Tradisi dan Budaya di Jatim

Mengenal Tradisi Rebo Wekasan Gresik: Sejarah, Prosesi, dan Makna Ritual Rabu Terakhir Bulan Safar

Berawal dari penemuan sumber air pada masa Sunan Giri, tradisi Rebo Wekasan di Gresik kini menjadi ritual doa, syukur, dan festival budaya masyarakat.

Tayang:
disparekrafbudpora.gresikkab.go.id
TRADISI REBO WEKASAN - Tradisi di Desa Suci, Manyar, Gresik, ini merupakan warisan Sunan Giri (sekitar tahun 1483). Diperingati setiap Rabu terakhir bulan Safar sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa bersama untuk memohon perlindungan dari berbagai musibah. 

Dalam penanggalan Hijriah, bulan Safar merupakan bulan kedua setelah Muharram.

Namun dalam beberapa tradisi masyarakat, bulan ini kerap dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan.

Sebagaimana dilansir dari budaya-indonesia.org, pada masa lampau masyarakat Arab Jahiliyah menyebut bulan Safar sebagai bulan tasa’um, yaitu bulan yang dipercaya membawa berbagai kesialan atau musibah.

Pandangan tersebut kemudian berkembang di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.

Sebagian masyarakat Jawa juga mempercayai bahwa Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari yang rawan bencana.

Karena itulah, masyarakat Desa Suci mengadakan selamatan dan doa bersama pada hari tersebut sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Tuhan agar terhindar dari bala atau musibah.

Selain itu, tradisi ini juga dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan, khususnya terkait keberadaan sumber air yang dahulu ditemukan di wilayah tersebut.

Baca juga: Tradisi Malam Selawe Gresik, Dari Itikaf Warisan Sunan Giri Hingga Gerakkan Ekonomi Masyarakat

Prosesi Tradisi Rebo Wekasan

Pelaksanaan Rebo Wekasan biasanya berlangsung meriah dan melibatkan hampir seluruh masyarakat Desa Suci.

Tradisi ini tidak hanya bersifat ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan dan silaturahmi warga.

Beberapa rangkaian kegiatan dalam tradisi ini antara lain:

  • Doa dan Selamatan Bersama

Kegiatan utama dalam tradisi ini adalah doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama dan sesepuh desa.

Masyarakat berkumpul untuk melaksanakan doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan.

Doa ini dipanjatkan agar warga terhindar dari berbagai bencana serta diberi keberkahan dalam kehidupan.

Menurut cerita tutur masyarakat, pada hari Rabu terakhir bulan Safar Tuhan diyakini mengabulkan berbagai permohonan hamba-Nya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved