Tradisi dan Budaya di Jatim

Tradisi Baritan, Ritual Sakral Tolak Bala Khas Pacitan di Bulan Suro

Baritan, tradisi tolak bala khas Pacitan, hadir tiap bulan Suro dengan ritual sakral, sesaji, dan harapan terhindar dari bencana.

Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Dok. jadesta.kemenpar.go.id
TRADISI BARITAN PACITAN - Tradisi Baritan adalah sebuah upacara adat yang diadakan di padukuhan Godeg Padesan Jetak, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan. Upacara ini diadakan di Bulan Suro sebagai bagian dari usaha untuk mengatasi masalah kehadiran makhluk misterius bernama “Braholo” atau “Pagebluk” yang telah menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan di tengah masyarakat. 

Ringkasan Berita:
  • Baritan merupakan tradisi tahunan bulan Suro di Pacitan sebagai ritual tolak bala untuk memohon perlindungan dari bencana dan pagebluk.
  • Prosesi meliputi ziarah, kirab, penyembelihan kambing kendhit, hingga penguburan kepala kambing di perempatan desa sebagai simbol penolak bala.
  • Selain sakral, Baritan juga dimeriahkan Malam Janggrung dan terus dilestarikan sebagai warisan budaya sejak abad ke-19.

 

TRIBUNJATIM.COM – Tradisi adat di Kabupaten Pacitan terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, salah satunya adalah Upacara Adat Baritan yang dikenal sebagai ritual tolak bala dan permohonan keselamatan.

Baritan merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Suro atau Muharram.

Upacara ini dipercaya sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon perlindungan kepada Tuhan dari berbagai bencana, wabah penyakit, maupun gangguan makhluk tak kasat mata.

Iistilah Baritan berasal dari kata wiridan yang berarti permohonan doa atau perlindungan.

Seiring waktu, pengaruh dialek lokal mengubah penyebutannya menjadi Baritan yang kini dikenal luas oleh masyarakat.

Tradisi ini hingga kini masih dilestarikan di sejumlah wilayah di Pacitan, seperti Kecamatan Tulakan hingga Kebonagung, dengan berbagai rangkaian ritual yang sarat makna simbolis dan spiritual.

Makna Baritan sebagai Ritual Tolak Bala

UPACARA BARITAN - Upacara adat Baritan berasal dari Dusun Wati, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung. Upacara adat ini merupakan upacara tolak bala di saat ada bencana atau wabah penyakit.
UPACARA BARITAN - Upacara adat Baritan berasal dari Dusun Wati, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung. Upacara adat ini merupakan upacara tolak bala di saat ada bencana atau wabah penyakit. (kikomunal-indonesia.dgip.go.id)

Baritan bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk keyakinan masyarakat dalam menjaga keseimbangan hidup.

Dikutip dari jadesta.kemenpar.go.id, upacara ini dilaksanakan untuk mengatasi gangguan makhluk misterius yang dikenal dengan sebutan “Braholo” atau pagebluk.

Keberadaan Braholo dipercaya membawa wabah penyakit dan ketakutan di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, Baritan dilakukan sebagai upaya spiritual untuk mengusir energi negatif tersebut agar kehidupan kembali normal.

Dalam pelaksanaannya masyarakat menggelar sarasehan atau musyawarah untuk menentukan tembung wadal atau tumbal yang akan digunakan dalam ritual.

Ritual ini menjadi simbol penyerahan diri kepada Tuhan sekaligus usaha kolektif masyarakat dalam menghadapi ancaman yang tidak terlihat secara kasat mata.

Baca juga: Pesta Kembang Api Meriahkan Tradisi Petik Laut Nelayan Kalirejo, Ungkapan Syukur Warga Pesisir

Rangkaian Prosesi dan Ritual Sakral

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved