Tradisi dan Budaya di Jatim
Kethek Ogleng, Tarian Tradisional Unik Peniru Monyet yang Jadi Ikon Budaya Rakyat
Tari Kethek Ogleng menghadirkan gerak lucu kera dengan kisah Panji, jadi hiburan rakyat hingga ikon budaya di Jawa Timur dan Wonogiri.
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Kethek Ogleng adalah tarian tradisional yang meniru gerakan kera, berasal dari Sampung Ponorogo dan berkembang ke Pacitan serta Wonogiri.
- Tarian ini terinspirasi dari legenda Panji, khususnya kisah Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun.
- Selain hiburan rakyat, Kethek Ogleng kini menjadi ikon budaya dan warisan seni yang masih lestari hingga sekarang.
TRIBUNJATIM.COM - Kethek Ogleng merupakan salah satu kesenian tradisional yang unik dan menghibur dari Jawa.
Tarian ini dikenal karena gerakannya yang meniru tingkah laku kera dengan gaya lincah, lucu, dan atraktif.
Kethek Ogleng berasal dari wilayah Sampung, Ponorogo, yang kemudian menyebar ke Pacitan, Wonogiri, hingga sebagian daerah Yogyakarta.
Dalam pertunjukannya, penari menampilkan karakter kera putih dengan ekspresi jenaka yang mengundang tawa penonton.
Selain sebagai hiburan, Kethek Ogleng juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat agraris. Kesenian ini berkembang sebagai bagian dari tradisi rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
Hingga kini, Kethek Ogleng masih sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti hajatan, festival budaya, hingga perayaan daerah sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.
Gerakan Unik dan Interaktif yang Menghibur Penonton
Kethek Ogleng menampilkan gerakan yang menirukan perilaku kera, khususnya sosok kera putih yang lincah dan energik. Gerakan tari ini tidak kaku, melainkan fleksibel dan penuh improvisasi.
Penari bahkan kerap berinteraksi langsung dengan penonton, seperti mengajak menari atau bercanda di tengah pertunjukan.
Hal ini menjadi daya tarik utama yang membuat Kethek Ogleng berbeda dari tari tradisional lainnya.
Sebagaimana dijelaskan dalam kajian seni, iringan musik dalam tarian ini menggunakan gamelan Jawa dengan gending khas yang menghasilkan bunyi “ogleng, ogleng, ogleng”. Dari bunyi inilah nama Kethek Ogleng berasal.
Selain itu, dalam beberapa pertunjukan juga ditampilkan unsur akrobatik seperti berjalan di atas tali, yang semakin menambah unsur hiburan dan ketegangan dalam pementasan.
Baca juga: Entas-Entas, Tradisi Sakral Penyucian Roh Leluhur Masyarakat SukuTengger
Berakar dari Sejarah dan Berkembang di Berbagai Daerah
Kethek Ogleng awalnya diciptakan oleh masyarakat Sampung sebagai hiburan bagi Raja Mataram yang sedang mengungsi akibat peperangan.
Tarian ini berhasil menghibur sang raja dengan gerakan lucu yang meniru monyet. Kemudian, kesenian ini berkembang di Pacitan sekitar tahun 1960-an melalui tokoh bernama Sutiman.
Ia terinspirasi dari gerakan kera di hutan dan mengemasnya menjadi sebuah tarian yang menarik.
Selanjutnya, Kethek Ogleng menyebar ke Wonogiri pada tahun 1967 oleh Darjino dan disempurnakan oleh Suwiryo.
Di daerah ini, tarian tersebut berkembang pesat hingga menjadi ikon budaya.
Tidak hanya itu, Kethek Ogleng juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, terutama sebagai hiburan pasca panen, acara hajatan, hingga kegiatan sosial lainnya.
Baca juga: Serunya Tradisi Udik-udikan Rayakan Lebaran Ketupat di Suci Gresik, Warga Berebut Uang Koin
Mengangkat Legenda Panji sebagai Latar Cerita
Dikutip dari kabudayan.id, Kethek Ogleng tidak lepas dari legenda Panji yang terkenal, yakni kisah cinta antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmarabangun.
Cerita ini menjadi dasar alur dalam beberapa pertunjukan Kethek Ogleng. Dalam kisah tersebut, Dewi Sekartaji yang menyamar sebagai Endang Rara Tompe bertemu dengan sosok kera yang ternyata merupakan jelmaan tokoh lain dalam cerita.
Interaksi mereka menjadi bagian penting dalam dramatari. Sebagaimana dijelaskan dalam sumber budaya, konflik dan perjalanan tokoh-tokoh dalam cerita Panji menghadirkan nilai moral tentang cinta, kesetiaan, dan perjuangan.
Pada akhir cerita, identitas para tokoh terungkap dan mereka kembali ke kerajaan untuk hidup bahagia. Kisah ini kemudian dikemas dalam bentuk tari yang menghibur sekaligus sarat makna.
Baca juga: Festival Kupatan 2026 Lamongan, Tradisi Lebaran yang Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Warga
Menjadi Ikon Budaya dan Warisan yang Terus Dilestarikan
Dilansir dari wonogirikab.go.id, Kethek Ogleng telah menjadi ikon budaya di beberapa wilayah, khususnya Wonogiri. Tarian ini bahkan dijadikan atraksi wisata yang menarik bagi pengunjung.
Selain itu, Kethek Ogleng juga telah tercatat sebagai warisan budaya takbenda yang masih bertahan hingga sekarang. Keberadaannya menunjukkan kuatnya tradisi seni rakyat di tengah perkembangan zaman.
Sebagaimana dikutip dari berbagai catatan seni, pertunjukan ini masih rutin digelar dalam berbagai acara, termasuk festival dan peringatan hari besar daerah.
Pelestarian Kethek Ogleng tidak hanya menjadi tanggung jawab seniman, tetapi juga masyarakat luas agar kesenian tradisional ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Kethek Ogleng
Ikon Budaya Rakyat
Sampung
Ponorogo
Pacitan
Wonogiri
Yogyakarta
Jawa Timur
Tribun Jatim
TribunJatim.com
meaningful
| Grebeg Tengger Tirto Aji, Tradisi Pengambilan Air Suci yang Jadi Simbol Syukur dan Harmoni Alam |
|
|---|
| Tradisi Mbabar Mbubur Suro Malang, Ritual Sakral Menyambut Tahun Baru Islam di Makam Ki Ageng Gribig |
|
|---|
| Meriahnya Tradisi Tumpengan Manggis di Jombang, Dari Kirab hingga Rebutan Dua Ton Buah Gratis |
|
|---|
| Tradisi Kebur Ubalan Kediri, Ritual Sakral Simbol Kemakmuran Desa |
|
|---|
| Mengenal Kesenian Jaranan Kediri, Dari Legenda Dewi Songgolangit hingga Atraksi Kesurupan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tari-Kethek-Ogleng.jpg)