Tradisi dan Budaya di Jatim

Legenda Rara Anteng dan Jaka Seger di Balik Tradisi Yadnya Kasada Suku Tengger Bromo

Tradisi Yadnya Kasada di Gunung Bromo menyimpan legenda pengorbanan anak Rara Anteng dan Jaka Seger. Mengapa hasil bumi dilempar ke kawah?

Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Istimewa
TRADISI YADNYA KASADA - Masyarakat Tengger yang bermukim di kawasan Gunung Bromo Jawa Timur ketika akan merayakan upacara Yadnya Kasada pada 15 dan 16 Juni 2022. 

Ringkasan Berita:
  • Tradisi Yadnya Kasada merupakan ritual sakral masyarakat Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan kepada Sang Hyang Widhi.
  • Tradisi ini berawal dari legenda Rara Anteng dan Jaka Seger yang harus mengorbankan anak bungsu mereka setelah Gunung Bromo meletus.
  • Dalam prosesi Kasada, masyarakat membawa ongkek berisi hasil bumi yang didoakan di Pura Luhur Poten lalu dilempar ke kawah sebagai simbol persembahan dan rasa syukur.

 

TRIBUNJATIM.COM – Tradisi Yadnya Kasada atau yang juga dikenal sebagai Kasodo menjadi salah satu ritual adat paling sakral yang dilakukan masyarakat Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.

Upacara ini tidak hanya menjadi bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi, tetapi juga simbol rasa syukur serta doa keselamatan bagi masyarakat Tengger.

Setiap tahun, masyarakat Tengger dari berbagai desa di sekitar Gunung Bromo berkumpul untuk mengikuti rangkaian ritual yang berlangsung di lautan pasir hingga kawah gunung.

Tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.

Asal Usul Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Dilansir dari Gramedia.com, asal-usul Upacara Yadnya Kasada berkaitan erat dengan legenda pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Tengger.

Nama Tengger sendiri disebut berasal dari gabungan akhir nama keduanya, yaitu “teng” dari Rara Anteng dan “ger” dari Jaka Seger.

Kisah tersebut bermula ketika Rara Anteng yang merupakan putri Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit melarikan diri ke Pegunungan Tengger setelah keruntuhan Majapahit.

Ia kemudian diasuh oleh seorang pendeta bernama Resi Dadap Putih dan bertemu dengan Jaka Seger yang berasal dari Kediri.

Sebagaimana dijelaskan dalam legenda tersebut, pasangan ini menikah namun lama tidak dikaruniai anak.

Mereka akhirnya memohon kepada para dewa melalui meditasi di kawasan Gunung Bromo hingga akhirnya dikaruniai 25 orang anak.

Namun, pasangan tersebut pernah berjanji akan mengorbankan salah satu anaknya kepada para dewa.

Ketika janji itu tidak dipenuhi, Gunung Bromo meletus dan mengambil anak bungsu mereka, Raden Kesuma.

Dari peristiwa itulah muncul pesan gaib agar keturunan mereka setiap bulan Kasada mempersembahkan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo.

Baca juga: Tradisi Ngetung Batih Trenggalek: Warisan Leluhur yang Sarat Doa dan Nilai Kekeluargaan

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved