugaskan Syeikh Jamaluddin Malik untuk mencari sumber air yang dapat digunakan warga.
Setelah melakukan pencarian, akhirnya ditemukan sebuah sumber air yang jernih dan cukup besar.
Peristiwa tersebut terjadi tepat pada hari Rabu terakhir bulan Safar.
Sejak saat itulah masyarakat Desa Suci memperingati hari tersebut setiap tahun sebagai ungkapan syukur atas ditemukannya sumber air yang menyelamatkan mereka dari kekeringan.
Menurut catatan, perayaan Rebo Wekasan pertama kali dilaksanakan pada tahun 1403 Hijriah di Desa Suci.
Tradisi tersebut kemudian terus dilestarikan oleh masyarakat hingga menjadi agenda budaya tahunan.
Baca juga: Tradisi Ngetung Batih Trenggalek: Warisan Leluhur yang Sarat Doa dan Nilai Kekeluargaan
Kepercayaan tentang Bulan Safar
Rebo Wekasan
tradisi Rebo Wekasan
Asal-usul Rebo Wekasan
makna Rebo Wekasan
Rebo Wekasan di Gresik
Rabu terakhir di bulan Safar
Bulan Safar
Desa Suci
Kecamatan Manyar
Sunan Giri
Lontong Bumbu Ladan
Tradisi Gresik
Kabupaten Gresik
Gresik
Jawa Timur
Tribun Jatim
TribunJatim.com
| Topeng Jatiduwur Jombang, Warisan Majapahit untuk Hiburan sekaligus Pemenuhan Nazar dan Ruwatan |
|
|---|
| Badut Sinampurno Pacitan, Tradisi Ruwatan Unik Penolak Bala dan Penyucian Diri |
|
|---|
| Tradisi Riyaya Unduh-Unduh Mojowarno Jombang, Harmoni Syukur Panen dan Toleransi Lintas Agama |
|
|---|
| Mengenal Tari Banjar Kemuning, Tarian Khas Sidoarjo yang Gambarkan Ketegaran Istri Nelayan |
|
|---|
| Kisah di Balik Tari Boran, Tarian Khas Lamongan yang Angkat Perjuangan Penjual Nasi Tradisional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tradisi-Rebo-Wekasan-di-Gresik.jpg)