Tradisi dan Budaya di Jatim

Unik dan Bermakna, Ini Tradisi Manten Sapi di Pasuruan Jelang Idul Adha

Tradisi Manten Sapi di Pasuruan hadirkan sapi bak pengantin jelang Idul Adha, sarat makna penghormatan, syukur, dan kebersamaan.

Tayang:
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Kompas.com
TRADISI MANTEN SAPI - Manten Sapi Pasuruan adalah tradisi unik warga Pasuruan, Jawa Timur, menghias sapi kurban layaknya pengantin (dimandikan, dipakaikan kain putih, bunga, dan kalung) sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. 
Ringkasan Berita:
  • Manten Sapi adalah tradisi menghias hewan kurban seperti pengantin sebagai bentuk penghormatan menjelang Idul Adha.
  • Prosesi meliputi pemandian, penghiasan, hingga arak-arakan desa sambil membawa sembako untuk dibagikan.
  • Tradisi ini sarat makna religius, simbol kesucian, rasa syukur, serta memperkuat nilai gotong royong dan kepedulian sosial.

 

TRIBUNJATIM.COM – Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, memiliki tradisi unik yang selalu menarik perhatian, yakni Manten Sapi.

Tradisi ini menjadi salah satu kearifan lokal yang masih terus dilestarikan hingga kini.

Manten Sapi merupakan tradisi menghias hewan kurban layaknya pengantin sebelum disembelih.

Tidak hanya sekadar ritual budaya, tradisi ini juga sarat dengan nilai religius, sosial, serta filosofi kehidupan yang mendalam.

Tradisi Manten Sapi, Bentuk Penghormatan terhadap Hewan Kurban

Warga desa Watestai mengarak Manten Sapi menuju masjid Darul Falihin, Pasuruan.
Warga desa Watestai mengarak Manten Sapi menuju masjid Darul Falihin, Pasuruan. (Kompas.com)

Dikutip dari surabaya.kompas.com, Manten Sapi merupakan tradisi khas masyarakat Pasuruan yang dilakukan sehari sebelum Idul Adha. 

Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap hewan kurban yang akan disembelih.

Dalam pelaksanaannya, sapi yang akan dikurbankan dimandikan terlebih dahulu, kemudian dihias layaknya pengantin.

Sapi tersebut dibalut kain putih, kain kafan, hingga dikalungi bunga tujuh rupa. Selain itu, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, hewan kurban juga dilengkapi atribut seperti serban dan sajadah.

Penampilan sapi pun tampak cantik dan menarik, menyerupai pengantin yang sedang dipersiapkan menuju prosesi sakral.

Tradisi ini tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur serta penghormatan kepada makhluk hidup yang akan dijadikan kurban.

Baca juga: Mengenal Tradisi Ruwatan Murwakala Bojonegoro, Ritual Sakral Pembersihan Diri di Kayangan Api

Rangkaian Prosesi: Dari Pemandian hingga Arak-arakan

Prosesi Manten Sapi diawali dengan memandikan sapi menggunakan air yang dicampur bunga.

Hal ini dilakukan sebagai simbol penyucian sebelum hewan dikurbankan. Setelah itu, sapi dihias dengan berbagai atribut, mulai dari kain putih, bunga, hingga perlengkapan bernuansa religius.

Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai sumber, proses ini menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari tradisi.

Usai dirias, sapi kemudian diarak keliling desa oleh masyarakat. Arak-arakan ini biasanya diiringi oleh warga yang membawa berbagai bahan pangan seperti beras, minyak goreng, hingga bumbu dapur.

Menariknya, bahan pangan tersebut nantinya juga akan dibagikan kepada masyarakat kurang mampu bersama dengan daging kurban.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat.

Baca juga: Mengenal Tradisi Ambengan Khas Gresik usai Salat Idul Fitri, Wujud Syukur setelah Berpuasa Ramadan

Makna Filosofis di Balik Tradisi Manten Sapi

Sementara melansir budaya-indonesia.org, Manten Sapi memiliki makna sebagai simbol penghormatan terhadap hewan kurban yang telah menjadi bagian dari ibadah umat Islam.

Kain putih dan kain kafan yang digunakan melambangkan kesucian serta kesiapan dalam menjalankan perintah agama.

Hal ini juga menjadi pengingat bagi manusia untuk membersihkan hati sebelum berkurban.

Selain itu, dilansir dari berbagai sumber, tradisi ini juga mencerminkan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan.

Prosesi arak-arakan dan doa bersama menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan.

Tidak hanya itu, Manten Sapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan gotong royong.

Warga saling bekerja sama dalam menyiapkan prosesi hingga berbagi hasil kurban kepada sesama.

Baca juga: Tradisi Tompokan, Cara Warga Jember Patungan Sapi demi Hidangan Daging saat Lebaran

Tradisi Lokal yang Sarat Nilai Religi dan Sosial

Manten Sapi tidak hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga bagian dari syiar agama Islam. Tradisi ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih semangat dalam berkurban.

Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana komunikasi budaya untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.

Banyak warga yang merasa bangga dapat terus melestarikan tradisi ini setiap tahunnya. Sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga.

Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan dilakukan secara bersama-sama. 

Dengan berbagai nilai yang terkandung di dalamnya, Manten Sapi tidak hanya menjadi tradisi unik, tetapi juga simbol harmoni antara ajaran agama dan budaya lokal yang tetap hidup di tengah masyarakat Pasuruan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved